Ko Agus juga ada sedikit *sharing *tentang Master Sheng Yen (seperti yang udah pernah di milis Ramu), dimana dia sempat ragu untuk ikut retret karena rencana awal Master Sheng Yen hadir, tapi karena kondisi fisik, sepertinya tidak bisa hadir. Tapi akhirnya Ko Agus memutuskan untuk pergi, walaupun hanya sekedar menyemangati para peserta retret disana, mungkin karena memang orang Indonesia yang mau datang jauh-jauh kesana agak jarang. Tapi ternyata Master Sheng Yen bisa datang ke retret tersebut untuk memberi arahan, walaupun dalam kondisi yang harus bolak-balik cuci darah. Akhirnya ada muridnya yang menanyakan bahwa kenapa sudah dalam kondisi yang tidak sehat itu, Master Sheng Yen masih bersedia untuk kesana kemari mengajar? Master Sheng Yen menanyakan pada peserta, bahwa apakah dia seharusnya datang atau tidak? Apabila dia memang bisa datang, dia akan datang, tapi kalau tidak bisa datang, yah tidak datang. Master Sheng Yen juga mengatakan bahwa dia telah memberikan seluruh hidupnya untuk Dharma, inilah bagian yang sangat menyentuh dari cerita Ko Agus. Bagi ko Agus, Master Sheng Yen adalah adalah orang yang penuh percaya diri.
Ko Agus juga ada cerita tentang aliran yang berbeda dengan metode yang berbeda, ada aliran yang cukup sadari kemudian lepaskan, ada juga yang agak "keras" dengan bertanya "siapa aku?" atau "siapa ini?" Ko Agus juga ada sedikit *sharing *tentang rasa kantuk yang sebenarnya juga adalah ilusi, tapi dia bilang untuk saat ini, anggaplah itu sebagai kenyataan. Apa yang dibilang Ko Agus ini juga pernah saya alami, saya pernah menyetir dalam kondisi yang ngantuk, akhirnya saya malah menabrak, tapi anehnya setelah menabrak, rasa kantuk itu pun hilang dan saya malah merasa segar, tapi sambil dimarah-marahi orang :p. 28 Januari 2007 Sama seperti hari sebelumnya, kita bangun pagi dan melakukan *morning exercise *tapi kali ini dengan gangguan cahaya kamera. Setelah itu kita melakukan *sitting *selama 1 jam dengan sedikit *stretching *dan yoga terlebih dahulu. Saya sendiri, tidak seperti kemarin, tidak bisa tahan terlalu lama karena kaki yang sudah mulai sakit, dan rasa sakit itu seperti strum yang menyengat pikiran ini. Dari Ko Agus, mengatakan bahwa jika sakit, tidak perlu menggunakan mantra "anicca, anicca" karena bukan saja mungkin tidak ada gunanya, bahkan mungkin akan semakin sakit, tapi cukup sadari bagian lain juga, sehingga rasa sakit itu hanyalah bagian kecil keseluruhan bagian yang tidak sakit. Kita juga dihimbau untuk tidak membenci rasa sakit itu, karena jika demikian maka kita telah dikuasai oleh Dosa. Dan tentu saja, itu tidak mudah, bahkan sangat sulit, karena kita telah terbiasa dengan kondisi yang nyaman (yang lebih didasari oleh Lobha), tapi kita tetap dianjurkan untuk relaks, sambil menyadari keseluruhan diri kita sewaktu bernapas, karena menjadi tidak terlalu terfokus pada satu titik kecil dihidung. Setelah sarapan dengan *mindfull *dimana kali ini semua panitia termasuk yang didapur ikut makan bersama karena selama ini telah sibuk sendiri-sendiri, tapi walaupun begitu kita tetap dengan pandangan yang melihat 45 derajat ke bawah. Setelah itu kita melakukan *sitting *lagi, kali ini, begitu mulai kaki sudah langsung terasa sakit dan menegang, karena rasa sakit tersebut, walaupun masih bisa *let go*, tapi sesekali rasa sakit itu seperti menyetrum pikiran ini, walaupun tidak menyukai rasa sakit tersebut, tapi rasa sakit tersebut telah terus membuat saya berada pada "disini dan disekarang". Karena ini adalah hari terakhir dan mungkin latihan seperti ini sudah tidak banyak lagi, akhirnya mentalitas saya seperti walaupun kakiku hancur, aku akan tetap duduk