Posted By ardanews to ARDA NEWS at 7/15/2008 11:24:00 PM

SAAT ini, penyakit tular vektor (vector borne diseases) seperti demam berdarah 
dengue (DBD), malaria, cikungunya, filariasis (kaki gajah), Japanese 
bencephalitis, dan pes masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia, 
termasuk Indonesia (baca: Jawa Barat). Padahal, ini baru satu contoh kasus 
penyakit yang disebabkan oleh nyamuk.

Kondisi tersebut tentu ada sebabnya. Berdasarkan sejumlah penelitian yang telah 
dilakukan menunjukkan bahwa terjadinya perubahan iklim global saat ini 
berpengaruh terhadap perubahan risiko penularan penyakit yang ditularkan oleh 
vektor penyakit, terutama nyamuk. Lebih-lebih penularan demam berdarah dan 
malaria sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Sejarah nyamuk

Nyamuk (Diptera: Culicidae) dipastikan lebih dulu ada di permukaan planet bumi 
daripada manusia. Menurut catatan Sugeng Juwono Mardihusodo (2003), dari 
Sub-Bagian Entomologi Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta disebutkan bahwa 
secara hipotetis, serangga yang tak bersayap telah ada dan berevolusi sejak era 
Paleozoikum, periode Silurian, antara 425 dan 405 juta tahun sebelum masehi 
(SM). Berdasarkan informasi dari Romoser WS (1981), serangga Endopterygota yang 
mengalami metamorfosis lengkap (halometabola) secara hipotetis telah ada dan 
berevolusi pada periode karboniferosa, antara 345 juta dan 280 juta SM, yang 
fosilnya tertua berumur antara 280 juta dan 230 juta tahun SM.

Jadi, memanglah benar kalau ada orang yang mengatakan nyamuk itu ternyata cukup 
tua umurnya di muka bumi. Fosil tertua nyamuk ditemukan di Pulau Isles, 
kepulauan Inggris, berumur sekira 35 juta tahun (Horsfall WR; 1972). Sekarang 
bandingkan dengan fosil tertua manusia (Homo sapiens) yang pernah ditemukan 
orang yang hanya berumur sekira 1,5 juta tahun. Artinya, jelas sekali kalau 
nyamuk itu lebih dahulu ada di bumi daripada manusia.

Fenomena ini, tentu ada keterkaitan antara tipe bagian mulut nyamuk dengan 
sumber bahan pakannya. Pada awalnya, sumber pakan darah untuk nyamuk adalah 
berbagai jenis binatang. Namun, belakangan dengan kehadiran manusia yang 
semakin meningkat populasinya dan mobilitasnya pada berbagai habitat, 
spesies-spesies nyamuk pun ada yang berasosiasi dengan manusia dalam bermacam 
tingkat kedekatannya pada ekosistem yang sama. Makanya, tidak aneh kalau saat 
ini sejumlah spesies nyamuk itu ada yang menjadi sangat antropofilik (baca: 
menjadikan manusia di dekat habitatnya menjadi sumber pakan darah utama).

Lebih jauh, kondisi adanya manusia yang berasosiasi secara tidak sengaja dengan 
nyamuk yang telah berubah perilakunya itu, kehidupan nyamuk menjadi terganggu. 
Hal ini berdampak pada frekuensi gigitan nyamuk yang juga mengisap darah 
manusia semakin tinggi, baik malam dan atau siang hari sejalan dengan 
peningkatan populasi nyamuk itu sendiri yang juga meningkat.

Jadi, keberadaan sifat antropofilik nyamuk (terutama Culicinae dan Anophelinae) 
itulah yang menimbulkan permasalahan kesehatan sejak awal kehidupan manusia di 
berbagai zona geografis, khususnya di daerah tropis dan sub tropis. Untuk 
itulah, setiap kita harus mampu untuk menyiasati nyamuk agar tidak kontak 
dengan manusia. Lantas, bagaimana seharusnya cara kita menyiasati nyamuk 
tersebut untuk tidak kontak dengan manusia?

