Humaniora                           Selasa, 09 Januari 2007                   
  Lumpur Sidoarjo
Berhenti Setelah Setengah Abad 
  
  Jakarta, kompas - Tim peneliti Jepang yang melakukan survei berkaitan dengan 
semburan lumpur di Sidoarjo sejak 27 Desember 2006, melaporkan hasilnya di 
Jakarta, Senin (8/1). 
   
  Seperti beberapa pakar terdahulu, baik dari Indonesia maupun Rusia dan 
Italia, tim Jepang pun, seperti dikemukakan Yamamoto Hiroyuki—ahli hidrogeologi 
lulusan Universitas Shinsyu— lumpur Sidoarjo merupakan fenomena alam sebagai 
bentuk aktivitas vulkanis. 
   
  Kekuatan alam yang besar ini tidak mungkin dihentikan oleh rekayasa manusia. 
"Semburan lumpur ini diperkirakan baru terhenti setelah setengah abad," ujar 
Yamamoto, yang bersama timnya hingga Sabtu (6/1) melakukan survei di beberapa 
lokasi, yaitu Ngawi, Mojokerto, dan selatan Surabaya, hingga ke Jawa Tengah, 
yaitu Sangiran dan lembah Bengawan Solo. Tim peneliti itu berasal dari 
Universitas di Osaka, Kobe, dan Kyoto. 
   
  Penelitian meliputi profil kegempaan, kondisi air tanah, perubahan permukaan 
tanah, dan menghimpun data eksplorasi minyak. Dari data yang ada, Yamamoto 
menyimpulkan semburan ini ada kaitannya dengan jalur patahan yang melintasi 
Porong. 
   
  Sistem zona patahan Watukosek itu membentang dari pantai selatan Jawa Timur 
melewati kompleks Gunung Penanggungan hingga ke Watukosek, panjangnya 15 
kilometer. Patahan ini terus berlanjut melintasi Porong, Sidoarjo, Pulungan, 
Gunung Anjar dan Surabaya—dekat Bandara Juanda, bahkan menyeberang Selat Madura 
hingga ke Bangkalan. Panjang patahan itu diperkirakan lebih dari 50 kilometer. 
   
  
  Indikasi adanya patahan itu berupa semburan lumpur kadang disertai dengan 
minyak dan gas dalam skala kecil hingga membentuk gundukan, misalnya di Gunung 
Anjar, Surabaya, serta Bangkalan Madura. 
   
  Yamamoto menjelaskan, setengah kawasan Jawa Timur mulai dari pantai barat 
hingga ke Rembang Jawa Tengah terkenal di dunia sebagai daerah kaya cadangan 
minyak dan gas. 
   
  Fenomena semburan di sepanjang patahan itu terjadi sebagai dampak aktivitas 
tektonik, yaitu desakan Lempeng Australia terhadap Lempeng Eurasia dengan tipe 
subduksi. 
   
  Semburan lumpur di dekat Sumur Banjar Panji 1, ujar Yamamoto, yang menyebut 
dirinya pakar yang independen, tidak ada kaitannya dengan aktivitas di sumur 
itu. Semburan lumpur itu akibat gempa tektonik tersebut. 
   
  Dampak desakan lempeng ini ditunjukkan oleh pergerakan sisi barat patahan ke 
barat laut, lanjut Yamamoto, yang pernah terlibat penelitian geologi kuarter di 
Gunung Lawu tahun 1992. Ketika itu ia ditunjuk sebagai konsultan dari Japan 
Indonesia Coope- ration Agency (JICA). 
  Gerakan patahan itu, lanjut dia, ditunjukkan oleh berbeloknya Sungai Porong 
ke arah barat laut sejajar patahan, kemudian berbelok ke barat melewati kota 
Porong. Proses geologis ini berlangsung ribuan tahun. 
   
  Lebih lanjut, ujarnya, semburan lumpur di beberapa lokasi sepanjang jalur 
patahan, ada kemungkinan berhenti, oleh aktivitas tektonik. Hal ini tergantung 
dari kondisi geologi dan pola elevasi kerak bumi. (YUN) 

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke