Posted By ardanews to ARDA NEWS at 7/15/2008 11:43:00 PM
Zaman Edan dan Predikat Religius Indonesia
Oleh: ARDA DINATA
Email: [EMAIL PROTECTED]

PREDIKAT negeri yang religius, beradab dan bermoral merupakan sesuatu yang 
menyejukkan sekaligus membikin hati ini berbangga diri. Siapa sih orangnya yang 
tidak mau menerima predikat semacam itu. Namun demikian, bukan berarti tidak 
ada konsekuensi yang mesti dinilai melalui bahasa tingkah laku.

Adanya predikat religius yang melekat dalam keseharian negeri ini, harusnya 
telah melahirkan suatu temperamen keteladanan dari mereka yang bersemayam di 
dalamnya. Keteladanan adalah bahasa tingkah laku yang adil dan tidak akan mudah 
dibohongi. Di kala negeri ini sangat sulit menemukan pigur dari predikat 
kereligiusannya, maka hati kecil kita pasti gelisah dan perih untuk menerima 
kenyataan serta mempertanggung jawabkan “buku religius” yang kepalang mendera 
rapor negeri ini.

Sungguh tidak sedikit, keganjilan dan kemunafikan itu muncul dan bertebaran di 
sisi-sisi kehidupan rakyat Indonesia. Mulai dari kalangan bawah sampai 
(lebih-lebih) kalangan elite yang sering kali terekspos oleh berbagai media 
massa. Korupsi, praktek amoral, hilangnya kedamaian dan kasih sayang sesama 
manusia ---seperti yang diusung ajaran Pancasila--- hanyalah sebuah nyanyian 
anak-anak jalanan. Ia hanya untuk mendapat pujian dan imbalan alakadarnya. Yang 
kadangkala ia berujung cacian dan tak bernilai sepeserpun.

Memang dalam hidup ini, seperti diakui Muhammad Subarkah, sepanjang matahari 
masih bersinar, kejahatan dan perbuatan anomali lainnya memang akan terus ada. 
Dan ceritanya tidak ada yang baru, tetap berkisar pada lingkup wilayah yang ada 
di sekitar pakaian dalam wanita: underrok. Dengan segala kemasan teknik cerita, 
alurnya akan sama saja. Persis syair lagu lama yang diulang terus-menerus.

Kota Sarang Maksiat

“Bacalah buku, maka Anda akan mendapat sesuatu yang baru,” ujar seorang bijak. 
Buktinya, memang benar. Dengan membaca buku kita mendapatkan sesuatu (bisa 
informasi atau fakta) baru yang dapat membuat hati ini menjadi tenang atau 
sebaliknya menjadi gelisah karena berisi kemunafikan yang terjadi antara 
kenyataan dan isi buku.

Paling tidak, hal itu didapat ketika Anda membaca buku karya Moammar Emka 
(2003), seorang santri dan jebolan IAIN Jakarta, yang berjudul: “Jakarta 
Undercover: Sex ‘n the City”, hati kita akan gelisah membaca fakta-fakta 
kemaksiatan yang terjadi di ibu kota Jakarta.

Melalui karya jurnalistik Jakarta Undercover-nya itu, Moammar tanpa basa-basi 
malah mengatakan bahwa Jakarta sama brengseknya dengan ‘kota-kota bangsat’ 
dunia lainnya. Dalam bahasa Subarkah, Moammar memang diakui sebagai manusia 
‘berhati singa’. Santri ini berani berterus terang bahwa Jakarta, meski tetap 
mengumandangkan adzan lima kali sehari, ternyata sudah tidak lebih dari 
Hongkong, Las Vegas, atau New York. Semua tidak ada bedanya. Bahkan terkesan 
menjadi lebih seram, karena anomali itu dilakukan di tengah suasana klaim 
khotbah religius dari para pengelola kotanya. Tak peduli itu orang Islam, 
Kristen, Katolik, Hindu, Budha, animisme, atau penganut agnostik sekalipun. 
Meskipun bejat, Jakarta enggan mengakui dirinya sebagai kota sarang maksiat.

Paling tidak, kita akan merinding tak kala melahap isi buku karya Moammar ini. 
Pasalnya, kita akan dibawa dalam cerita realitas kehidupan malam kota Jakarta. 
Moammar menceritakan sedikitnya 24 model ‘ritual’ seks di dunia malam yang 
tidak sembarang orang bisa masuk ke dalamnya.

