Kompatiologi: Zaman Feodal menuju Zaman Pedagang ditulis oleh: Vincent Liong / Liong Vincent Christian
Pengantar Ada suatu masa dimana antar saudara saling berdagang, anak terlibat tawar menawar dalam berdagang dengan bapaknya, suami berdagang dengan isterinya. Antara mertua dan menantu juga saling berdagang. Zaman itu nanti bisa katakan sebagai zaman pedagang. Sadar tidak sadar dalam hubungan egaliter, seorang ayah membutuhkan keinginan anaknya untuk mau mengerjakan PR dan si anak membutuhkan ayahnya untuk membelikannya DVD Playstation. Proses tawar menawar dalam dagang ini bisa terhambat (stop prosesnya) bila sang ayah mampu menceramahi anaknya, hingga anaknya meyakini pola pikir yang hirarkis bahwa seorang anak harus mengikuti nasehat orangtua agar menjadi anak yang baik dan disayang orangtua. Saya menggunakan contoh sederhana ini untuk menjelaskan bagaimana pemegang money capital dalam kapitalisme berusaha untuk menggiring masyarakat umum agar tetap berpegang pada believe sistem tentang rasa aman yang menjamin hidup seseorang. Seperti kalimat saya di atas, seorang anak harus mengikuti nasehat orangtua agar menjadi anak yang baik dan disayang orangtua.Maka seseorang diarahkan untuk sekedar mengikuti aturan main pemegang money capital dengan pertimbangan bahwa apa yang dilakukan di masa lalu akan mempengaruhi apa yang terjadi di masa depan dengan logika yang linier. Seperti orang dididik agar sekolah setinggi mungkin (S1, S2, S3, dlsb) hingga lulus sekolah, yang artinya start menjadi belum lulus/sukses di dunia kerja. Sama seperti orang dididik untuk meyakini bahwa memiliki pekerjaan yang tetap selama mungkin membuat dirinya terjamin secara jangka panjang, padahal kapan saja dia bisa dipecat. Kemungkinan orang tsb untuk mendapatkan tawar menawar yang lebih baik dengan berpikir pada ketidakpastian jadi tertutup, padahal melepaskan pekerjaan yang satu berarti bisa tidak mendapatkan penghasilan atau mendapatkan peluang yang lebih besar dari pekerjaan sebelumnya. Maka dari itu banyak murid ilmu kompatiologi yang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya dan memilih hidup dalam ketidakpastian. Saya sendiri (Vincent Liong) memutuskan meninggalkan fakultas Psikologi universitas Atma Jaya karena menyadari bahwa realita di ruang kelas tidak sama dengan realita di luar ruang kelas. Vincent Liong sebagai penulis, peneliti dan pendiri ilmu kompatiologi, tidak lulus matakuliah-matakuliah semester pertama, misalnya: Metodologi Penelitian 1 (Vincent 2x tidak lulus dengan nilai E). Psikologi Umum 1 (Vincent 2x tidak lulus dengan nilai E). Dan banyak matakuliah prasyarat lainnya yang bidangnya sama atau mirip dengan bidang yang amat dikuasai Vincent di luar ruang kelas mendapat nilai E atau paling bagus D alias tidak pernah lulus sampai tua. Jika dihitung bahwa seorang mahasiswa di fakultas psikologi Unika Atma Jaya biasanya lulus dalam 4 tahun, maka jika Vincent Liong harus mengulang matakuliah masing-masing hanya 3x maka setidaknya akan lulus S1 Psikologi dalam 12 tahun atau lebih. Orang lupa bahwa sebelum melihat ke masa lalu dan ke masa depan kita harus ingat pada masa kini. Bahwa di masa kini, kita di posisi seperti seorang anak yang menginginkan memiliki playstation. Bahwa dengan atau tanpa melakukan tawar-menawar, berdagang dengan orangtua untuk mendapatkan playstation tetap tidak ada yang menjamin masa depan saya. Maka dari itu untuk mempropagandakan secara luas dan cepat pemahaman tentang zaman berdagang yang akan segera tiba, maka saya membuat ilmu yang namanya kompatiologi. Makna Kompatiologi Kompatiologi sebagai ilmu Komunikasi Empati adalah ilmu yang sifatnya memberi penguasaan individu, bahwa dalam bidang apapun, suatu pemerosesan informasi selalu terdiri dari dua kegiatan: Penyerapan abstraksi data (data abstrak) dan Penerjemahan data ke dalam bahasa-bahasa dengan range yang lebih spesifik (data kongkrit). Ketika data di tahap kegiatan abstraksi data (data abstrak), maka data disimpan dalam bentuk sampling sebagai suatu pemposisan diri tertentu terhadap skala dan range yang mencakupinya. Suatu data yang sifatnya abstrak bisa ditranslate menjadi range bahasa yang satu dan bisa juga ke range bahasa