Opini Selasa, 30 Januari 2007 Hutan, Banjir, dan Nasib Si Miskin
Prudensius Maring Hutan adalah sumber daya yang diperebutkan banyak pihak karena memiliki nilai ekonomis, ekologis, sosial, dan kultural. Terpeliharanya keseimbangan nilai-nilai itu akan menjamin kelestarian hutan dan keharmonisan hubungan antarberbagai pihak yang berkepentingan. Kenyataannya, upaya memelihara keseimbangan nilai itu merupakan masalah rumit. Ia tidak hanya berhubungan dengan ketersediaan dan keterbatasan sumber daya, tetapi dengan kepentingan berbagai pihak yang selalu berubah dan berbeda. Pengurusan hutan tidak hanya bersentuhan dengan isu manajemen hutan. Ia dipengaruhi isu kekuasaan dan politik ekonomi. Pengelolaan hutan Indonesia menunjukkan dominasi kontrol pemerintah. Banyak kalangan menuding pemerintah memainkan peran ganda sebagai penguasa dan pengusaha (Peluso, 1992). Meski tak langsung, pemerintah efektif memainkan perannya melalui badan usaha milik negara (BUMN) dan hak pengusahaan hutan (HPH). Pada masa Orde Baru kita pernah jaya berkat hasil hutan. Tahun 1997 sektor kehutanan dan pengolahan kayu menyumbang 3,9 persen produk domestik bruto (PDB). Ekspor kayu lapis, pulp, dan kertas mencapai 5,5 miliar dollar AS. Angka ini hampir setengah dari nilai ekspor minyak dan gas, setara dengan hampir 10 persen pendapatan ekspor total (Forest Watch Indonesia & Global Forest Watch, 2001). Harga yang harus dibayar Namun, harga yang harus dibayar dari pilihan berorientasi ekonomi amat mahal. Angka degradasi hutan amat tinggi. Selama tahun 1970-an hingga 1990-an, laju deforestasi diperkirakan mencapai 0,6-1,2 juta hektar per tahun (Sunderlin dan Resosudarmo, 1997). Aktivitas penebangan kayu berkontribusi besar terhadap penyusutan kawasan hutan. Termasuk perluasan perkebunan besar, kegiatan pertanian, transmigrasi, dan kegiatan subsisten yang dikembangkan masyarakat lokal. Ketika eksploitasi dikendalikan perusahaan besar, kepentingan masyarakat sekitar hutan terpinggirkan. Padahal, Center for International Forestry Research (Cifor) menyebutkan, sekitar 48,8 juta orang tinggal di lahan hutan negara dan sekitar 10,2 juta orang di antaranya tergolong miskin. Sekitar 20 juta orang tinggal di desa dekat hutan dan sekitar 6 juta di antaranya mendapat penghidupan dari hutan (Cifor, 2004). Masyarakat yang sumber penghidupannya dari hutan tercerabut hak-haknya. Kearifan lokal dan aturan pengelolaan hutan ditekan dari luar. Ruang kelola mereka terbatas karena dialihkan kepada pemegang lisensi baru bermodal besar. Mereka harus berjuang mendapat izin pengelolaan. Ironinya, setelah berjuang bertahun-tahun, izin tak kunjung datang dan peraturan pedomannya sudah berganti. Tidak heran jika situasi ini memicu lahirnya konflik sosial antara masyarakat lokal dan pemerintah, masyarakat dan pengusaha, serta antarmasyarakat. Penelitian Cifor menyebutkan, selama tahun 1997-2003 terjadi 359 konflik di sektor kehutanan di Indonesia (Wulan dkk, 2004). Banjir pun datang Adakah korelasi antara banjir dan eksploitasi hutan? Fakta menunjukkan, lokasi yang disapu banjir selalu sekitar perbukitan dan pegunungan gundul. Banjir di Aceh dan Sumatera Utara tahun 2006 diduga akibat penggundulan Taman Nasional Gunung Leuser. Alikodra (27/12/2006), guru besar Fakultas Kehutanan IPB, mensinyalir banjir itu akibat eksploitasi hutan Gunung Leuser. Penebangan liar kian marak, dipicu dengan pembukaan jalan tembus Ladia Galaska di Gunung Leuser bertepatan rekonstruksi pascatsunami Aceh. Banjir di Manado dan Jawa Timur setahun silam diduga akibat penggundulan di hulu. Juga banjir di Timor setahun silam yang menghanyutkan permukiman dan areal pertanian karena terganggunya konservasi di hulu Hutan Mutis-Timau. Ironinya, ketika banjir datang, ia tak menjumpai pengusaha besar, pelaku pembalakan hutan, dan penguasa yang seenaknya membuat kebijakan. Mereka pergi ke kota. Namun, sekitar 68,8 juta orang yang tinggal di dalam dan sekitar hutan tetap bertahan di lembah dan lereng gunung. Meski banjir senantiasa mengusik hidup mereka, mereka terus bertahan karena tak mampu mencari sumber penghidupan dan tempat hunian baru. Prudensius Maring Mahasiswa S-3 Antropologi UI; Dosen Politani Kupang ____________________________________________________________________________________ Don't get soaked. Take a quick peak at the forecast with the Yahoo! Search weather shortcut. http://tools.search.yahoo.com/shortcuts/#loc_weather
