CINTA VALENTINE (14-2-07,14 paragraf) 
Diterjemahkan dan diedit oleh : Dayapala Pema Lodoe

14 februari adalah Hari Valentine, hari dimana kita merayakan cinta
yang romantis. Ia menjadi tema untuk pembuatan lagu, puisi, lukisan,
prosa, film, dan teater. Kebanyakan wanita, 80%, menilai para pria di
dalam hidupnya tidak romantis. Pada hari Valentine, para pria
menghabiskan uang tigakali lipat untuk sang pujaan hati dalam bentuk
coklat, bunga, tamasya, baju, dan kencan romantis untuk berdua sebagai
wujud untuk membuktikan bahwa penilaian wanita salah.                  

Santa Valentine adalah seorang pendeta Kristen yang dihukum mati
karena menikah menentang titah Raja Claudius II yang ingin pasukannya
tidak menikah. Atau ia dibunuh karena membantu orang-orang Kristen
melarikan diri dari penjara Roma dimana mereka sering dihajar dan
disiksa. Beberapa legenda mengatakan ia menuliskan surat cinta kepada
anak perempuan tahanan dan menuliskan "from your Valentine." Apapun
kenyataannya, ia adalah symbol dari cinta yang bertahan dalam situasi
kejam.

Saya pikir inilah pesan yang perlu kita sampaikan  pada Hari
Valentine, bukanlah syair romantis atau coklat dalam kotak berbentuk
hati ataupun pakaian yang indah dipandang. Cinta ini, LAHIR DARI HATI
YANG TIDAK MEMENTINGKAN DIRI SENDIRI, dan ditumbuhkan dengan
keberanian dan keyakinan, dapat bertahan dalam situasi yang terburuk
sekalipun. 

Sebagai ganti cinta, Buddhis menggunakan kata welas asih. Ini bermakna
lebih dalam, lebih luas, perasaan yang lebih murah hati. Cinta dapat
menjadi serakah, menekan, menuntut, dan berbagai hal negatif lainnya,
tetapi welas asih menuntun kepada sikap tidak mementingkan diri sendiri.

Yang Mulia Dalai Lama berkata, "Cinta sejati tidak didasarkan atas
kemelekatan, tetapi atas dasar altruisme. Dalam hal ini, welas asih
anda akan tinggal sebagai reaksi manusiawi atas penderitaan sepanjang
mahkluk hidup terus menderita."

KITA TELAH MELUPAKAN BAHWA CINTA ADALAH KEKUATAN TERDAHSYAT DALAM ALAM
SEMSTA. Buddha, Ghandi, Dalai Lama, dan Martin Luther King semua telah
mengatakan hal yang sama. "KEGELAPAN tidak dapat menghilangkan
KEGELAPAN, hanya TERANG yang dapat melakukannya. KEBENCIAN tidak dapat
menghilangkan KEBENCIAN, hanya CINTA yang dapat melakukannya." Pesan
ini semakin hilang dari budaya kita. Kita diracuni oleh film-film yang
mengutarakan balas dendam "Kill Bill", "Paparazzi", "Payback", "The
Punisher", sekurang-kurangnya satu atau dua film di bioskop setiap
bulannya. Jarang sekali para pendukungnya menyimpulkan bahwa
pembalasan bukanlah jawaban terbaik. Saat Natal, lebih banyak film
tentang kebencian dan teror diputar, dibandingkan mengenai cinta.       

Bunda Theresa berkata, "Pergilah ke dalam dunia hari ini dan cintailah
orang-orang yang kamu temukan. IJINKANLAH KEHADIRANMU MEMANCARKAN
CAHAYA BARU DALAM HATI ORANG LAIN." Betapa menyegarkan jika
benar-benar menjalani kehidupan seperti itu. Tidak menilai orang.
Tidak ada penghakiman. Tidak ada pengucilan. Hanya cukup menunjukkan
welas asih kepada setiap orang yang kita temui.  

MENUNJUKKAN CINTA YANG TULUS ADALAH RESIKO YANG TIDAK BERANI DIAMBIL
OLEH KEBANYAKAN ORANG. Kristus berkata "kasihilah sesamamu seperti
engkau mengasihi dirimu sendiri." Ghandi meyakini seorang penakut
tidaklah mampu memancarkan cinta; INI ADALAH MILIK PARA PEMBERANI.
Terlalu banyak dari kita ingin dibalas dicintai dengan kadar yang
sama, hal ini bagaikan pertukaran barang yang kita perhitungkan dengan
sangat teliti. Andai kita dapat yakin terhadap karma dan
kesalingtergantungan dari segala sesuatu, kita dapat menyadari bahwa
ia akan kembali kepada kita pada akhirnya, tetapi jarang dalam cara
yang dapat kita kenali. Kita perlu yakin terhadap proses ini. Yang
lebih penting adalah, mencintai orang lain membantu kita menumbuhkan
kedamaian dalam diri sendiri. Membawa cinta dalam hati kita memberikan
kita kekuatan dan kebahagiaan. SANGATLAH PENTING UNTUK MENCINTAI
MEREKA YANG TIDAK DICINTAI ATAU DITELANTARKAN, karena mereka sangatlah
membutuhkan. Yang aneh, penyendiri, pendatang baru, pemarah, sakit
hati, kesepian, dikecewakan. Mencintai mereka akan sulit. Mungkin
tidak akan ada tanggapan positif. Tetapi, jika cukup dari kita, dalam
waktu yang cukup pula, ini akan membuat perbedaan dan bergema melewati
banyak kehidupan.

