Kompas, Senin, 29 Januari 2007                                                  
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                         
 Berpacu dengan Waktu 
 
Tamrin Amal Tomagola  
Elite politik negeri ini sungguh tak bernurani. Ketika rakyat kecil berpacu 
dengan waktu untuk menyelamatkan keluarganya dari bencana longsor, hilang di 
udara, terbenam di dasar laut, terbirit- birit oleh flu burung, para elite 
politik justru sibuk mengurus diri sendiri. 
Elite mendirikan partai (baru) yang tak jelas basis konstituennya. Elite 
kasak-kusuk dan berkomplot mengakhiri mandat yang diberikan rakyat, di Poso 
berebut wewenang keamanan, padahal yang diperebutkan proteksi dan proyek 
pembangunan rumah eks pengungsi. Yang paling licik, mengakali uang negara dalam 
bentuk rapel gaji melalui PP No 37/2006. 
Kesibukan elite ini jelas dalam rangka berpacu dengan waktu, menuju 2009.  
Tahun duka dan harapan  
Kali ini pergantian tahun penuh dengan kontradiksi. Sejak Desember 2006 hingga 
Januari 2007, sanubari kita diharu-biru dengan campur aduk "rasa-rasa sayu dan 
pengharapan" (Driyarkara dalam Karya Lengkap Driyarkara, suntingan Sudiarja 
dkk, 2006:25-28). Saat umat Nasrani harap-harap cemas memperingati kelahiran 
Sang Juru Selamat, kelompok etnis Tionghoa bersukacita dengan datangnya Tahun 
Baru Imlek, dan umat Islam bersiap memasuki awal Hijriah, ratusan nyawa rakyat 
direnggut paksa oleh bencana beruntun. Lahir dan mati, awal dan akhir seakan 
"bertukar tangkap dengan lepas" (Amir Hamzah, Padamu Djua, dalam HB Jassin, 
1962:34). 
Di satu pihak kita sedih atas penderitaan rakyat kecil dan kebobrokan nurani 
elite politik, di lain pihak tetap mempunyai harapan dan berupaya, tibanya 
masa-masa cerah menyejuki Tanah Air. Secara eksistensial-spiritual, semua ini 
mengantar kita pada kesadaran, setiap kita "ada dalam waktu, terkurung dalam 
waktu, tetapi mampu mengatasi waktu (transcendent)" (Driyarkara, ibid). 
Kemampuan transendental manusiawi inilah yang memungkinkan kita melakukan 
refleksi atas kehidupan—pribadi maupun bangsa—sambil berpacu dalam putaran 
waktu. Pada tingkat individu refleksi melahirkan (oto) biografi, sedangkan pada 
tingkat masyarakat menukilkan sejarah (history). Meski berbeda tingkat, 
biography and history (C Wright Mills, The Sociological Imagination, Oxford 
University Press, 1959) keduanya punya keterikatan yang saling menghadirkan 
(contingent). Keterkaitan ini terlihat saat kita menelaah biografi para 
pemimpin dan keterkaitan nya dengan sejarah bangsa tempat mereka berkiprah (C 
Wright Mills, The Power Elite, Oxford University Press, 1956). 
Jika kemampuan transendental ini digunakan untuk mencermati hubungan sejarah 
bangsa dengan kiprah para pemimpin yang pernah kita punyai, teramati beberapa 
kecenderungan menarik. 
Pertama, sejauh ini estafet kepemimpinan bangsa belum mampu menepati ikrar 
cinta yang setiap kali dilantunkan dalam lagu kebangsaan, "Di sanalah aku 
berdiri, jadi pandu ibuku… bangunlah jiwanya, bangunlah badannya". Depdiknas 
dan Depag yang mengurusi "jiwa bangsa" terpuruk dalam korupsi dan pungli. 
Dirjen Pajak, Departemen Perhubungan, Departemen Kimpraswil, dan Departemen 
Kesehatan yang diharapkan membangun "raga bangsa", setali tiga uang. Apalagi 
bila diukur dengan prinsip mulia dalam Pancasila, rapor kiprah pemimpin dan 
bangsa kian bertabur noktah merah. 
Kedua, biografi para pemimpin nasional lebih mencuat ke permukaan daripada 
biografi pemimpin lokal. Indonesia seolah hanya Jakarta atau bila dibuat 
sedikit lebih luas hanya daerah perkotaan Jawa, Sumatera, dan Bali. Sejarah 
masyarakat pinggiran dan para tokohnya, khususnya di Indonesia timur, 
terabaikan baik dalam wacana maupun kebijakan. Hanya diingat dan 
