Kita kemudian melakukan *sitting *dan kembali *sharing* dan tanya jawab.
Pada bagian ini, Ko Agus memberikan hal tentang *the second arrow *(panah
kedua), yang cenderung kita lakukan. Contoh yang saya alami sendiri adalah
misalnya pada saat kaki sakit sewaktu meditasi, kemudian dari pikiran
ditambah bumbu (*second arrow*) "Waduh, sakit sekali, jangan-jangan nanti
pincang lagi! Aduh, kayanya patah nih kaki gua!" Dimana hal itu sebenernya
sama sekali tidak perlu, padahal kita cukup mengatakan "Oh, ini sakit!"
selesai, tanpa menambahkan panah kedua, ketiga, dst yang membuat sakit itu
makin parah. Atau misalnya kita sedih dan kecewa, kemudian kita menambah
bumbu kecewa dan sedih kita yang membuat kita semakin sedih dan kecewa
seperti contohnya "Dia harusnya seperti ini, dia tidak boleh seperti itu,
saya ingin dia seperti ini dan dia harusnya seperti ini!" Atau yang saya
alami sendiri sepulang retret, sebuah mobil didepan tiba-tiba berhenti,
tanpa lampu sen, yang kemudian menghambat jalan saya (*first arrow*),
kemudian mulailah muncul pikiran "Wah, tidak seharusnya dia berhenti seperti
itu, seharusnya kan dia menyalakan sen!" (*second arrow*) "Dia telah salah
dengan saya, dia telah menghambat jalan saya" (*third arrow*). Muncul rasa
marah (*forth arrow*), dan kemudian saya baru sadar, "Aha, inilah yang
dibilang oleh Ko Agus, tentang panah yang memang sudah menjadi 'energi
kebiasaan' (kecenderungan) kita", dan pada saat itu juga, begitu mengenali
panah-panah tersebut, rasa marah, jengkel, itu hilang (mungkin mengendap,
saya tidak tahu). Bahkan sebenarnya yang kita sebut *first arrow *itu
sebenarnya bukanlah sebuah panah yang melukai (masalah), ini kemudian *connect
*dengan *don't know mind *pada bagian *sharing *kedua.



Menurut Ko Agus, adalah penting sekali untuk melakukan studi dan meditasi,
secara berbarengan. Hanya saja, mungkin karena meditasi agak kurang diminati
orang, sehingga porsi ini, sengaja dibikin lebih banyak / besar. Karena sisi
yang satu, menunjang yang lainnya. Ko Agus pernah bertanya pada Master Sheng
Yen, kalau kita fokus pada metode, kemudian dimana Buddha-Dharmanya? Kita
bisa saja, mencuri dengan dengan penuh kesadaran, pada saat kita mengambil
dompet orang lain itu tentunya perlu konsentrasi dan kesadaran. Jadi, Buddha
Dharma-lah yang kemudian menjadi fondasi (dasar) nya. Seperti juga yang
dilakukan di Dharmajala, meditasi, studi dan aksi berjalan berbarengan, kata
Ko Agus, itu mirip dengan yang ada disana, meditasi, studi, dan pelayanan
Bodhisatva.



Ko Agus juga ada menjelaskan cerita tentang "Don't know mind!", yang
maksudnya adalah kita sebenarnya tidak tahu itu masalah atau justru adalah
keberuntungan, seperti cerita kakek yang mendapatkan kuda, kemudian warga
mengatakan bahwa kakek itu sungguh beruntung, padahal bagi si kakek itu
adalah hal yang biasa-biasa saja, kemudian anak dari kakek itu jatuh dari
kuda itu dan kakinya patah, warga semua mengatakan bahwa sungguh sial
mendapatkan kuda tersebut, kemudian ada wajib militer dan anaknya yang
pincang tersebut tidak diikutsertakan, padahal banyak yang akhirnya mati
dalam peperangan, dan warga kembali bahwa mengatakan itu sebuah
keberuntungan, dan seterusnya. Mungkin kita sudah tahu dan memang hanya
sekedar tahu tentang cerita tersebut, tapi sebenarnya saya baru sadari
bahwa, memang benar juga, bahwa selama ini, sial atau hoki ini hanya
penilaian yang diberikan oleh pikiran kita saja, itulah juga sebabnya
mungkin kenapa dikatakan bahwa pikiran adalah juga sebenarnya adalah ilusi.



Ko Agus mengatakan bahwa meditasi yang kita lakukan disana juga tidaklah
terlalu jelas pembedaan dikotomi Samatha atau Vipassana, karena ini
sepertinya adalah *blend* dari keduanya, karena retret dengan Master Sheng
Yen pun, memang tidak pernah disebut-sebut apakah ini samatha atau
vipassana.