Ada pesta nudies bawah tanah. Pesta ini dilakukan oleh puluhan laki-laki dan 
perempuan dalam sebuah pesta yang semuanya telanjang bulat. Tarifnya sangat 
mahal, karena untuk menjadi members selama enam bulan, seorang peserta harus 
membayar Rp 50 juta dengan pesta minimal dua kali.

Ada juga ‘Arabian Nite Bachelor Party’. Ini adalah pesta melepas ‘lanjang’ bagi 
laki-laki, sebelum ia melaksanakan pernikahan yang sah. Dinamakan ‘Arabian 
Nite’ karena wanita-wanita yang melayani kaum lanjang itu menggunakan cadar, 
namun mereka hanya menggunakan BH dan celana model Aladin dengan perut terbuka. 
Tarifnya Rp 20 juta untuk satu paket.

Selain itu, ada ‘Seks Bulan Madu Pajero Goyang’. Ini adalah gaya permainan seks 
di atas mobil-mobil mewah sekelas Pajero, BMW, atau Mercy sambil berkeliling 
kota Jakarta dengan tarif Rp 5 Juta. Pemilik bisnis ini mendesain mobil-mobil 
mewahnya menjadi sebuah kamar yang dengan jok kemudinya disekat sedemikian 
rupa. Ada pula ‘Seks Sandwich Sashimi Girls’, yakni sebuah pesta di mana daging 
sashimi (masakan khas Jepang) disuguhkan di atas wanita cantik yang tanpa 
sehelai pun busana. Itu baru pembuka sebelum pesta perayaan pelampiasan nafsu 
dilakukan.

Itulah beberapa fakta yang membikin merinding bila kita membacanya. Jadi, ibu 
kota Jakarta benar-benar ibarat makanan gado-gado, semua tumplek menjadi satu. 
Ekstrimnya, meminjam bahasa Subarkah, jangankan cuma cari surga dunia, di 
Jakarta neraka dunia pun tersedia! Naudzubillah.

Zaman Edan

Berbagai kerusuhan, pembunuhan, perzinaan, dan kemelut keresahan masyarakat di 
kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya kerap kali terjadi. Fenomena ini 
merupakan pertanda zaman fitnah (baca: edan) seperti yang pernah disabdakan 
Rasulullah saw. Sayangnya, masyarakat kurang memperhatikan sabda beliau 
sehingga tidak siap untuk menghadapi dan mengantisipasinya. Bahkan, di antara 
kita tidak jarang larut dalam keedanan.

Harusnya kita sadar betul akan makna hidup di dunia. Yakni kita diajarkan bahwa 
lingkungan alam merupakan politik yang paling adil. Artinya setiap kejadian 
alam yang terjadi harus menjadi bahan tafakur buat diri kita masing-masing. 
Sebagai contoh, bencana yang terjadi di kota Jakarta dan beberapa daerah 
lainnya, haruslah ditafakuri sebagai suatu cermin diri atas derajat religius 
perilaku kita. Bisa jadi, itu semua menjadi peringatan, pelajaran, atau azab 
yang menimpa kita. Inilah pelajaran hidup berlandaskan hikmah.

Aktualitasnya, bisa kita renungkan. Dulu, kota Jakarta paling tidak kalau musim 
hujan terjadi banjir dan pada musim kemarau terjadi kebakaran. Tapi, belakangan 
ini, pada satu musim ---baik musim kemarau ataupun hujan---, kedua bencana itu 
sering kali terjadi bergantian. Oleh karena itu, kita hendaknya harus mampu 
memaknai gejolak kehidupan yang mengarah pada ciri-ciri zaman edan tersebut 
dengan sikap yang bijaksana.

Dari beberapa keterangan hadis Rasulullah saw, kita menemukan tentang akan 
datangnya suatu masa atau zaman yang penuh dengan berbagai fitnah. Makna 
fitnah, ini bisa bermakna merajalelanya kerusuhan, pembunuhan, dan segala macam 
kemaksiatan, sehingga orang-orang beriman menghadapi tantangan luar biasa. Yang 
mengakibatkan mereka bingung menghadapi keadaan ini. Rasulullah saw 
menggambarkan banyak orang yang pagi harinya beriman, tetapi sore harinya 
kafir, atau sebaliknya.

Keadaan tersebut, diterjemahkan secara bebas oleh Drs.M Thalib (2000), dengan 
kata zaman edan. Dalam bahasa Indonesia kata edan menggambarkan orang yang 
tidak berakal atau melakukan perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan akal 
sehat.