diperbincangkan bila terjadi bencana alam atau bencana kekerasan komunal dan 
aparat bersenjata seperti di Poso. 
Ketiga, seperti di bagian dunia lainnya, kiprah para pemimpin laki-laki 
mengambil hampir 95 persen halaman buku sejarah bila dibanding sepak terjang 
para Kartini. Hanya his-story yang banyak terekam. Sedikit sekali her-story 
yang ternukil dalam sejarah bangsa. Konco-wingking ini bahkan sering sukar 
ditemukan di sampul belakang sejarah bangsa. Penyangkalan peran sejarah 
pemimpin perempuan ini kian mengemuka di lahan subur patriarki di Indonesia 
bagian timur. 
Keempat, di atas panggung sejarah nasional, paling tidak tercatat tiga generasi 
pemimpin yang telah berkiprah, yaitu generasi Perintis Nasional, generasi 
Pejuang Nasional, dan generasi Machiavelis. Sebagian besar generasi perintis 
nasional lahir di pergantian abad ke-19 dan ke-20, mayoritas generasi pejuang 
nasional lahir antara tahun 1920 dan 1945, sedangkan umumnya generasi 
Machiavelis lahir antara tahun 1945 dan tahun 1970. Generasi Perintis adalah 
kelompok pemimpin sejati (genuine leaders) yang amat terpelajar—RA Kartini, H 
Agus Salim, Syahrir, Bung Hatta, dan Bung Karno—menguasai khazanah pengetahuan 
yang luas dan beretika dalam politik. Akan halnya generasi pejuang, mereka 
lebih banyak digembleng secara fasistik-militeristik oleh Jepang, lebih sebagai 
mobilisator, tidak terlalu peduli dengan etika politik dan karena itu lebih 
mementingkan hasil proses yang adil, manusiawi, dan beradab. Generasi 
Machiavelis adalah mereka yang tumbuh dan menjadi matang dalam gemblengan
 Orde Baru. Karena itu, ciri-ciri mereka sama dengan para mentornya. Generasi 
yang tidak bernurani inilah yang kini terus mengonsolidasi diri untuk bertahan 
sebagai oligarkh elite politik Indonesia (Robison and Hadiz, Reorganizing Power 
in Indonesia, Routledge Curzon, 2004). 
Kearifan sejarah dan kaderisasi  
Tidak semua generasi Machiavelis terperangkap pola pikir mentor mereka. Ada 
sebagian—di kalangan sipil maupun militer—berhasil melepaskan diri dari jebakan 
berpolitik tanpa etika dan berdemokrasi tanpa substansi. Mereka memiliki 
sesuatu yang bernama kearifan sejarah (historical wisdom). 
Ada tiga indikator utama apakah suatu pihak memilikinya, yaitu mampu 
mengantisipasi arah arus sejarah, mampu membaca lalu menangkap peluang-peluang 
terobosan sejarah yang tiba-tiba tersaji, serta tahu diri kapan saat yang tepat 
untuk turun panggung. Nelson Mandela, Gorbachev, dan Corry Aquino adalah 
sedikit dari pemimpin besar dunia yang terbukti memiliki kearifan sejarah 
dimaksud. 
Para pemimpin generasi pejuang dan generasi Machiavelis yang bermasalah di masa 
lampau dan sudah terbukti gagal memimpin bangsa sebaiknya tahu diri dan tidak 
usah ngoyo untuk kembali naik panggung. Tanpa perlu memaafkan diri dengan janji 
bahwa ini adalah tikungan terakhir pengabdian mereka (Sukardi Rinakit, Kompas, 
22/1/2007), sebaiknya legowo lengser saja, tanpa perlu naik gunung untuk 
bertapa. 
Ada tugas yang lebih mulia, melakukan kaderisasi pemimpin masa depan secara 
lebih teratur dan bervisi, khususnya untuk melahirkan politisi muda berwawasan, 
te- rampil berorganisasi secara demokratis pada tingkat lokal. Upaya berbagai 
"Sekolah Demokrasi" yang kini sedang berkiprah adalah langkah investasi paling 
visioner menjadi pandu Ibu Pertiwi yang tak henti-henti berdoa agar anak-anak 
bangsa terbangun jiwa dan raganya. Berminat? 
Mari bergabung menyiapkan pergantian generasi kepemimpinan pada 2020. Kita 
memang sedang berpacu dengan waktu.  
Tamrin Amal Tomagola Sosiolog 

 
---------------------------------
Food fight? Enjoy some healthy debate
in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A.

Kirim email ke