Setelah itu kita melakukan *direct contemplation*. Dimana kita punya 2
pilihan, melihat hanya untuk melihat, atau mendengar hanya untuk mendengar,
tidak ada penilaian, cukup menyadari pada aktivitas tersebut. Dari
penjelasan Ko Agus, saya menangkap 2 persepsi, pertama, Ko Agus, mengatakan
bahwa kita tidak terfokus pada obyek, jadi persepsi saya mengatakan bahwa,
berarti kita cukup menyadari bahwa kita sedang melihat, mata saya ada disini
sedang terbuka dan keseluruhan diri saya menyadari adanya mata tersebut yang
sedang melihat, tapi tidak terlalu fokus/tau dengan apa yang kita lihat. Ini
seperti tulisan bhante Thich Nhat Han yang mengatakan "Napas masuk, aku
sadar pada mataku, Napas keluar aku tersenyum pada mataku, Napas masuk aku
sadar mataku ada disana, napas keluar, aku berterima kasih pada mataku",
tapi tentu saja, disini kita tidak melakukan pencatatan batin atau judgement
atau mengatakan apa-apa, cukup menyadari adanya mata ini. Kemudian dari
penjelasan Ko Agus dengan menggunakan contoh, bahwa kita seperti melihat
film, tapi kita fokus pada layer TV nya, bukan ikut terbawa dalam drama film
tersebut, kemudian persepsi saya mengatakan bahwa ini yah, berarti kita
cukup sadar akan obyek, tetapi kita tidak menilai, apakah bentuknya menarik
atau tidak, apa warnanya, dst, tapi cukup sekedar tau/sadar. Tentu saja, ini
tidak sama dengan melamun atau pandangan kosong, karena pada saat itu
pikiran kita berada disini dan di sekarang, dan tau bahwa kita sedang
melihat. Menurut Ko Agus, kedua-duanya (persepsi saya) benar, karena ini
hanyalah berbagai cara (*skillful means*) untuk mengakses *awareness
*(kesadaran)
itu sendiri.



Setelah bersih-bersih, dan makan dengan *mindfull*. Walaupun makan dalam
kondisi lapar, tapi baru makan beberapa sendok, mungkin baru setengah
piring, saya sudah merasa kenyang, dan saya tidak merasa sedang masuk angin
atau tidak enak badan, apakah ini yang dibilang bhante Thich Nhat Han bahwa
kita memang selama ini, telah makan lebih dari apa yang sebenarnya kita
butuhkan, dengan makan dengan perhatian penuh, kita jadi tau, seberapa
banyak makanan yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh kita.


Kemudian, kalau tidak salah, kita sempat *sitting *sebentar atau
*sharing *dulu,
saya lupa. Tapi pada *sharing *kedua ini, juga banyak hal yang dibagikan
oleh Ko Agus. Yaitu tentang bodhicitta, "energi kebiasaan" yang diturunkan
dan sedikit cerita tentang Master Sheng Yen. Bagi Ko Agus, yang terbiasa
dibesarkan dalam kondisi *reward and punishment*, dimana dari kecil, sering
disbanding-bandingkan dengan si A atau si B, kemudian dengan cara yang sama
dia perlakukan karyawan dan anak-anaknya. Kalau senang diberi hadiah, kalau
tidak senang dihukum. Apabila dia tidak senang dengan satu karyawan maka dia
bisa membandingkannya dengan yang lain, atau memarahinya, atau sengaja
memberikan bonus pada yang lain agar dia iri, bisa juga karena tidak senang
dengan satu pihak, dia kemudian "meneruskan" ketidaksenangannya itu, dengan
menceritakan kepada orang lain mencari dukungan agar orang lain ikut tidak
suka pada pihak tersebut. Ko Agus kemudian menyadari didikan yang dia dapat
dari kecil itu, sudah menjadi 'energi kebiasaan' yang telah diturunkan oleh
orang tuanya, dan dia kemudian melanjutkannya pada bawahan dan anaknya, dan
dia kemudian melihat bahwa anak-anaknya dan bawahannya kelak nanti pun akan
melakukannya pada orang lain, dan 'energi' ini terus berlanjut turun temurun
berulang-ulang, bhante Thich Nhat Han menyebutkan istilah ini dengan inilah
Samsara. Setelah menyadari hal itu, Ko Agus menghentinkan cara yang salah
dan tidak Buddhistik itu, dan cukuplah buat dia, bahwa dia menerima
(menampung) hal tersebut, tapi kemudian tidak dilanjutkan pada yang lainnya,
dan bagi dia untuk bisa (sanggup) menampung hal tersebut dan tidak kemudian
berlanjut (dilanjutkan) pada yang lain itulah Bodhicitta.

<ting>

...bersambung ke bagian 4...

Kirim email ke