Lebih jauh M Thalib dalam buku “25 Ciri Zaman Edan dan 20 Langkah 
Menghadapinya”, mengungkapkan ciri-ciri zaman edan itu diantaranya: masyarakat 
berebut mengumpulkan harta; umat Islam lebih cinta dunia dan benci mati; orang 
shalih lenyap; orang mencari ilmu Islam dari ahli bid’ah; banyak penyeru 
kesesatan; masjid dan Alquran hanya menjadi hiasan; muslim berat berpegang 
teguh pada sunnah Rasulullah; banyak terjadi kudeta; banyak orang tidak 
berbudaya menjadi pemimpin; penguasa memerintah tanpa ilmu dan menggunakan 
orang jahat sebagai pendukungnya; egoisme merajalela; banyak orang merusak 
janji dan amanah; watak plin-plan merajalela; banyak orang makan dengan 
lidahnya; perempuan miskin memaksakan diri meniru perempuan kaya; hiburan 
maksiat merajalela; perzinaan di mana-mana; yang kuat memakan yang lemah; 
kedurjanaan dan kedzaliman merajalela; sendi-sendi moral hancur; banyak terjadi 
kelaparan; banyak penyakit lumpuh dan kematian mendadak;
 keputusasaan merajalela; umat Islam saling bunuh; dan terjadi pembersihan 
etnis Arab di negeri ‘Ajam.

Menyimak ciri zaman edan itu, setidaknya ada tiga karakter yang sangat 
mendukung terhadap fakta yang diungkap dalam bukunya Moammar bahwa kota Jakarta 
sedang diselimuti zaman edan. Pertama, hiburan maksiat merajalela. Dari ‘Imran, 
ujarnya: Seorang laki-laki muslim berkata (kepada Rasulullah): “Wahai 
Rasulullah, kapan hal semacam itu (zaman edan) terjadi?” Sabdanya: “Bila 
penyanyi-penyanyi perempuan, segala macam alat musik berdawai, dan minuman 
keras telah merajalela.” (H.R. Tirmidzi).

Kedua, perzinaan di mana-mana. Dari Abu Hurairah, ujarnya: Nabi saw bersabda: 
“Demi Tuhan yang menggenggam diriku, umat ini tidak akan binasa sampai kelak 
terjadi seorang laki-laki mendatangi seorang perempuan, lalu menidurinya di 
jalanan, sedangkan orang-orang yang baik di antara mereka pada saat itu 
berkata: ‘Alangkah baiknya saya bersembunyi di balik pagar.’” (H.R. Abu Ya’la).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr ra., ujarnya: Rasulullah saw pernah bersabda: “Sungguh 
akan datang atas umatku –seperti—apa yang telah datang atas kaum Bani Israil 
selangkah demi selangkah, sehingga jikalau ada dari mereka itu orang yang 
mendatangi (mencampuri) ibunya dengan terang-terangan, niscaya ada pula di 
antara umatku yang mengerjakan demikian ….” (H.R. Tirmidzi).

Ketiga, sendi-sendi moral hancur. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash, 
sesungguhnya ia mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah sungguh-sungguh 
membenci perbuatan keji dan perkataan keji. Demi Tuhan yang mengenggam diriku, 
kiamat tidak akan terjadi sehingga orang yang amanah disingkirkan, tetapi orang 
yang khianat dipercayai, dan perbuatan keji serta perkataan keji, putusnya tali 
persaudaraan, dan tetangga yang jahat meluas di mana-mana.” (H.R. Ashbahani).

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ujuarnya: Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan terjadi 
kiamat sehingga perzinaan, putusnya tali persaudaraan, tetangga yang buruk 
meluas di mana-mana, dan orang yang amanah disingkirkan.” Lalu ada yang 
bertanya: “Wahai Rasulullah, bagaimana halnya dengan orang mukmin?” Sabdanya: 
“Dia laksana lebah, hinggap tetapi tidak merusak, memakan tetapi tidak merusak, 
dan mengeluarkan yang baik.” (H.R. Bazzar).

Dengan demikian, pantaskah negeri ini tetap menyandang predikat religius, 
sementara perilaku masyarakatnya jauh dari sikap-sikap religius? Semoga dengan 
memahami kondisi zaman edan yang digambarkan melalui hadis-hadis Rasulullah saw 
tersebut, akhirnya kita mendapatkan petunjuk yang jelas tentang bagaimana 
seharusnya bersikap dan memilih langkah hidup yang benar, berkait dengan 
fenomena masyarakat yang terjadi dewasa ini. Wallahu’alam.***



--



      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

[ Forum Kesehatan : http://www.medisiana.com ]Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/dokter_umum/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke