Dear all,
"Ketidak-tahuan" memang sangat mengerikan, Buddha pernah bersabda, ketika
ditempat keramaian, jagalah ucapanmu; ketika sedang sendirian jagalah pikiran
batinmu.
Nge-joke memang boleh-boleh saja, dan itu hak semua orang, namun kalau nge-joke
dengan cara demikian sangat2 lah ber-efek buruk, apalagi terhadap sangha.
Berikut ini adalah salah satu kutipan cerita yg diterjemahkan dari "Sutra of
the Wise & the Foolish; Ocean of Narrative [Uliger un-dalai ]" yang diterbitkan
oleh Library of Tibetan Work & Archives, Dharamsala, India; Kisah ke 41,
judulnya "Madu Sempurna"
Semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, dan jangan memindahkan semua
label 'kebun binatang' ke mulut kita, karena sungguh-sungguh berbahaya.
Salam dari Dharamsala, India
Madu Sempurna
Demikian yang telah saya dengar pada suatu ketika: Buddha sedang
berdiam di Kota Sravasti di Biara Jetavana, Taman Anathapindika. Pada saat itu
di negeri itu hiduplah seorang brahmin yang kaya raya bernama Sincir. Tanpa
anak, dia pergi ke enam guru yang berbeda dan bertanya apakah dia akan memiliki
seorang putra atau tidak. Para guru memberitahu dia: "Ini bukanlah takdirmu di
hidup ini untuk memiliki seorang putra. "Brahmin kembali ke rumah, meletakkan
jubahnya yang tua dan berdebu itu, duduk dalam kesedihan berpikir: "Saya tidak
ditakdirkan memiliki seorang putra. Jika saya meninggal, raja akan menyita
kekayaanku."
Istri brahmin telah membuat pertemuan dengan biksuni Buddhis yang
sehari datang ke rumah brahmin untuk berkunjung. Melihat brahmin begitu sedih,
dia bertanya kepada istrinya ada permasalahan apa. Istrinya menjawab: "Kami
tidak memiliki anak dan keenam guru itu memberitahu suamiku bahwa ini adalah
takdir kami. Inilah alasan suamiku merasa sangat sial. "biksuni itu berkata:
"Guru-guru itu tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana mungkin mereka mengetahui
hal semacam itu? Tetapi Buddha, Tathagata, sekarang ada di dunia, karena dia
mengetahui masa lalu dan masa depan dengan sempurna, mengapa engkau tidak pergi
kepadaNya dan bertanya apakah engkau akan memiliki seorang putra atau tidak?"
Ketika biksuni ini telah pergi, istri brahmin memberitahunya apa yang
dia katakan. Mengenakan jubah yang baru, sang suami pergi menghadap Buddha dan
bertanya: "Bhagava, apakah takdir dalam hidupku ini memiliki seorang putra atau
tidak?" Buddha berkata: "Brahmin, engkau akan memiliki seorang putra, dan putra
itu akan diberkahi dengan kebajikan. Ketika dia dewasa, dia akan menginginkan
untuk menjadi biksu. "Mendengar hal ini, brahmin sangat bergembira dan berkata:
"Jika saya memiliki seorang putra, tentu dia boleh menjadi seorang biksu?
Kesedihanku sekarang telah berakhir. "Dia kemudian mengundang Buddha dan Sangha
ke rumahnya. Bhagava menyetujuinya dengan diam.