Permasalahan kesehatan yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas nyamuk itu sangat 
beragam. Ada nyamuk yang terbang berputar-putar dekat telinga, tentu hal ini 
sangat mengganggu dan menimbulkan kebisingan. Suara berdengung nyamuk sangat 
mengganggu ketenangan istirahat. Lalu, gigitan nyamuk menimbulkan rasa sakit, 
nyeri, dan mungkin mengakibatkan reaksi alergi kulit dengan peradangan 
(dermatitis alergik) yang serius pada yang hipersensitif. Di sini, peristiwa 
yang membahayakan dalam kacamata kesehatan lingkungan adalah nyamuk vektor 
penyakit yang menginokulasikan berbagai jenis patogen (menyebabkan terjadinya 
penyakit) yang berbahaya, seperti parasit malaria (plasmodium), virus (dengue, 
yellow fever, Japanese encephalitis), dan cacing filaria (Wuchereria, Brugia).

Banyak cara

Secara umum, sebenarnya ada dua alasan untuk pengendalian nyamuk vektor maupun 
nonvektor penyakit, yaitu dengan cara menghindari gangguan akibat gigitannya 
dan mencegah penularan penyakit bersumber nyamuk (PBN). Dalam hal ini, 
masyarakat pasti mengakui bahwa nyamuk merupakan serangga pengganggu. Namun, 
kebanyakan orang tidak menyadari seberapa besar spesies-spesies nyamuk tertentu 
di sekitarnya yang menimbulkan risiko penularan penyakit yang berbahaya bagi 
dirinya. Padahal, kenyataan menunjukkan kalau gangguan kesehatan akibat PBN 
muncul akibat manusia kontak dengan nyamuk vektor yang infeksiosa, maka putus 
kontak dengan nyamuk adalah kunci pengendalian PBN. Mungkinkah? Sejarah 
memperlihatkan, upaya manusia untuk tidak digigit nyamuk dan tidak ditulari PBN 
telah lama dilakukan. Misalnya, orang mulai menggunakan pakaian dan selimut 
yang rapat, menggunakan kelambu, membakar sesuatu di malam hari dekat tempat 
tidurnya, menggunakan bahan cairan yang
 digosokkan ke tubuh atau pakaiannya untuk tidak dihinggapi dan digigit nyamuk 
sepanjang waktu (terutama malam hari). Pokoknya, secara sederhana, upaya 
manusia untuk tidak kontak dengan nyamuk, mungkin telah ribuan tahun yang lalu. 
Awalnya mereka bertujuan hanya agar tidak terganggu karena gigitannya, bukan 
sebagai pencegahan agar tidak tertulari patogen yang dibawa nyamuk.

Upaya-upaya untuk putus kontak dengan nyamuk pada awal peradaban manusia sangat 
sederhana, mungkin hanya secara fisik dan mekanis. Tapi, sejalan dengan 
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi seputar ilmu pernyamukan (culicidology) 
dan aplikasinya, saat ini dikenal berbagai teknik dan cara untuk putus kontak 
dengan nyamuk. Walau demikian, para pakar masih mencari berbagai cara inovatif, 
yang tetap memenuhi kriteria rational, effective, efficience, sustainable, 
acceptable (REESA) untuk berbagai keperluan dan situasi di lapangan. Secara 
singkat berbagai cara itu dikenal dengan: cara mekanis, cara kimia, cara 
fisik-termis, dan cara biologis.

Penyiasatan

Menyiasati secara mekanis yaitu berupa pembuatan barrier (penghalang) kontak 
antara nyamuk-manusia. Cara ini meliputi pemasangan korden pintu dan jendela, 
kasa penutup lubang-lubang angin di dinding rumah, pemasangan dan pemakaian 
kelambu tempat tidur, pemakaian mosquito-head nets, berselimut rapat waktu 
tidur, dan lainnya.

Secara kimia, usaha ini tidak lain berusaha menyiasati agar manusia tidak 
kontak dengan nyamuk atau sebaliknya dapat digunakan bahan repelen (penolak 
nyamuk).

