Dear all, Benar yang dikatakan Pak Hendarwin, penting sekali kita membangun hubungan yang setara dengan dokter. Saya juga pernah mengalami apa yang beliau alami, berganti-ganti dokter sehingga menemukan dokter yang "pas", yaitu yang mau berkomunikasi terbuka dengan saya. Memang tidak mudah menemukan dokter yang "sempat berkomunikasi" dengan pasiennya. Cara yang saya tempuh adalah sbb: 1. Saya beranggapan semua dokter sama pandainya, minimal mereka telah menempuh jenjang pendidikan yang sama dan standar mutu yang tidak terpaut jauh. Dokter baru/yunior unggul karena ilmunya masih fresh (belum lupa dan masih mempraktekkan prosedur2 standar yg didapat dari bangku kuliah), dokter senior unggul karena banyak pengalaman. 2.a. Saya menghindari dokter yang terlalu laris, tidak peduli seberapa pun terkenalnya dia. Semakin banyak pasien seorang dokter, semakin sedikit ia punya waktu untuk saya (baca: pasiennya). Tidak ada gunanya dokter terkenal kalau tidak punya waktu untuk mendengarkan penjelasan saya maupun memberi penjelasan kepada saya. 2.b. Saya selalu mengawali pengobatan dari dokter umum, dengan keyakinan bahwa semua dokter umum pasti bisa mengenali kegawatan suatu penyakit dan akan merujuknya bila perlu. Keunggulan dokter umum (dari pengalaman saya yang selalu melihat kandungan generik suatu obat dan juga membandingkan dosis yg diberikan dokter dengan dosis dari pabrik) adalah lebih realistis dalam memberi obat, tidak terlalu "berani" dalam menetapkan dosis maupun merk/harga obat. 3. Saya datang 1/2 jam menjelang jam praktek tutup. Biasanya sudah sepi atau bahkan tidak ada pasien lain dan saya bisa ngobrol leluasa dengan dokter, bahkan sampai jam prakteknya lewat :) 4. Beruntung sekali 30 meter dari rumah saya ada klinik "kampung". Yang praktek di sana dokter2 yang very fresh graduate. Pemiliknya tidak kalah fresh-nya, baru beberapa bulan yl diangkat menjadi dokter puskesmas. Tetapi dokter di sana (terutama pemiliknya) sangat mencerdaskan saya. Apapun pertanyaan saya dijawab dengan sangat gamblang, bahkan sering sebelum saya bertanya dia sudah menjelaskan segala sesuatu yang terkait dengan penyakit yang saya hadapi. Kadang tidak segan-segan menerima masukan dari saya, lo! Untuk konsultasi selama 15-30 menit sekaligus 3-4 macam obat generik/paten untuk 3 hari, total biayanya hanya Rp 22-30 ribu. Untuk penyakit sehari-hari biasanya sekali datang sudah cukup/sembuh, kalaupun harus kontrol biayanya lebih murah lagi karena dokternya jadi gratis.
Bagaimana pun, pilihan ada di tangan kita kok. Boleh saja sih kalau lebih suka dokter Singapura, Belanda, atau Amerika asal siap dengan segala plus-minusnya.... Salam, Titah ----- Original Message ----- From: i_am_hendarwin To: [email protected] Sent: Friday, June 30, 2006 6:54 PM Subject: [Dokter Umum] Re: image dokter indonesia Dear docters dan miliser, Saya pikir semuanya punya point kebenaran juga. Pengalaman saya pribadi, sblmnya saya menyerahkan judgment medis ke dokter, yg ternyata banyak sekali yang irrational use on drugs (IRUD) dan irrational diagnosis. Stlh saya 'dibuka pikiran' oleh dr. Purnamawaty (pengasuh milis SEHAT), saya mulai sadar medis, belajar cari tahu ttg medis, dan belajar membangun "dialog yg setara" dgn dokter, hasilnya saya 'berganti' beberapa dokter sblm bertemu yg PAS. Apa yg "PAS", ternyata adalah yg mau berkomunikasi terbuka dgn pasien, spt yg dicontohkan dr. Yossi. Sayangnya jumlah yg seperti itu sedikit sekali. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Check out the new improvements in Yahoo! Groups email. http://us.click.yahoo.com/6pRQfA/fOaOAA/yQLSAA/wrSolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