sampai waktu selesai, kemudian kembali ke napas, akhirnya rasa sakit itu sudah tidak begitu menyengat lagi. Setelah itu dilanjutkan dengan *sharing *lagi dari Ko Agus. Bagian yang cukup penting si *sharing *ini adalah masih mengenai *second arrow*, tapi *arrow *kebahagiaan. Kita cenderung untuk me-*rewind *hal-hal yang membuat kita bahagia, begitu juga yang membuat kita sedih. Dan me-*rewind *hal tersebut justru membentuk *carmic imprint *(jejak karma) dalam batin kita, sehingga pada saat itu, kita begitu terikat dan takut untuk kehilangan hal tersebut (padahal hal kehilangan tersebut adalah pasti hanya tinggal waktu yang cepat atau lambat) dan berharap hal tersebut tetap abadi. Ini Ko Agus rasakan setelah dia mendengar cerita temannya bahwa ternyata memang tinggal di Indonesia lebih enak, karena disana baju tinggal ditaro dimesin cuci, langsung bersih, tapi disini, baju kita taro sembarangan kemudian sudah rapi dalam lemari, begitu juga disana untuk membuat pintu, harus menggunakan *remote control* tapi disini, cukup klakson, <tin> maka dari pintu gerbang, pintu garasi sampai pintu rumah, terbuka semua. Hal ini membuat Ko Agus menyukai hal tersebut, tapi pada *moment *itu juga, dia menyadari bahwa dia telah terpengaruh *the second arrow*, dan benar saja, dia menjadi kesulitan begitu tidak ada yang membantu membukakan pintu lagi. Yang seharusnya kita lakukan adalah tuntaskan masalah itu disana, saat itu juga, "Oh, begitu yah!" dan tidak menambahkan embel-embel lagi. Menurut Ko Agus, hidup ini sebenarnya seperti main lotere, tapi yang tidak mungkin menang, ibaratnya kalo angka yang pasti keluar hanya 1 s/d 100, kita seperti memasang angka 105. Jadi itulah sebabnya kita jangan memisahkan antara yang duniawi dan spiritual, tapi sebaliknya kedua hal ini seharusnya saling menunjang satu dengan yang lainnya, agar tujuan akhir kita bisa tercapai. Setelah itu kita sempat meditasi jalan (pelan, biasa, dan cepat), dan terkahir *sitting *selama setengah jam yang terakhir, dan masih sama dengan yang sebelumnya dari mulai sampai selesai, rasa sakit itu menjadi 'kawan' meditasi saya. Setelah itu kita ditunjukan video tentang Dharma Drum dan Master Sheng Yen. Dan Ko Agus bilang bahwa entah mengapa walaupun dia tau, tapi tidak menghapal alur ceritanya, dan walaupun ini adalah untuk kesekian kalinya dia melihat video itu, ada rasa haru dan bakti pada saat menonton video tersebut (CMIIW). Dan pesan yang disampaikan melalui video itu sama persis dengan pesan yang ingin dia sampaikan melalui retret ini, walaupun pada saat membuat tujuan tersebut itu adalah murni ide dia sendiri. Dari Ko Jimmy kemudian menawarkan untuk membentuk komunitas studi dan meditasi zen yang berbasis belajar, berlatih, dan berbagi, seperti yang sudah ada di Dharmajala, dan mengharapkan adanya orang-orang yang mau menjadi motor, untuk membentuk komunitas tersebut. Setelah itu kita tutup dengan *sharing *pesan dan kesan, dan seperti yang sudah diduga dan diyakini, banyak dari kita yang mendapatkan manfaat dari retret tersebut, terlihat dari *sharing *masing-masing peserta. Demikianlah sharing retret zen dari tanggal 27-28 Januari kemarin, tentu saja sangat banyak hal yang kita dapatkan dari retret tersebut. Apa yang saya *sharing*-kan barulah sebagian kecil dari apa yang kita dapatkan disana. Mohon kiranya juga pada teman-teman, saudara-saudari yang juga ikut, untuk menambahkan hal-hal yang kurang dan lupa saya sampaikan, untuk terus menyemangati saudara-saudara kita yang lain, yang belum berkesempatan agar bisa mendapatkan manfaat juga agar tetap konsisten untuk belajar, berlatih dan berbagi hidup berkesadaran. Regards, Yasaputra.