Bagaimanapun juga kita harus yakin untuk dapat memenuhi kebutuhan
utama orang-orang yang sangat bergantung kepada kita. Ketika ditanya
apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan kedamaian dunia, Bunda
Theresa menjawab, "PULANG DAN CINTAILAH KELUARGAMU."       

Beberapa dari kita yang cukup beruntung memiliki hubungan intim juga
perlu mencintai dengan keseluruhan diri kita. Terlalu banyak orang
mencintai setengah hati, bahkan dengan pasangan mereka sendiri,
dihitung-hitung bagaikan cinta seperti barang berharga yang terbatas.
Barbara DeAngelis menuliskan "Ketikan anda mencintai secara mendalam,
berani dan dengan komitmen, anda mengundang Kebenaran ke dalam
hubungan anda… Cinta yang besar mungkin akan membuat anda tidak nyaman
ketika ia memaksa anda untuk memandang cermin diri sendiri. "Ini
menakutkan dan membebaskan sekaligus. CINTA DAPAT MEMBANTU KITA UNTUK
MELIHAT DIRI SENDIRI APA ADANYA.    

Belajar untuk mencintai seseorang sepenuh hati, meskipun terdapat
gangguan, kekecewaan, dan keterbatasan, tanpa syarat ataupun
rintangan, membebaskan hati untuk bertumbuh dalam pengertian dan welas
asih. Ini tercurah dalam sisa hidup kita, membantu kita mencintai
sesama, tetangga, di meja sebelah, di propinsi lain, dan seluruh
dunia. JIKA KITA DAPAT MELIHAT KEKURANGAN ORANG LAIN, TERIMA MEREKA,
DAN TETAP MENCINTAINYA, kita akan menjadi lebih siap menjadi mahkluk
welas asih sejati. Ketika kita mengalami cinta sejati yang tulus
dengan orang lain, kita menyadari kekuatan dahsyatnya dan termotivasi
untuk membawanya ke sisi lain kehidupan.                 

Begitu juga, ketika pujaan hati kita melihat ke dalam mata kita,
mengenal kita lebih baik dari siapapun juga, dan mencintai kita
bagaimanapun juga, kita menjadi lebih mampu mencintai diri sendiri.
Inilah akar dari semuanya. Jika kita tidak mencintai diri sendiri,
kita tidak memiliki kedamaian batin. TANPA KEDAMAIAN BATIN, DAMAI
DENGAN ORANG LAIN, DAMAI DI DUNIA, TIDAKLAH MUNGKIN. 

Buddha memiliki welas asih tak terbatas. Cintanya abadi dan tanpa
batas. Kita berjuang untuk mencapai tingkat kesempurnaan ini, tetapi
biasanya menyerah di tengah jalan. Mari kita gunakan Hari Valentine
ini, hari perayaan cinta, untuk mengingatkan kita bahwa SETIAP
TINDAKAN MEMILIKI AKIBAT YANG LUAS. Karma mencintai orang lain tidak
dapat terukur. Begitu juga, ketika kita mencintai pasangan kita,
anak-anak kita, keluarga dan sahabat kita, tetangga dan masyarakat
kita, sesama kita sebagai manusia, dan seluruh mahkluk hidup, benang
kesalingtergantungan membawa semua itu kembali. DENGAN CINTA KEPADA
MEREKA, KITA MENCINTAI DIRI SENDIRI. DENGAN CINTA KEPADA DIRI SENDIRI,
KITA MENCINTAI MEREKA. Menyelimuti semua itu adalah welas asih Buddha,
selalu sabar, menunggu ketika kita belajar bahwa cinta bukanlah coklat
atau mawar merah, tetapi sebuah senyuman lembut kepada orang asing di
dalam bis. 

Jadi di Hari Valentine ini, mari kita mengulang kata-kata Thich Nhat
Hanh dari Present Moment Wonderful Moment: Bangun di pagi hari ini,
aku tersenyum. Dua puluh empat jam baru hadir untukku. Aku bertekad
untuk hidup sepenuhnya dalam setiap momen dan melihat semua mahkluk
dengan mata welas asih.

Dengan Hormat, Bonnie Blake
Dengan Cinta, Dayapala  


Kirim email ke