yang lain. Misalnya; * Karakteristik rasa makanan memiliki range yang memiliki titik referensi manis, asin, asam, pahit dan pedas. Setiap sample data tentang satu jenis karakteristik makanan disimpan sebagai satu pemposisian diri terhadap titik referensi manis, asin, asam, pahit dan pedas ;dan menjadi bagian dari range rasa makanan. * Intensitas cahaya memiliki range dari skala interval sample warna yang paling terang ke paling gelap. Tiap sample warna spesifik memiliki pemposisian diri terhadap range dan skala-skala intensitas cahaya. * Range tubuh fisik manusia terdiri dari skala berupa anggota-anggota tubuh dari kaki sampai kepala. Setiap satu anggota tubuh dari yang besar sampai yang kecil memiliki pemposisian diri yang spesifik dalam range tubuh fisik manusia. Misalnya kalau kita bicara tentang hidung maka bila kita bahas dalam range dan skala: range tubuh fisik manusia -> Kepala -> kepala bagian depan / muka -> hidung. * Range perasaan binatang terdiri dari titik referensi: approve >< defense dan send >< recive. Setiap sample projeksi perasaan binatang memiliki pemposisian diri yang spesifik terhadap range perasaan binatang tsb. * Range komunitas keluarga terdiri dari skala ayah, ibu, anak sulung, anak tengah, anak bungsu, dlsb. Tiap anggota keluarga memiliki pemposisian diri yang spesifik terhadap skala-skala / tiap anggota keluarga. Tanpa perlu belajar secara khusus definisi, bahasa, norma, dlsb ;tiap manusia dan binatang mampu secara alamiah membedakan posisi sample data, skala, titik referensi ;sebagai bagian dari range dengan bahasa spesifik. Suatu pemposisian diri sample data terhadap range bisa ditranslate ke dalam bahasa yang berbeda-beda misalnya: Sample dengan pemposisian diri rasa X pada range rasa makanan, memiliki pemposisian diri warna X pada range intensitas cahaya, memiliki pemposisian diri bagian tubuh X pada range tubuh fisik, dan memiliki pemposisian diri perasaan X pada range perasaan. Propaganda Kapitalisme, Liberalisme, Marksisme & Komunisme Kapitalisme (money capital) adalah naluri yang alamiah. Seperti anda mencintai keluarga anda dan berusaha dengan segala kekuasan anda untuk memberikan fasilitas spesial pada anggota keluarga anda saja, bukan orang asing; Maka di negara barat kapitalisme berjalan dengan membuat kelompok-kelompok eksklusif entah itu berdasarkan garis keturunan keluarga atau ras atau dengan pola yang lain seperti keluarga The God Father saja, dan membiarkan masyarakat kebanyakan hidup di lingkungan yang liberal dan tidak efisien secara ekonomi ala sosialis, dengan tunjangan sosial yang tinggi, standart hak asasi manusia yang baik dan tingkat ekonomi yang hampir seragam. Karena ketidakefisienan ini maka adalah hal yang penting untuk menjaga agar kenyamanan yang ideal tsb tetap terjaga di masyarakat umum di negara kapitalis, sehingga kenyamanan yang lebih eksklusif di kelompok money capital akan terjaga keabadiannya. Jangan sampai terusik oleh perubahan zaman feodal menuju zaman pedagang diamana sistem produksi yang kalah efisien secara ekonomi akan terpaksa gulung tikar. Usaha untuk menghambat proses transisi dari Zaman Feodal menuju Zaman Pedagang sudah banyak dilakukan oleh pemegang money capital. Salah satunya yang paling penting adalah dengan cara mempropagandakan konflik pemikiran tentang Kapitalisme, Liberalisme, Marksisme & Komunisme. Marksisme berawal dari masalah Kapitalisme (Money Capital) yang artinya kekuasaan dipegang oleh segelintir orang. Pada tahap ini pemahaman tentang samarata-samarasa menjadi pilihan disebabkan kebutuhan untuk mendobrak tatanan berupa believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb yang dibuat untuk tujuan agar pemegang money capital tetap berkuasa secara tidak egaliter terhadap proletar berdasarkan keyakinan (believe sistem) tsb. Pada tahap selanjutnya seperti yang dilakukan RRT (Republik Rakyat Tiongkok), ketika permasalahan tentang perbedaan kekuasaan akan keyakinan yang jauh antara pemegang money capital dengan proletar sudah teratasi (believe sistem hirarkis yang tidak rasional sudah dibersihkan dari pikiran masyarakat), maka tidaklah efisien untuk tetap fokus pada masalah samarata-samarasa. Maka dari itu banyak