Seperti kita tahu, nyamuk tertarik kepada manusia untuk mendekat, kemudian 
hinggap (landing) dan akhirnya mengigit dan mengisap darahnya. Dalam hal ini, 
ada sejumlah faktor yang menjadi daya tarik nyamuk terhadap hewan dan manusia. 
Hal itu meliputi faktor fisik dan kimia, antara lain gas karbondioksida dari 
ekspirasi pernapasan, emanasi panas badan, bahan kimia dalam keringat dan 
permukaan badan. Selain itu, bisa juga berupa warna tertentu dan tekstur dari 
pakaian yang dikenakan, dan bahkan bau sabun, parfum, lation, sampo, dan bahan 
lainnya.

Dalam konteks ini, kelihatannya nyamuk-nyamuk betina tidak menggunakan indera 
penglihatan atau rabaan dalam aktivitasnya menemukan sumber darahnya. Nyamuk 
itu tetap terus aktif mencoba menemukan sumber darahnya sewaktu ada gas 
karbondioksida (CO2) yang semakin meningkat di udara sekitarnya. Mula-mula, 
arah terbang nyamuk bersifat acak. Ketika ada pancaran udara hangat dan lengus 
udara lembab dari suatu sumber darah manusia atau hewan ternak, nyamuk akan 
menunggu beberapa saat. Baru setelah itu, nyamuk memutuskan untuk terbang 
secara terarah, melacak sumber karbondioksida, udara hangat dan lembap yang 
menjadi atraktan nyamuk, yang sampai akhirnya ditemukan sasaran terbangnya.

Pakai ”repelen”

Untuk mengatasi tabiat seperti itu, kita biasanya menggunakan bahan repelen, 
yaitu bahan kimia atau non-kimia yang berkhasiat mengganggu kemampuan insekta 
untuk mengenal bahan atraktan asal hewan atau manusia. Dengan kata lain, bahan 
itu berkhasiat mencegah insekta yang menggigit itu untuk hinggap. Arti lainnya, 
repelen nyamuk bukanlah bahan yang menolak nyamuk karena bahan itu berbau atau 
terasa tidak enak bagi nyamuk. Tetapi, karena bahan itu menginduksi proses yang 
secara halus memblokir fungsi sensori pada nyamuk sasaran. Walau demikian, jika 
digunakan dengan benar, repelen nyamuk bermanfaat untuk memberikan perlindungan 
pada individu pemakainya dari gigitan nyamuk selama jangka waktu tertentu.

Selanjutnya, adalah menyiasati secara fisik. Dengan berbasis pengetahuan fisika 
yang diaplikasikan pada makhluk hidup, telah lama dikembangkan berbagai 
peralatan sebagai upaya menyiasati nyamuk untuk tidak kontak dengan manusia. 
Salah satunya adalah berupa alat electronicpest repellers, yaitu alat 
elektronik yang mengeluarkan suara ultrasonik yang berfrekuensi tinggi dan 
memiliki daya usir atau menolak kedatangan nyamuk atau bahkan serangga lainnya.

Adapun menyangkut cara biologis, tidak lain bertujuan untuk mencegah dan 
menghindari kejadian kontak antara nyamuk-manusia. Cara ini juga telah lama 
dipraktikkan orang, yaitu dengan cara memodifikasi kondisi lingkungan hidup di 
sekitarnya agar tidak kondusif untuk terjadinya kontak nyamuk-manusia.

Akhirnya, dalam menyiasati untuk tidak kontak dengan dan gigitan nyamuk sebelum 
digunakan berbagai usaha seperti di atas, berikut ini ada kiat yang dapat kita 
lakukan, yaitu: tetaplah Anda tinggal di dalam rumah selama waktu jam sibuk 
dari nyamuk. Biasanya nyamuk banyak aktif menggigit di luar rumah pada waktu 
magrib dan subuh. Bila terpaksa ke luar rumah, gunakan baju lengan panjang dan 
celana panjang. Dan jagalah kebersihan sanitasi lingkungan di sekitar rumah, 
jangan biarkan ada genangan air yang mungkin menjadi tempat berkembangbiak 
nyamuk.***

Arda Dinata, AMKL.
Staf Loka Litbang Pemberantasan Penyakit Bersumber Binatang (P2B2) Ciamis, 
Balitbang Kesehatan Depkes RI.

Tulisan ini dimuat di HU Pikiran Rakyat, Bandung edisi: 17 November 2005.


--





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke