epte, sungguh mengharukan...
aku juga meneteskan air mata sampai eman kali.. huk...uhuk...uhuk.... Thursday, July 8, 2004, 9:59:14 PM, you wrote: >> >> Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali >> -------------------------------- >> >> Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat >> terpencil. Hari >> demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, >> dan punggung mereka >> menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga >> tahun lebih muda >> dariku. >> >> Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang >> mana semua gadis di >> sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima >> puluh sen dari >> laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat >> adikku dan aku >> berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu >> di tangannya. >> "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku >> terpaku, terlalu >> takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun >> mengaku, jadi >> Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian >> berdua layak dipukul!" >> Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. >> Tiba-tiba, adikku >> mencengkeram tangannya dan berkata, "Ayah, aku yang >> melakukannya!" >> >> Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku >> bertubi-tubi. Ayah begitu >> marahnya sehingga ia terus menerus mencambukinya >> sampai Beliau kehabisan >> nafas. Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu >> bata kami dan >> memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah >> sekarang, hal memalukan >> apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ... >> Kamu layak >> dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!" >> >> Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan >> kami. Tubuhnya penuh >> dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata >> setetes pun. Di >> pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis >> meraung-raung. >> Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan >> berkata, "Kak, jangan >> menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi." >> >> Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki >> cukup keberanian >> untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi >> insiden tersebut >> masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah >> akan lupa tampang >> adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku >> berusia 8 tahun. Aku >> berusia 11. >> >> Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia >> lulus untuk masuk >> ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya >> diterima untuk >> masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah >> berjongkok di >> halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi >> bungkus. Saya >> mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan >> hasil yang begitu >> baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air >> matanya yang mengalir >> dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin >> kita bisa membiayai >> keduanya sekaligus?" >> >> Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah >> dan berkata, >> "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah >> cukup membaca >> banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul >> adikku pada >> wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu >> keparat lemahnya? >> Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan >> saya akan >> menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu >> kemudian ia >> mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam >> uang. Aku menjulurkan >> tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang >> membengkak, dan >> berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan >> sekolahnya; kalau >> tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang >> kemiskinan ini." Aku, >> sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi >> meneruskan ke universitas. >> >> Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, >> adikku meninggalkan >> rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit >> kacang yang sudah >> mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan >> meninggalkan secarik >> kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas >> tidaklah mudah. Saya >> akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang." >> >> Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, >> dan menangis dengan >> air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu, >> adikku berusia 17 >> tahun. Aku 20. >> >> Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan >> uang yang adikku >> hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di >> lokasi konstruksi, >> aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas). >> Suatu hari, aku >> sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku >> masuk dan >> memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu >> di luar sana!" >> >> Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku >> berjalan keluar, dan >> melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor >> tertutup debu semen dan >> pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang >> pada teman >> sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab, >> tersenyum, "Lihat bagaimana >> penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka >> tahu saya adalah >> adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?" >> >> Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku >> menyapu debu-debu >> dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam >> kata-kataku, "Aku tidak >> perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun >> juga! Kamu adalah >> adikku bagaimana pun penampilanmu..." >> >> Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut >> berbentuk kupu-kupu. >> Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan, >> "Saya melihat semua >> gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus >> memiliki satu." >> Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku >> menarik adikku ke >> dalam pelukanku dan menangis dan menangis. Tahun itu, >> ia berusia 20. Aku 23. >> >> Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca >> jendela yang pecah telah >> diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah >> pacarku pulang, aku >> menari seperti gadis kecil di depan ibuku. "Bu, ibu >> tidak perlu >> menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan >> rumah kita!" Tetapi >> katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang >> pulang awal untuk >> membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka >> pada tangannya? Ia >> terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.." >> >> Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat >> mukanya yang kurus, >> seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan >> sedikit saleb pada >> lukanya dan mebalut lukanya. "Apakah itu sakit?" Aku >> menanyakannya. >> "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di >> lokasi >> konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap >> waktu. Bahkan itu >> tidak menghentikanku bekerja dan..." Ditengah kalimat >> itu ia berhenti. >> Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata >> mengalir deras >> turun ke wajahku. Tahun itu, adikku 23. Aku berusia >> 26. >> >> Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali >> suamiku dan aku >> mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal >> bersama kami, tetapi >> mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali >> meninggalkan dusun, >> mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku >> tidak setuju juga, >> mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan >> menjaga ibu dan ayah >> di sini." >> >> Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan >> adikku mendapatkan >> pekerjaan sebagai manajer pada departemen >> pemeliharaan. Tetapi adikku >> menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai >> bekerja sebagai pekerja >> reparasi. >> >> Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk >> memperbaiki sebuah kabel, >> ketika ia mendapat sengatan listrik, dan masuk rumah >> sakit. Suamiku dan >> aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada >> kakinya, saya >> menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer? >> Manajer tidak akan >> pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti >> ini. Lihat kamu >> sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak >> mau mendengar kami >> sebelumnya?" >> >> Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela >> keputusannya. >> "Pikirkan kakak ipar-ia baru saja jadi direktur, dan >> saya hampir tidak >> berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu, >> berita seperti apa >> yang akan dikirimkan?" >> >> Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar >> kata-kataku yang >> sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga >> karena aku!" >> >> "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam >> tanganku. Tahun >> itu, ia berusia 26 dan aku 29. >> >> Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang >> gadis petani dari >> dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara >> perayaan itu >> bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati >> dan kasihi?" Tanpa >> bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku." >> >> Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah >> kisah yang bahkan >> tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia >> berada pada dusun >> yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan >> selama dua jam untuk >> pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, Saya >> kehilangan satu >> dari sarung tanganku. Kakakku memberikan satu dari >> kepunyaannya. Ia >> hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu. >> Ketika kami tiba di >> rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang >> begitu dingin sampai >> ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu, >> saya bersumpah, >> selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan >> baik kepadanya." >> >> Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu >> memalingkan perhatiannya >> kepadaku. >> >> Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku, >> "Dalam hidupku, orang >> yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan >> dalam kesempatan >> yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan >> perayaan ini, air mata >> bercucuran turun dari wajahku seperti sungai. >> >> e> -- e> http://ketawa.com/ e> Yahoo! Groups Links -------------- Best regards, Didet - LMW 02 -------------- ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/vbOolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> -- http://ketawa.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/e-ketawa/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