Hari berikutnya pada saat makan, Buddha dan Sangha datang dan duduk
di tempat duduk yang telah dipersiapkan untuk mereka. Brahmin dan istrinya
menghormati mereka dan melayani mereka dengan berbagai macam makanan. Ketika
mereka selesai makan, mereka kembali, dan sepanjang perjalanan tiba di sebuah
padang rumput dengan mata air yang bersinar dan bersih. Buddha dan para biksu
duduk disampingnya dan mengambil air dengan patta mereka, ketika seekor kera
muncul dan meminta pattanya Ananda, karena takut kera itu akan merusak
pattanya, Ananda menolak untuk memberikan pattanya. Buddha berkata: "Ananda,
berikanlah pattamu kepada kera itu. "Ketika Ananda memberikan itu kepadanya,
kera itu memanjat sebuah pohon dan kembali dengan mangkuk yang penuh berisi
madu, yang dia persembahkan kepada Buddha. Ketika Buddha berkata: "Pisahkan
kotoran dari madu itu," kera itu memindahkan serangga-serangga mati yang ada di
madu itu dan kembali memberikannya kepada Bhagava. Buddha berkata:
"Campurkan air dengan madu itu dan saya akan meminumnya. "Kera itu kemudian
mencampurkan air dengan madu itu dan kembali memberikannya kepada Buddha,
beliau mencicipinya dan membaginya juga kepada para biksu. Kera itu melompat
naik dan turun dengan senang, berlari ke sebuah jurang, melompat ke bawah, dan
meninggal. Ketika kera mati, dia memasuki kandungan istri brahmin yang tak
memiliki anak itu dan ketika bulan telah terpenuhi, seorang putra yang tampan
dan menarik lahir. Pada saat anak itu muncul di dunia, semua tempayan di rumah
brahmin itu dipenuhi oleh madu. Brahmin dan istrinya bersukacita dan membawa
seorang peramal untuk mengamati anak itu. Ketika peramal itu bertanya
tanda-tanda apa yang muncul ketika bayi ini dilahirkan dan diberitahu bahwa
semua wadah di dalam rumah itu dipenuhi oleh madu, anak itu diberi nama 'Madu
Sempurna.'
Ketika anak itu tumbuh dewasa, dia memohon izin untuk menjadi seorang
biksu. Orang tuanya menolak dan anak itu memberitahu mereka: "Saya tidak dapat
hidup di tempat ini yang tidak memiliki kedamaian. Saya pasti mati." Brahmin
dan istrinya kemudian merundingkan hal ini. Mereka mengingat Buddha telah
meramalkan bahwa ketika seorang putra telah lahir, dia akan menjadi biksu.
Mereka setuju bahwa jika mereka tidak memberinya izin dia pastilah mati, dan
memberikan izin mereka kepada sang anak. Dalam keyakinan dan kebahagiaan anak
laki-laki ini pergi kepada Buddha, menundukkan kepalanya di kakiNya dan memohon
untuk menjadi biksu. Ketika Buddha berkata: "Selamat Datang, anakku," rambut
dan jambangnya rontok dan dia menjadi seorang biksu. Ketika Bhagava
mengajarkannya Empat Kebenaran mulia, batinnya menjadi terbebaskan dengan
sempurna, hawa nafsunya terhenti, dan dia menjadi murni. Ketika para biksu
pergi kesana kemari untuk menolong makhluk hidup, mereka memperhatikan
bahwa kapanpun biksu baru ini lelah dan haus, dia akan melempar pattanya ke
atas udara dan itu akan kembali kepadanya penuh dengan madu. Oleh karena itu
Ananda berkata kepada Buddha: "Bhagava, karena kebajikan masa lalu apa sehingga
biksu 'Madu Sempurna' bergabung dengan Sangha dan dengan cepat menjadi arahat?
Apa alasan untuk hal ini?"
Buddha berkata:"Ananda, apakah engkau masih ingat dengan brahmin yang
bernama Sincir yang kita kunjungi lalu?" Ananda berkata: "Ya, Bhagava, saya
mengingat dia." Buddha berkata: "Ananda, apakah engkau ingat bagaimana setelah
kita memakan makanan persembahan dan kembali, kita beristirahat disamping mata
air di sebuah padang rumput dan seekor kera mengambil pattamu? Kera itu
memenuhinya dengan madu dan mempersembahkannya kepadaku dan saya minum madu itu
dan membagikannya kepada para biksu. Kemudian kera itu menari dengan senang dan
melompat ke sebuah jurang dan meninggal. "Ananda berkata: "Ya, Bhagava, saya
ingat." Buddha berkata: "Ananda, kera yang mempersembahkan madu adalah biksu
itu, 'Madu Sempurna'. Karena, ketika dia bertemu Buddha, dia bersukacita dan
mempersembahkan madu dengan pikiran bahagia, dia terlahir sebagai putra seorang
perumah tangga, tampan dan menarik, sekarang menjadi seorang biksu, dan telah
menghentikan hawa nafsu."
