Thanks untuk touching n nice story-nya. Mungkin karena aku cengeng ya...eh...malah aku yang nangis teterusan baca cerita ini. tapi sekarang udah gak nangis lagi loh...
a/w thank u. -----Original Message----- From: epte [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, July 09, 2004 11:59 AM To: E-Ketawa (E-mail) Subject: [e-ketawa] Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali (Sad Story) > > Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali > -------------------------------- > > Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat > terpencil. Hari > demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, > dan punggung mereka > menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga > tahun lebih muda > dariku. > > Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang > mana semua gadis di > sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima > puluh sen dari > laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat > adikku dan aku > berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu > di tangannya. > "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku > terpaku, terlalu > takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun > mengaku, jadi > Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian > berdua layak dipukul!" > Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. > Tiba-tiba, adikku > mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang > melakukannya!" > > Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku > bertubi-tubi. Ayah begitu > marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya > sampai Beliau kehabisan > nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu > bata kami dan > memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah > sekarang, hal memalukan > apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... > Kamu layak > dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" > > Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan > kami. Tubuhnya penuh > dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata > setetes pun. Di > pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis > meraung-raung. > Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan > berkata, "Kak, jangan > menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." > > Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki > cukup keberanian > untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi > insiden tersebut > masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah > akan lupa tampang > adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku > berusia 8 tahun. Aku > berusia 11. > > Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia > lulus untuk masuk > ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya > diterima untuk > masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah > berjongkok di > halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi > bungkus. Saya > mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan > hasil yang begitu > baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air > matanya yang mengalir > dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin > kita bisa membiayai > keduanya sekaligus?" > > Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah > dan berkata, > "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah > cukup membaca > banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul > adikku pada > wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu > keparat lemahnya? > Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan > saya akan > menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu > kemudian ia > mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam > uang. Aku menjulurkan > tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang > membengkak, dan > berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan > sekolahnya; kalau > tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang > kemiskinan ini." Aku, > sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi > meneruskan ke universitas. > > Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, > adikku meninggalkan > rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit > kacang yang sudah > mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan > meninggalkan secarik > kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas > tidaklah mudah. Saya > akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." > > Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, > dan menangis dengan > air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, > adikku berusia 17 > tahun. Aku 20. > > Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan > uang yang adikku > hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di > lokasi konstruksi, > aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). > Suatu hari, aku > sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku > masuk dan > memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu > di luar sana!" > > Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku > berjalan keluar, dan > melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor > tertutup debu semen dan > pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang > pada teman > sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, > tersenyum, "Lihat bagaimana > penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka > tahu saya adalah > adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" > > Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku > menyapu debu-debu > dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam > kata-kataku, "Aku tidak > perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun > juga! Kamu adalah > adikku bagaimana pun penampilanmu..." > > Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut > berbentuk kupu-kupu. > Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, > "Saya melihat semua > gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus > memiliki satu." > Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku > menarik adikku ke > dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, > ia berusia 20. Aku 23. > > Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca > jendela yang pecah telah > diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah > pacarku pulang, aku > menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu > tidak perlu > menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan > rumah kita!" Tetapi > katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang > pulang awal untuk > membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka > pada tangannya? Ia > terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." > > Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat > mukanya yang kurus, > seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan > sedikit saleb pada > lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku > menanyakannya. > "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di > lokasi > konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap > waktu. Bahkan itu > tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat > itu ia berhenti. > Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata > mengalir deras > turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia > 26. > > Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali > suamiku dan aku > mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal > bersama kami, tetapi > mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali > meninggalkan dusun, > mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku > tidak setuju juga, > mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan > menjaga ibu dan ayah > di sini." > > Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan > adikku mendapatkan > pekerjaan sebagai manajer pada departemen > pemeliharaan. Tetapi adikku > menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai > bekerja sebagai pekerja > reparasi. > > Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk > memperbaiki sebuah kabel, > ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah > sakit. Suamiku dan > aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada > kakinya, saya > menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? > Manajer tidak akan > pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti > ini. Lihat kamu > sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak > mau mendengar kami > sebelumnya?" > > Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela > keputusannya. > "Pikirkan kakak ipar-ia baru saja jadi direktur, dan > saya hampir tidak > berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, > berita seperti apa > yang akan dikirimkan?" > > Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar > kata-kataku yang > sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga > karena aku!" > > "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam > tanganku. Tahun > itu, ia berusia 26 dan aku 29. > > Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang > gadis petani dari > dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara > perayaan itu > bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati > dan kasihi?" Tanpa > bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." > > Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah > kisah yang bahkan > tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia > berada pada dusun > yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan > selama dua jam untuk > pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya > kehilangan satu > dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari > kepunyaannya. Ia > hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. > Ketika kami tiba di > rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang > begitu dingin sampai > ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, > saya bersumpah, > selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan > baik kepadanya." > > Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu > memalingkan perhatiannya > kepadaku. > > Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, > "Dalam hidupku, orang > yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan > dalam kesempatan > yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan > perayaan ini, air mata > bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. > > -- http://ketawa.com/ Yahoo! Groups Links ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -- http://ketawa.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/e-ketawa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
