Kompas, Kamis, 15 Maret 2007
Disiplin Aparat
Polisi Tewas Ditembak Anggotanya
Semarang, Kompas - Wakil Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang Ajun
Komisaris Besar Lilik Purwanto, Rabu (14/3) pagi, tewas ditembak anak buahnya
sendiri, Briptu Hance Christianto. Hance sendiri akhirnya juga tewas ditembak
anggota Satuan Reserse Mobil Kepolisian Wilayah Kota Besar Semarang.
Lilik, perwira menengah lulusan Angkatan Bersenjata RI tahun 1986, ditembak di
ruang kerjanya. Diduga, Hance tak puas atas mutasinya ke Kepolisian Resor
(Polres) Kendal, Jawa Tengah.
Sejumlah saksi mata menyebutkan, sekitar pukul 07.30 Hance, yang selama ini
bertugas di Unit Pelayanan Pengaduan dan Penegakan Disiplin itu, mendatangi
ruangan Ajun Inspektur Satu Titik Sumartini, staf Urusan Administrasi Umum. Ia
menanyakan soal mutasi dirinya.
Titik lalu menunjukkan surat perintah penghadapan Hance ke Polres Kendal. Hance
yang tidak bisa menerima mutasi itu lalu marah dan menodong Titik dengan
pistolnya.
Dengan menyandera Titik, Hance datang ke ruang kerja Lilik di lantai II untuk
menanyakan soal mutasi. Sempat terjadi negosiasi, tetapi Hance tak puas. Sambil
tetap menyandera Titik, Hance kemudian mengunci pintu.
Sekitar pukul 08.00 terdengar tembakan beberapa kali dari dalam ruang kerja
Lilik. Pada saat bersamaan, datang petugas dari Satuan Gegana Kepolisian Daerah
(Polda) Jateng. Bersama Satuan Resmob, mereka mengepung ruang kerja Lilik.
Meski dibujuk oleh rekan-rekan, atasan, orangtua, hingga istrinya, Hance yang
sehari-hari dikenal ramah itu tak juga mau menyerah. Ia malah memuntahkan
tembakan ke penjuru ruangan. Akhirnya, petugas Resmob menembak Hance dari celah
lubang angin. Hance pun tewas.
Atas penembakan terhadap Hance itu, Kepala Polda Jateng Irjen Dody Sumantyawan
menyatakan, hal itu terjadi karena yang bersangkutan melawan.
Kegagalan Polri
Pakar kepolisian dari Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang Dr Erlyn
Indarti menilai peristiwa itu merupakan contoh menurunnya legitimasi dan
kewibawaan polisi di hadapan masyarakat dan lingkungannya sendiri. Hal ini
seharusnya menjadi lampu kuning bagi kepolisian agar segera memperbaiki diri.
Kriminolog Universitas Indonesia Erlangga Masdiana menilainya sebagai kegagalan
institusi Polri dalam pembinaan personel akibat buruknya sistem perekrutan
anggota, pendidikan, hingga pembinaan personel. "Institusi Polri sedang sakit,"
katanya.
Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto berjanji akan memperketat pemeriksaan
psikologis bagi polisi yang memegang senjata api. Seleksi ketat juga dilakukan
saat perekrutan anggota Polri. (HAN/AB1/BUR/SF/TRA/INA//MSH)
---------------------------------
Sucker-punch spam with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.