Berita Utama   
Senin, 05 Februari 2007

Jakarta Darurat
Banjir Kiriman dari Bogor Lumpuhkan Sejumlah Kawasan

Jakarta, Kompas - Ibu Kota dalam kondisi darurat.
Banjir semakin meluas pada hari Minggu (4/2) karena
telah menggenangi sekitar 70 persen wilayah Jakarta.
Warga yang mengungsi di lima wilayah pun terus
bertambah menjadi sekitar 150.000 jiwa. Sebagian dari
mereka meninggalkan rumah sejak empat hari lalu.

Meluapnya Ciliwung disebabkan tingginya curah hujan di
Bogor, Jawa Barat. Datangnya air bah yang melumpuhkan
Jakarta sudah diprediksi sejak Sabtu, apalagi pada
hari itu ketinggian air di Bendung Katulampa, Bogor,
menunjuk pada angka 250 sentimeter. Titik itu jauh
melampaui batas normal, 80 sentimeter.

Tingginya debit air Ciliwung menyebabkan pintu air
sejak Minggu siang dibuka penuh. Sejumlah kawasan pun
tergenang. Pada pukul 23.00, ketinggian genangan air
di Jalan Gunung Sahari dan Jalan Pasar Baru, misalnya,
sudah 40 sentimeter. Namun, lingkungan Istana Presiden
hingga menjelang tengah malam itu tidak terendam air,
seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Banjir kiriman tersebut menggenangi kawasan selatan
hingga utara Jakarta sejak Sabtu malam. Sejumlah jalan
utama seperti Jalan Casablanca di kawasan Kebon Baru,
Tebet, Jakarta Selatan, dan Jalan Raya Kalibata
terputus dan tidak dapat dilewati kendaraan karena
terendam air luapan Ciliwung, termasuk jembatan yang
melintang di atas sungai.

Terowongan jalan di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat,
dan Manggarai, Jakarta Selatan, juga tidak dapat
dilewati karena terendam hingga dua meter.

Kepala Sub-Direktorat Pendidikan dan Rekayasa Lalu
Lintas Kepolisian Daerah Metro Jaya Ajun Komisaris
Besar Chrysnanda DL yang ditemui di Jembatan Kalibata,
Rawajati, Jakarta Selatan, Minggu, mengatakan, ada 122
wilayah terendam di Ibu Kota yang mengganggu arus lalu
lintas. Menurut dia, sebanyak 29 titik di antaranya
terputus akibat banjir.

Banjir besar akibat meluapnya air Ciliwung semakin
menyengsarakan warga yang kebanjiran sejak Kamis pekan
lalu.

Di Kelurahan Kebon Baru, Sutrisno (41), warga RT 04 RW
01, masih berharap cemas menunggu evakuasi.

Edi Suryadi (60), mertua Sutrisno, serta tiga anggota
keluarga lain terjebak di lantai dua rumah di Gang
Mesjid I, Kebon Baru. "Air kali ini lebih tinggi
daripada banjir tahun 2002. Ratusan warga masih
bertekad bertahan karena diperkirakan air tidak
mencapai lantai dua. Ternyata hari ini seluruh lantai
dua mulai tenggelam," ujar Sutrisno.

M Latief (70), warga RT 02 RW 07 Kelurahan Rawajati,
menuturkan bahwa dirinya mengalami banjir di daerahnya
sejak 1943. "Kalau memang ini sudah diprediksi, kenapa
tidak dilakukan pengerukan sejak akhir tahun lalu.
Dulu waktu zaman Jepang penanganan banjir jauh lebih
baik," ujarnya.

Menurut Latief, banjir besar terjadi tahun 1943, 1952,
1976, 2002, dan 2007. Selama ini tidak pernah ada
upaya serius untuk menanggulangi banjir.

Sebagian besar warga yang ditemui mengaku mereka tidak
tinggal di penampungan darurat yang memang belum ada.
Mereka umumnya tinggal di rumah keluarga.

Banjir akibat meluapnya Ciliwung juga makin
menyengsarakan warga di beberapa kelurahan di
Kecamatan Jatinegara, termasuk Bidaracina, Kampung
Melayu.

