Setelah tulisan "Mimpi kali yee", paling tidak ada dua orang anak indigo yang mengontak saya di japri, dan keduanya juga sempat ngobrol dengan saya via yahoo messanger. Keduanya sama-sama punya masalah keluarga, dan satunya kelihatannya lebih sukses dan bisa menanganinya dengan cukup baik. Yang satunya lagi sepertinya perlu lebih banyak menaruh perhatian pada jalan hidupnya dan sesegera mungkin menyelesaikan urusan studinya, agar bisa mandiri dan menata diri lebih baik. Saran saya ke dia sederhana saja, tetap fokus pada studi, jangan terlalu mempersoalkan masalah rumah tangga ayahnya, dan saya juga mendorongnya untuk lebih rileks, carilah pacar untuk bisa memperoleh motivasi dan juga teman untuk sharing, sharing banyak hal. Sebagai anak-cucu Nabi Adam, kita semua sesungguhnya, sejatinya adalah keturunan nabi dan tentunya kita semua juga adalah nabi, dan semua kemampuan indigo itu sebetulnya mirip sekali kalau tidak mau dikatakan adalah persis kemampuan para nabi. Dalam banyak teori ajaran spiirtual, dituturkan dengan berbagai bahasa bahwa di dalam diri kita, atau di dalam kita itu bersemayam Dia, dan tentunya Dialah yang menganugerahkan kenabian kita dan kemampuan-kemampuan yang kadang lebih dari kemampuan manusia biasa. Pada beberapa ajaran spiritual, Hindu, Buddha dan beberapa ajaran Kawruh Jawa dan tentu banyak ajaran lain yang saya tidak bisa menyebutkan namanya, entah itu karena saya lupa atau karena saya belum pernah mengenalnya lebih dalam lagi, kemampuan batin di atas manusia normal ini bukannya merupakan suatu berkah semata, tapi sangat mungkin dan melalui penjelasan yang cukup panjang dan kompleks, dikatakan merupakan upaya yang berlangsung lebih dari satu kali kehidupan, hasil dari pemumpukan kebaikan dan pelatihan diri-batin dari beberapa kehidupan. Salah satu yang masih bisa kita temukan jejaknya dengan cukup baik dan lengkap di antaranya adalah Shri Sathya Sai Baba, lalu ada Yang Mulia Dalai Lama dan para Lama terkenal lainnya, banyak yang bisa dilacak kehidupan masa lalunya yang juga adalah Lama yang mumpuni. Dan mereka semua itu adalah indigo asli, tulen. Kemampuan batin dari para indigo itu, tidaklah serta merta muncul dan bisa disaksikan, dan seringkali membutuhkan pelatihan dari ahli yang bisa membina mereka dengan baik. Anda bisa mencari tulisan dan penjelasan tentang bagaimana proses untuk menemukan reinkarnasi dari Dalai Lama, yang merupakan salah satu contoh yang paling mudah ditemukan dan masih dipergunakan sampai hari ini. Selain itu ada juga ritual lainnya pada etnis-etnis di dunia ini yang sebetulnya untuk melihat juga kecenderungan pribadi seorang anak dan siapa dia di masa lalu. Fenomena Indigo ini sebetulnya sudah kuno sekali dan dalam banyak kisah atau literatur kuno, banyak di uraikan bagaimana anak-anak yang dianggap keturunan dewa, malaikat atau orang sakti jaman dulu itu dipuja-puji dan memang sebagian dari mereka ada yang lalu menjadi pendiri kerajaan atau menjadi raja besar dan sebagian lagi lalu berakhir menjadi orang gila, mati muda atau sekedar menjadi orang biasa atau juga rohaniawan. Anak indigo katanya lebih cerdas dari orang awam umumnya, katakanlah ini bisa disebut sebagai memiliki kapasitas memori yang jauh lebih besar dari orang banyak, ada sebagian atau beberapa anak yang memiliki kemampuan fotografik, paling tidak saya kenal satu di antara teman saya yang bisa hehehe. Mengamati dari teknik konfirmasi atau pengecekan atas kelahiran kembali seorang Dalai Lama, kita bisa melihat bahwa, perlu waktu dan proses perkembangan biologis yang memadai untuk bisa menjadikan kemampuan seorang anak indigo itu bisa terlihat. Sang Buddha yang awalnya disebut Pangeran Siddharta saja membutuhkan usia balita untuk bisa memperlihatkan kualitasnya sebagai indigo kelas wahid atau nomer satu. Umumnya proses konfirmasi dalai lama itu dilakukan sesudah usia lima tahun, anda bisa mencek sendiri persisnya. Tanpa proses pelatihan yang baik, sebagian besar kemampuan seorang