Kemudian Ananda berlutut dengan lutut kanannya di atas tanah,
beranjali, dan berkata: "Bhagava, perbuatan jahat apa yang telah dilakukan
sebelumnya sehingga dia terlahir sebagai seekor kera?" Buddha berkata: "Ananda,
di masa lampau, ketika Buddha Kasyapa datang ke dunia ini, seorang biksu muda
yang baru ditahbiskan melihat biksu lainnya melompat menyeberangi sebuah
saluran air dan berkata kepadanya: 'biksu, engkau melompat seperti seekor
kera!' biksu yang lain berkata: 'Engkau tidak mengenalku.' biksu muda itu
berkata: 'Apa maksudmu, saya tidak mengenalmu! Engkau adalah salah satu biksu
Buddha Kasyapa.' biksu kedua menjawab: 'Jangan membuatku tertawa. Saya bukan
seorang biksu dalam nama saja. Saya telah mencapai empat buah seorang biksu.'
biksu muda itu menjadi takut dan rambutnya berdiri. Dia berlutut, beranjali,
dan berkata: 'Oh biksu, saya mengakui kesalahan telah menertawakanmu. Maafkan
saya, saya mohon padamu. 'Karena dia mengakui kesalahannya, dia tidak
terlahir ke neraka. Tapi karena dia menertawakan biksu itu, dia terlahir 500
kali sebagai seekor kera. Dengan mempertahankan sumpah sebelumnya, dia sekarang
bertemu denganKu, menjadi biksu dan semua penderitaannya telah berakhir.
Ananda, biksu Madu Sempurna adalah biksu muda yang menertawakan yang lain."
Ketika Buddha telah berkata demikian, Ananda berkata: "Dengan
mengabaikan perbuatan tubuh, ucapan, dan pikiran, biksu ini gagal menjaga
ucapannya dan harus menderita karena alasan itu." Buddha berkata: "Ya, Ananda,
itu seperti yang baru engkau katakan." Kemudian, ketika Bhagava telah
mengajarkan Empat Kebenaran dan menjelaskan bahwa ketika perbuatan badan
jasmani, ucapan, dan pikiran dipurifikasi ketidakmurnian pikiran dibersihkan,
beberapa menjadi Pemenang Arus, beberapa menjadi Sekali Kembali Lagi, beberapa
menjadi Tidak Pernah Kembali, beberapa arahat, dan beberapa mencapai pikiran
awal pencerahan sempurna. Semua berkeyakinan dan bersukacita.
--- In [email protected], "Tirta D. Arief" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bhikku yang taat pada vinaya, dalam bahasa Inggeris disebut MONK....
> Bhikku yang menyimpang dari vinaya, dalam bahasa Inggeris disebut
> MONKEY.......:-)
>
> salam,
> tda
>
> On Mon, 12 Feb 2007, Vera wrote:
>
> > Dear all,
> > kalo memang menemukan hal seperti ini, dapat membawanya ke wihara yang
> > terdekat (harus yang ada biku/biksu seniornya) atau paling tidak dapat
> > membawa ke kantor KASI Plasa Sentral Lt. 2. Disana setiap hari ada staf
> > sekretariat yang bertugas.
> >
> > Dan saya juga mendapat informasi bahwa di sekitar kampus Binus juga sudah
> > didatangi oleh biksu gadungan ini. beberapa kali ada yang menelepon saya,
> > bahwa mereka menemukan biksu gadungan ini di sekitar batu sari, rawa belong
> > dan kampus anggrek.
> >
> >
> > Thanks.
> >
> > Regards,
> > V e r a
> >
> > Be Happy, Be Mindfull
> >
Nyana Bhadra
Tibetan Language & Buddhist Philosophy
Library of Tibetan Works & Archives
Centre for Tibetan Studies & Researches
Gangchen Kyishong Dharamsala - 176215
Himachal Pradesh - I n d i a
"May I become at all times, both now and forever; a protector for those without
protection; a guide for those who have lost their way; a ship for those with
oceans to cross; a bridge for those with rivers to cross; a sanctuary for those
in danger; a lamp for those without light; a place of refuge for those who lack
of shelter; and a servant to all in need"-- H.H. The 14th Dalai Lama, Tenzin
Gyatso -- Bodhicharyavatara [Tib.
J'ang.chub.sem.pa'i.c'od.pa.nyid.jug.pa.zhug.so; Ing. Guide to the
Bodhisattva's Way of Life, Chapter III, Verse 18-19]~ Shantideva
---------------------------------
Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people
who know.