Kompas, Kamis, 15 Maret 2007                                                    
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                                                                                
                       
 Anak Nelayan Putus Sekolah 
 
Jakarta, Kompas - Satu per satu anak nelayan di kawasan pantai Jakarta Utara, 
terutama di Kecamatan Cilincing, saat ini putus sekolah akibat terus 
memburuknya kehidupan keluarga mereka. Bersamaan dengan datangnya cuaca buruk 
yang menyertai musim barat, sudah lebih dari dua bulan ini para nelayan di 
kawasan itu tidak bisa melaut. 
"Bahkan, ada yang sudah tiga bulan tidak melaut. Namun, yang benar-benar tidak 
bisa melaut adalah selama dua bulan terakhir ini. Kalau kondisinya sudah 
demikian, bagaimana mungkin kami mendapatkan uang," kata Daya Muhamad (41), 
warga Kalibaru, Cilincing, Rabu (14/3). 
Akibat kehilangan sumber pendapatan selama lebih dari dua bulan, keluarga 
nelayan tidak saja sulit memenuhi kebutuhan hidup, tetapi kini melebar pada 
persoalan pendidikan anaknya. "Saya punya anak empat orang. Dua orang, Suhaemi 
dan Dede, sempat sekolah, tetapi sekarang putus," kata Daya. 
Memang uang sekolah tidak dipungut, tetapi untuk kebutuhan yang terkait 
langsung dengan proses belajar, seperti alat tulis dan perlengkapan sekolah 
lain, tetap menjadi tanggungan orangtua. "Anak saya memang sekolah gratis, 
tetapi untuk beli buku tulis, pensil, pulpen, kaus kaki, dan sepatu tetap perlu 
uang. Dari mana saya bisa dapat uang," kata S Adi (33), nelayan Cilincing, ayah 
tiga anak usia sekolah. 
Adi sudah tiga bulan tidak melaut karena armada perahu motor kecil miliknya 
tidak bisa melawan gelombang tinggi. Jarak tempuh untuk melaut pun hanya bisa 
mencapai tiga mil laut. 
"Uang untuk keperluan sekolah anak saya tidak bisa diperoleh lagi. Anak pertama 
di kelas tiga SMP, anak kedua kelas satu SMP, dan paling kecil di kelas tiga 
SD. Dua anak terakhir sudah berhenti sejak tiga minggu lalu," katanya. 
Kasus serupa dialami Kadir (35) dan Abidin (38) yang juga nelayan di Kalibaru. 
Abidin yang juga mempunyai tiga anak saat ini merasakan bahwa cuaca buruk yang 
menghambat usaha mencari ikan di laut menimbulkan banyak kesulitan. "Saya 
sering sedih kalau memikirkan kelanjutan sekolah anak. Meski gratis, tetapi 
tidak bisa membeli perlengkapan belajar. Jangankan untuk sekolah, untuk makan 
sehari-hari saja saya harus bon ke mana-mana," kata Abidin. 
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Wilayah DKI Jakarta Yan Winatasasmita 
mengakui adanya problem itu. Kondisi itu harus dimaklumi karena lebih dari dua 
bulan nelayan tidak bisa melaut. 
Dalam sebulan, total nelayan Jakarta merugi Rp 3,5 miliar. Kehidupan keluarga 
nelayan kini terjebak rentenir. Pihaknya sedang meminta keringanan sekolah bagi 
anak nelayan. (cal) 

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

Kirim email ke