anak indigo itu akan tersimpan di dalam dirinya, seperti komputer yang memiliki spesifikasi besar, hard disk besar, tapi tidak on line dengan jaringan internet, jadi yang terlihat ada cuma apa yang dia terima dari interaksi dengan sekitarnya, dan seringkali bias-biasnya kemampuan batinnya itu bisa muncul samar-samar dan sedikit-sedikit, minimal dalam bentuk perlindungan diri atau semacam alert system untuk menjaganya dari bahaya kematian atau terluka parah. Kemampuan ini pun bisa hilang atau tertutup, jika yang bersangkutan itu tidak mau perduli dan menganggap sistem peringatan dini dari dirinya itu sebagai sebentuk halusinasi. Anak indigo umumnya punya kecerdasan yang tinggi, IQ yang tinggi, namun bukan setiap anak yang memiliki IQ yang tinggi itu bisa dikatakan indigo, bisa saja seseorang yang punya kecerdasan tinggi itu mempunyai minat belajar yang baik dan rajin membaca sehingga waktu dilakukan test terhadap kemampuan intelektualnya, hasilnya bisa diatas rata-rata. Seorang anak indigo itu bisa saja cerdas namun tidak melihat keuntungan dari memperlajari apa yang diujikan dalam test intelektual itu dan lalu hasilnya bisa juga tidak mengesankan, ini terutama sekali bisa terjadi karena si anak indigo itu mempunyai kemampuan intuisi yang kuat dan bisa melihat arah dari apa yang disodorkan kehadapannya dan dia sebetulnya memutuskan untuk tidak ikut bermain atau tidak ingin memberikan jawaban yang memuaskan. Walaupun tentu saja bisa juga karena dia tidak tahu sama sekali atas jawaban dari pertanyaan itu. Yang pasti bahwa sistem bekerja anak indigo itu akan lebih intuitif dari pada anak yang cerdas yang pada umumnya, seperti yang telah saya uraikan diatas tadi, ketika komputernya on line dengan sistem komunikasi dunia, tentu jawaban atas semua pertanyaan itu bisa diberikan, hanya mungkin detail atau spesifiknya itu bisa jadi berbeda dan tidak persis sama. Intuisi yang kuat dan kemampuan untuk melihat proses kehidupan dan melihat latar belakang dari segala sesuatu yang muncul di hadapannya, entah itu orang, fenomena alam dll, membuat seorang anak indigo itu memahami dan mengetahui apa dan kenapa sesuatu itu terjadi dan lalu memberikan respon atasnya. Inilah yang mungkin menjadi alasan kenapa dikatakan seorang anak indigo itu bisa sangat empati kepada seseorang atau sesuatu, dan bisa juga sangat tidak simpati, bisa saja dia mengetahui bahwa seseorang yang meninggal itu ternyata sangat kejam dan pantas untuk meninggal dengan cara menggenaskan, atau, seseorang itu demikian baiknya tapi lalu mesti menjadi korban salah tembak, semata-mata karena kehidupan masa lalunya saja yang salah. Entah juga... :) Menilik dari latar belakang munculnya istilah indigo ini, berkembang di awal tahun 1980 an, terutama sekali dikalangan para penganut agama New age yang umumnya mencoba mencari jalan untuk bisa melepaskan diri dari ajaran-ajaran spiritual utama (main stream spiritual ways-baca agama-agama besar) walaupun sebagian besar dari mereka itu bisa jadi merupakan sempalan dari ajaran spiritual utama atau paling tidak mengutip banyak bagian dari ajaran spiritual utama itu dan lalu mengolahnya seperti yang diinginkan oleh pencetusnya. Kalau kita mau sedikit melihat referensi dari wikipedia, disebutkan bahwa konsep anak indigo itu pertama kali dipublikasikan di tahun 1999 oleh suami istri Lee Carrol dan Jan Tober melalui bukunya yang berjudul "The New Kids Have Arrived". Melalui buku itu Caroll bersikeras bahwa konsep yang mereka tulis itu diperoleh melalui diskusi dengan mahluk spiritual yang disebut Kryon. Dan masih dari wikipedia juga, alasan akan penggunaan kata indigo ini pun masih belum disepakati oleh para ahli. Dari sisi itu, rasanya kita mungkin bisa menduga-duga bahwa konsep anak indigo ini berkembang dari kerinduan masyarakat yang jenuh dengan kondisi yang "begini-begini saja", "biasa-biasa saja" dan lalu agar ada suatu greget, suatu tantangan atau daya tarik, muncullah ide untuk mencuatkan pandangan bahwa