perusahaan yang disita oleh negara pada masa pembersihan, dikembalikan ke pemilik asalnya atau mendapat ganti rugi yang layak. Prinsip samarata-samarasa hanyalah sekedar pilihan pada masa tertentu, tetapi bukan tujuan utama paradigma dasar Marksisme sendiri yaitu: Kesamaan kesempatan / terbukanya kemungkinan yang sama bagi setiap orang, pendobrakan sistem (tatanan yang menggunakan believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb) agar pemegang money capital tetap berkuasa. Maka tahap selanjutnya adalah pemahaman tentang survival for the fittest ala Darwin yang dijadikan fokus utama. Dalam usaha untuk survive, manusia harus memiliki kemampuan analisa yang tidak terkotak-kotak / terbatasi oleh paradigma (believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb) versi money capital untuk tetap terus berkuasa. Hasil dari kegiatan menganalisa tsb digunakan untuk sebagai pertimbangan (antisipasi terus menerus) dalam menentukan strategi (keputusan yang diambil). Ini persis seperti yang dilakukan masyarakat RRT saat ini. Maka dari itu yang paling ditakutkan oleh blok barat adalah kemampuan dialektika yang dimiliki oleh penganut marksisme. Blok barat tidak begitu takut pada masalah samarata-samarasa & soal kemenangan bagi kaum proletar karena tetap dalam bidang ekonomi kesamaan / keegaliteran tingkat ekonomi memang mustahil tercapai. Sayang memang bahwa marksisme di Indonesia masih fokus pada masalah samarata-samarasa dalam bidang ekonomi. Ini yang akan mudah sekali dimanfaatkan oleh yang berkepentingan untuk menghambat perkembangan ekonomi di negara ini. Dengan fokus pada prinsip samarasa-samarasa tanpa memperhatikan kebutuhan untuk bermain dialektika demi survive di tengah persaingan bebas; Maka akan membawa negara ke arah yang berlawanan dengan tujuan dasar marksisme sendiri, karena sudah masuk pada pemposisian peran kambinghitam dalam propaganda believe sistem ala barat, yang efek sampingnya malah memperkuat kelekatan masyarakat akan sistem / tatanan yang menggunakan believe sistem, pelabelan, penormaan, dlsb untuk kepentingan money capital. Marksisme & Liberalisme Bilamana para pejuang marksisme telah mencapai tahap pemahaman dialektika lebih dari sekedar pemahaman samarata-samarasa di bidang ekonomi, maka efek sampingnya adalah liberalisme yang benar-benar liberal. Efek dari kondisi tsb adalah bersaingan bebas yang bahkan tidak bisa diatur lagi oleh para pemegang money capital (kapitalisme). Hal dialektika inilah yang menjadi ketakutan negara-negara barat bahwa suatu hari nanti sistem ini akan membuat dunia terlalu liberal dalam kondisi persaingan di bidang ekonomi. Oleh karena itu cara yang harus diambil adalah dengan menggunakan alasan agama (believe sistem) karena agama bersifat yakin yang tanpa perlu ada bukti & bersifat masabodo pada penjelasan-penjelasan termasuk yang rasional sekalipun, untuk menghambat penyebaran paham dialektika yang adalah dasar dari marksisme yang bertujuan memberikan peluang berdagang yang lebih adil (egaliter). Negara-negara pemegang money capital tsb tahu bahwa pemahaman dialektika ini tidak bisa dihentikan, misalnya pengaruh dialektika pada perkembangan ekonomi RRT belakangan ini. Yang bisa dilakukan adalah menghambat sebanyak mungkin negara untuk berkembang pemikirannya sampai pada tahap ini sehingga makin lama waktu sisa yang bisa dinikmati oleh para pemegang money capital yang sifatnya normatif yang kalah efisien kemampuan produksinya dari pengguna dialektika seperti RRT sebelum akhirnya penguasaan (money capital / kapitalisme) tsb akhirnya harus lengser juga karena tidak ada negara sapi perah lagi yang bisa dimanfaatkan. Bagaimanapun asia akan menjadi pusat ekonomi dunia, hanya tunggu waktu saja. Nah, untuk Indonesia, pertanyaannya: Mau di urutan ke berapa sebagai negara membebaskan diri dari kekangan aturan-aturan dogmatis & normatif yang dibuat pemegang money capital ; Sebelum Indonesia beralih ke berpikir dialektik dalam mengembangkan tingkat ekonomi negara ini secara efisien bukan dengan alasan saling mentoleransi atas dasar normatif sehingga tidak efisien, seperti keluarga mencintai anggota keluarganya. Ttd, Vincent Liong Jakarta, Sabtu, 14 April 2007