Banjir juga memutuskan Jalan Otista Raya dan Jalan
Jatinegara Barat. Kedua jalan itu pada Sabtu pekan
lalu belum tergenang air sehingga masih bisa dilewati.

Di Cipinang Besar Utara, air juga telah menghanyutkan
seorang ibu berusia sekitar 45 tahun. Ibu ini
ditemukan tewas di RT 06 RW 10 Cipinang Besar Utara,
Jatinegara. Jenazah segera dibawa ke RSCM karena belum
diketahui identitasnya.

Di Kampung Pulo, Kampung Melayu, seorang warga juga
meninggal dunia. Saifudin (22) yang memang sedang
sakit paru-paru diperkirakan meninggal karena kondisi
sekitar yang lembab karena banjir. Dia meninggal di
rumahnya, Sabtu pukul 19.00, dan sempat dievakuasi
sebelum air naik tinggi.

Perumahan terendam

Perumahan Cipinang Indah hingga Minggu tampak seperti
lautan air akibat meluapnya Sungai Sunter. Di
perumahan elite ini ratusan mobil masih terjebak dalam
garasi dan ditinggalkan pemiliknya begitu saja.
Ketinggian air dua sampai tiga meter.

Sebagian warga masih bertahan di lantai dua dan
sebagian mengungsi di hotel. "Kami memilih tetap
bertahan di lantai dua. Soal logistik, kami bisa
membeli sendiri dari luar, kemudian dibawa dengan
perahu kemari. Kami sudah beli perahu karet," kata
Arif, warga Cipinang Indah.

Selain di Cipinang Indah, permukiman padat penduduk
seperti Cipinang Bali, Cipinang Cempedak, dan yang
paling parah Cipinang Melayu, hingga Minggu sore masih
terendam. Ketinggian air mencapai empat meter.

"Hari ini saya memutuskan untuk keluar dari lantai
dua, air sudah merendam lantai satu. Saya kemari
bersama suami saya naik dari genteng rumah ke genteng
rumah lainnya," kata Tamirah (50), warga RT 01 RW 04
Cipinang Melayu, Kecamatan Kampung Makassar, Jakarta
Timur.

Menurut Atik (35), ibu beranak tiga warga Kampung
Pulo, arus air mulai deras masuk ke rumahnya pukul
02.00.

Di Jakarta Barat, kelurahan yang paling parah terendam
air adalah RW 02 dan RW 08 Kelurahan Kedoya Utara,
Kecamatan Kebon Jeruk. Warga yang sebagian besar
tinggal di tepi rel kereta api memasang tenda darurat
di tempat lebih tinggi.

Sejak banjir besar melanda Jakarta dan sekitarnya,
banyak pula warga berspekulasi air yang menggenangi
rumah mereka tidak akan meninggi. Mereka terus
bertahan di lantai dua rumah atau atap rumah.
Nyatanya, ketinggian air terus meninggi sehingga pada
akhirnya warga terjebak dalam kepungan air.

Di Kelurahan Cawang dan Cililitan, Kramat Jati,
Jakarta Timur, misalnya, hingga Minggu sore sedikitnya
400 warga masih terjebak di rumah mereka, terkepung
air. Ketika tim evakuasi mencoba membujuk mereka
mengungsi dengan naik perahu karet, banyak warga masih
menolak dan memilih bertahan. Namun, menjelang sore,
sebagian warga akhirnya memutuskan menurut untuk
mengungsi.

Aisyah (60), salah seorang warga RT 01 RW 07,
Cililitan, menangis tersedu-sedu ketika turun dari
perahu karet seusai dievakuasi. Aisyah mengaku
semalaman terjebak di loteng rumahnya dan kehujanan.
Aisyah mengaku tidak menyangka air yang menggenangi
rumahnya sejak dua hari lalu terus meninggi hingga
merendam lantai dua. Karena itu, dia memilih terus
bertahan dan terlambat mengungsi ketika sejumlah
tetangganya yang lain telah mengungsi.

"Saya tidak menyangka airnya terus tinggi. Saya pikir
hari ini bakal surut. Enggak tahunya tambah tinggi.
Tahun 2002 enggak sampai begini," ujar Aisyah.