akan ada anak-anak yang bisa menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ya, di tanah air kita sendiri konsep semacam itu sudah lama ada, dan istilahnya sih cukup keren juga,"Ratu Adil" dan "Satria piningit", dan banyak di antara masyarakat kita yang menelan kedua istilah itu mentah-mentah dan secara harafiah mengharapkan adanya sosok Ratu Adil dan Satria piningit yang akan muncul di dunia ini untuk menyelamatkan negara kita ini, walapun secara filsafatis para ahli filsafat di Indonesia, telah berulang-ulang mengatakan bahwa nenek moyang kita itu sangat piawai untuk menggunakan simbol-simbol dan bahasa rahasia untuk menyampaikan pesan kepada kita, anak-cucunya dan jangan lalu menelan kedua istilah itu mentah-mentah. Memperbaiki negara kita itu ibarat memindahkan gunung Himalaya dari tibet sana ke laut jawa dan itu kalau mau menggunakan jasa Jin, nah, lalu apa kita mau menggunakan jasa Jin juga untuk mengatasi kondisi negara kita ini? Tentu saja tidak dan cara yang terbaik tentu dengan melihat akar permasalahannya yang sebetulnya sederhana saja, pertama rasa nasionalisme atau cinta bangsa dan tanah air kita itu metilah memadai (sukur kalau bisa "Tinggi") dan yang kedua rasa keadilan dalam batin kita itu mestilah baik dan benar. Dengan kedua hal itu lalu anda dan saya akan bisa menjadi Satria Piningit yang sejati dalam kehidupan kita sehari-hari dan dengan demikian lalu proses perbaikan dalam kehidupan kita itu bisa berjalan. Dan secara perlahan, gunung Himalaya itu berarti mulai kita pindahkan ke laut jawa, agar negara kita kembali menjadi pusat dunia. Ketika anda bisa membangun rasa nasionalisme dalam diri anda, rasa keadilan dalam diri anda itu telah berkembang dengan baik, tentu siapa yang menjadi pemimpin itu bukanlah masalah pokok lagi karena toh semuanya akan berjalan dengan lancar dan baik, lalu kita akan hidup dengan gemah ripah loh jinawi atau penuh kaya dan nikmat, sentosa. Dengan perubahan alur dari diskusi soal indigo dan lalu menjadi Satria Piningit itu anda tentu akan bertanya, kemana SJW akan membawa kita kali ini. Dan sebetulnya saya ingin anda dan saya untuk tidak terlalu jauh larut dalam fenomena yang muncul seputar anak indigo ini yang sebetulnya anda dan saya adalah anak-anak Indigo, kita semua adalah anak indigo, karena kita sebagai anak cucu Nabi Adam itu punya misi untuk mengisi kehidupan dengan kebaikan, dengan kasih. Dan kita punya kewajiban untuk belajar memahami esensi kehidupan itu dengan baik. Indigo itu hanyalah suatu istilah yang dipopulerkan oleh bangsa barat baru dalam kurun waktu tidak lebih dari lima puluh tahun (kurang-mungkin), sementara, kita, orang timur, orang Indonesia, orang India, orang Tiongkok, Melayu (malaysia dll), Vietnam dll itu telah hidup dalam kultur yang mengenal anak-anak pilihan dan turunan dewa-dewi, malaikat, titisan dewa dll itu berabad-abad, bahkan ribuan tahun. Selalu ada anak-anak jeius yang lahir dikalangan kita dan tentu saja pendidikan terhadap mereka itu mesti dibuat berbeda, karena mereka bisa berpikir berpuluh, beratus kali lebih cepat dari pada anda dan saya, apa adil kalau kita membuat mereka mesti menunggu dan jadi bosan, frustasi lalu bunuh diri atau gila? Dan ukuran-ukuran kejeniusan ini tentu telah banyak yang bisa melakukannya dengan baik. Namun, tentu tidak akan baik kalau kita melangkah terlalu jauh dan mengukur sesuatu yang semestinya tidak diukur alias menggantang asap, mengukir langit. Anak indigo itu butuh perlakuan yang wajar dan alami, bukan perlakukan khusus, mungkin dari sisi intelektualnya iya, dari sisi non intelektualnya tentu saja perlu, tapi tidak lalu diperlakukan seperti dukun atau paranormal, apa lagi di mintain Nomer..... Minta nomer nih yeee..... 050307
Diskusi dan pertanyaan mohon di kirim ke japri;[EMAIL PROTECTED] Bagi pengguna Skype, bisa menghubungi saya dengan ID: siao.jin.wan --------------------------------- Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get things done faster.
