Mungkin Jim salah mengerti yang kumaksud.
Sepanjang hari minggu sepulang cetya, orang yang ketemu saya selalu bilang, weh kamu tidak hadir yah lihat dewi marcel, hebat loh sampai pindah agama atau ada kata kata " lihat tuh, mereka sudah jadi Buddhist dan lain sebagainya.
Mayoritas mempunyai suatu kesenangan seolah olah dapat durian jatuh.Bagiku itu sjah sjah saja. Yang ingin kusampaikan adalah jika sebagian orang orang tetap berpikir seperti itu, tar klo tiba tiba mereka pindah lagi n bukan buddhist. apakah org org yg tadinya mengelu-elukan bisa menerima kenyataan tsb. Itu saja sih. Klo bisa ya syukur, ini menandakan kematangan pikiran seseorang dalam memahami Dhamma.
Menurutku pribadi, "membandingkan" itu perlu, dan arti membandingkan tidak selalu harus negatif. kita masih hidup dalam kebenaran relatif, tanpa membandingkan dengan tujuan yang positif, kita tidak akan
pernah maju.
seorang atlet, seorang seniman, seorang dokter, dll, dengan motivasi masing masing selalu membandingkan apa yang sudah dicapainya kemarin dan hari ini. untuk apa? jelas, jika seorang aktris, tentu dia ingin film yg sekarang jauh lebih baik ditonton lebih bermutu dari yang sebelumnya. Seorang dokter, melakukan penelitian dan selalu mengamati hasil penelitiannya, juga termasuk sudah membandingkan formula/ tehnik yang dia gunakan agar kelak pengetahuan yang dia dapatkan bisa menolong jiwa orang lain.
Ketika aku kerja dikantor, bosku mencatat, melihat, mengamati, dan menilai pekerjaanku. Bila akhir tahun tiba, aku akan dinilai. Apakah aku pantas untuk mendapatkan promosi gaji atau jabatan lebih tinggi. Kenapa harus begitu? Karena jika hasil yang kucapai lebih baik dari tahun lalu berarti aku mampu diberi tanggung jawab lebih bukan dan menilai hasil yang kucapai tahun ini dan tahun kemarin, itu juga
termasuk membandingkan bukan? apakah itu tidak perlu ????
Jelas perlu, " perbandingan " perlu dilakukan, jika tidak bagaimana aku tahu kalau saat ini aku lebih baik dari tadi. Jika tidak lebih baik, tentunya harus diperbaiki.
Waktu aku menulis ttg org buddhist yan mualaf, itu tidak berarti aku menjelekkan orang buddhist yg mualaf atau orang muslim itu sendiri (semua kembali pada bagaimana pikiran kita ketika memahami makna kalimat saja). Yg ingin kusampaikan adalah umat buddhis jadilah dirimu sendiri.
Be good be happy,
Jimmy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
biasa aja lagi, si marcel dan dewi pindah agama itu juga kemauan
mereka sendiri ngak ada paksaan.Kalau si marcel dan dewi mau pindah
agama suatu saat juga tidak apa2. kenapa kita harus bangga, baru 2
org yg pindah agama. di agama lain, lbh byk artisnya misalnya ari
wibowo, agness monica, roger danuarta,group dewa,tamara B,dll.
daripada pusingin si marcel dan dewi pindah ke buddhist utk apa.
mereka juga ngak pusingin kita org.yg saya liat, dewi lestari ini
skrg sering berkeliling daerah utk membawakan dhammadesana. yah
biarkan saja kalo si dewi sendiri yang mau, lagian capek tiap minggu
di suruh ceramah dan jalan bolak balik.
kita jangan selalu banding2kan agama buddha, kristen atau islam.
masing2 punya konsep keyakinan sendiri2. Tidak semua org bisa
mempunyai pikiran dan keyakinan yang sama. Sbg umat buddha, kita
jalan masing2 jadi kita tidak perlu mencela satu sama yang lain.
--- In [EMAIL PROTECTED]ups.com , Liberson <[EMAIL PROTECTED]..> wrote:
>
> Memang sangat menyedihkan sekali ketika melihat teman-teman saya
ikut
> mengelu-elukan
> pindahnya Marcel and Dewi ke agama Buddha.
>
>
> sungguh merupakan hal yang baik karena ada sdr safira yang mewakili
> kegundahan hati dari orang2 seperti saya .
>
>
>
> On 10/6/06, safira luiz <safira_luiz@...> wrote:
> >
> > Dulu rumahku dekat dengan langgar (tpt ibadah umat muslim),
ketika ada
> > umat Buddha atau kristen yang pindah agama dan memilih islam
sebagai
> > agamanya, maka orang tersebut seperti selebritis. Ditanyai,
dimintai
> > pendapatnya : kenapa memilih islam, disuruh buat kesaksian,
dielu elukan dan
> > dijadikan sebagai contoh yang baik.
> >
> > Hari ini, tepatnya saat ini saya melihat bahwa kehadiran Dewi
dan Marcell
> > yang mulai melirik Buddhism pun, maaf, digembar gemborkan
banget. hebot gitu
> > loh. bangga ya.
> >
> > Di hati kecilku, jujur aku mengatakan bahwa pemandangan saat ini
sama saja
> > seperti pemandangan waktu aku melihat orang lain jadi mualaf.
aku jadi
> > bertanya tanya, Inikah umat Buddha? kok ternyata tidak beda ya
dengan umat
> > lain. Tidakkah kita memberi waktu untuk mereka mendalami lebih
lanjut
> > tentang Buddhism yang mungkin belum mereka pahami seluruhnya
(konsep).
> > Tidakkah kita berpikir untuk memberi ruang kepada mereka untuk
bernafas.
> > Tidakkah kita berpikir, apakah mereka sudah siap mental untuk
dipublikasikan
> > sedemikian rupa? Tidakkah kita berpikir bahwa semua ini adalah
anicca,
> > bagaimana jika bulan depan mereka mengatakan bahwa kami memilih
menjadi
> > katolik kembali karena ini panggilan jiwa.
> >
> > A
> >
> > Mungkin di milis ini, aku satu satunya orang yang punya
pemikiran yang
> > bertolak belakang. so, sorry jika pendapatku membuat kalian
kecewa.
> >
> >
> >
> >
> >
> > **
> >
>
>
> --
> Rien ne se cree, rien ne se perd
>
> --------------------- --------- --------- --------- --------- -
> "Jika kau benar-benar menginginkan sesuatu, segenap alam semesta
akan
> bersatu membantumu mencapainya"
> --------------------- --------- --------- --------- --------- -
>
Get your own web address for just $1.99/1st yr. We'll help. Yahoo! Small Business. __._,_.___
** Menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi SAAT INI di dalam diri saya maupun di luar diri saya **
** Kami kembali tuk hidup dalam kekinian yang menakjubkan; tuk menanami taman hati kami benih-benih kebajikan; serta membuat fondasi pengertian dan cinta kasih yang kokoh **
** Kami mengikuti jalur perhatian penuh, latihan tuk melihat dan memahami secara mendalam agar mampu melihat hakikat segala sesuatu, sehingga terbebas dari belenggu kelahiran dan kematian **
** Kami belajar tuk: berbicara dengan penuh cinta kasih, menjadi penuh welas asih, menjadi perhatian terhadap pihak-pihak lain pagi ataupun sore hari, membawa akar-akar suka cita ke banyak tempat, membantu sesama melepaskan kesedihan; dan tuk menanggapi dengan penuh rasa syukur kebajikan orang tua, para guru, serta sahabat-sahabat kami **
Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe
__,_._,___