Waspadai banjir susulan

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua aparat
pemerintah daerah waspada terhadap kemungkinan banjir
susulan. Presiden juga meminta aparat pemerintah aktif
menginformasikan prakiraan cuaca dari Badan
Meteorologi dan Geofisika kepada masyarakat agar
mereka juga waspada.

Presiden Yudhoyono mengemukakan hal itu seusai
mendengarkan laporan mengenai situasi banjir di Kota
Bekasi, yang dijelaskan Wakil Wali Kota Bekasi Mochtar
Muhamad, Minggu.

Presiden yang meninjau lokasi banjir di Bekasi juga
meminta pemerintah daerah mengoptimalkan semua
kemampuan dan menggunakan semua fasilitas pemerintah
untuk membantu korban banjir.

Presiden Yudhoyono meminta masyarakat agar bersedia
meninggalkan rumah jika banjir terus meninggi. Untuk
pengamanan, Presiden meminta aparat kepolisian terus
memantau dan mengamankan rumah warga yang
ditinggalkan.

Kerja sama

Kepada wartawan, Presiden Yudhoyono mengatakan sudah
mendatangi lokasi-lokasi banjir di Jakarta dan
sekitarnya. Dia menilai banjir sudah menjadi bencana
rutin dan berulang. Karena itu, Presiden meminta
jajaran pemerintah daerah Jakarta, Bogor, Depok,
Tangerang, dan Bekasi bekerja sama dalam menanggulangi
dan mengantisipasi banjir.

Ia menjanjikan pemerintah pusat melalui departemen
terkait akan membantu upaya penanggulangan banjir di
wilayah Jakarta dan sekitarnya ini. Salah satunya
adalah pengerjaan saluran banjir kanal.

Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso meminta bantuan
pemerintah pusat untuk mengoordinasikan semua
kabupaten dan kota di Jakarta dan sekitarnya guna
mengatasi penyebab banjir secara menyeluruh.

Penyelesaian secara terintegrasi di hulu dan hilir
Ciliwung dan Cisadane diperlukan karena banjir sudah
menggenangi semua kawasan di Jabotabek.

Menurut Sutiyoso, saat mendampingi Wakil Presiden
Jusuf Kalla meninjau Crisis Center Jakarta, Minggu,
banjir hanya dapat dicegah jika kawasan hulu Ciliwung
diperbaiki dan kawasan hilirnya direkayasa.

Namun, usaha Jakarta untuk mereboisasi dan membangun
situ atau bendungan di kawasan hulu Ciliwung selalu
terganjal permasalahan batas administrasi dan
kepentingan Kabupaten Bogor dan Kota Depok.

Untuk menahan laju aliran Ciliwung, kata Sutiyoso,
perlu dibangun 10 situ baru di kawasan hulu guna
menambah 200 situ yang ada. Situ tersebut diperlukan
untuk mengurangi debit air Ciliwung yang terlalu
besar.

Namun, karena lokasi situ berada di Kabupaten Bogor,
ujar Sutiyoso, Jakarta tidak dapat membangun situ
baru. Karena itu, Sutiyoso meminta pemerintah pusat
mengoordinasikan penanganan banjir secara lintas
provinsi dan kabupaten.

Menanggapi permintaan itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla
mengatakan, pemerintah bersedia mengoordinasikan semua
kabupaten dan kota di Jabodetabek.

Untuk penanganan pengungsi, Sutiyoso juga meminta
pemerintah pusat membantu penyediaan peralatan dengan
truk-truk besar, perahu karet, dan helikopter.

Peralatan menjadi masalah dalam penanganan pengungsi
karena masih banyak kawasan yang terisolasi.

Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta
Ritola Tasmaya mengatakan, jumlah pengungsi di Jakarta
sudah mencapai 150.000 orang.

Ritola mengakui, penanganan pengungsi belum efisien
karena kemampuan dapur umum untuk memasak hanya cukup
bagi sekitar 60 persen pengungsi.
(cok/amr/arn/ong/cal/nas/sf/ win/eca/mul/osd/nel/jos) 


 
____________________________________________________________________________________
Sucker-punch spam with award-winning protection. 
Try the free Yahoo! Mail Beta.
http://advision.webevents.yahoo.com/mailbeta/features_spam.html

Kirim email ke