|
- BILA Telah menjadi suami istri, mestinya tak ada lagi kehidupan yang dirahasiakan antar keduanya. Rahasia suami mestinya juga rahasia istri. Kantong suami mestinya juga kantong istri, boleh saling rogoh bilamana perlu. Tapi tidak demikian dengan Samidi,
45, dari Banyumas (Jateng) ini. Istri ambil uang di kantong tanpa seizinnya, langsung dikemplang pakai pukulan hingga masuk rumah sakit.
Meskipun sudah tahunan menyatu dalam sebuah keluarga, banyak ditemukan suami istri yang masih menjalani kehidupan terkotak-kotak. Meskipun setiap malam satu ranjang, istri tak boleh lihat isi dompet suami. Betatapun sudah beranak pinak, ada juga yang tak boleh tahu amplop gaji suami. Tiap bulan hanya dijatah sekian-kian. "Nggak perlu tahu kamu, yang penting kurang tinggal ndhengak (minta)....," begitu alasannya selalu.
Samidi, warga Desa Kracak Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas, rupanya termasuk tipe suami yang demikian. Sebagai petani, dia memang tak pernah punya amplop yang harus diberikan pada istri setiap bulan. Tapi soal keuangan, Sakimah,40 , selalu dikontrol ketat. Hasil upahnya sebagai buruh, selalu dikantongi sendiri. Istrinya butuh ini itu tinggal nyadhong (minta) padanya. Giliran keseringan minta dibilang: perempuan pemboros!
Sakimah sudah sering minta adanya transparansi manajemen keuangan, tapi tak pernah digubris. Masalahnya, Samidi kuatir bilamana uang tersebut seluruhnya dibrukke (diserahkan) pada istri, nanti akan kena penyakit konsumerisme. Kerjanya shoping ke Matahari dan Ramayana melulu. Lebih menakutkan lagi, dana itu akan mengalir ke kubu keluarga istri. Entah itu untuk orangtuanya untuk saudara-saudaranya.
Karena itulah, Samidi tak pernah lepas dari dompetnya. Ke WC maupun kamar mandi, dompet itu slelau dibawanya. Isinya tak pernah boleh dilihat istrinya. Bukan karena takut ketahuan ada foto pacar gelap atau bon togelnya, tapi ya itu tadi, kuatir ada uang yang diambil. "Aneh sampeyan, mbukak dompet nggak boleh, padahal kita kan biasa "buka-bukaan" dikamar," kata Sakimah sewot.
Gara-gara masalah ini, rumahtangga mereka sering ribut. Sakimah minta ada keterbukaan dalam mengelola keuangan. Artinya, berapa penghasilan suami diserahkan seluruhnya pada istri. Bukankah faham Jawa mengatakan: Wanita itu ibarat pendaringan (tempat beras), yang siap menampung segala hasil jerih payah suaminya demi kebutuhan dan kesejahteraan keluarga, tapi Samidi tetap pada kebijakan awal, kontrol ketat keuangan.
Klimaksnya terjadi beberapa hari lalu, Sakimah minta uang pada suami untuk bayaran uang sekolah anaknya, si Jendul di SD. Tapi Samidi menjawab besok saja, hari ini belum ada. Tapi sampai hari H itu tiba, sang suami tak juga memberikan yang dijanjikan. Tentu saja Sakimah panik, jangan-jangan anaknya bisa dilarang masuk sekolah gara-gara bayaran sekolah kasep.
Saat suaminya masih tidur mendengkur, dia nekad memberanikan diri membuka dompet suami. Penjorangan pisan (kurang ajar benar), katanya tak gableg duit, ternyata di dompet masih ada puluhan ribu lima lembar. Tanpa permisi lagi uang tersebut diambil beberapa lembar untuk bayaran sekolah dan belanja dapur. "Marah biar saja, orang buat anak sekolah ini," kata Sakimah mencari legitimasi.
Meleset dugaan Sakimah. Bangun tidur melihat isi dompetnya berkurang, Samidi langsung mencak-mencak. Dia menuduh istrinya yang mengambil dan Sakimah pun mengaku tanpa tedeng aling-aling. Meskipun alasannya sangat wajar dan masuk akal. Samidi masih juga marah, tanpa banyak tanya pikulan dan bambu yang tergolek di pojok ruangan langsung diambil dan digetokkan ke kepala istrinya berulangkali, pletak, pletak, pletakkkk!
Istrinya menjerit-jerit karena bocor kepalanya, tapi Samidi cuek bebek langsung kabur begitu saja. Terpaksa keluarganya melarikan istri malang itu ke RS Islam Purwokerto dan mengalami beberapa jahitan di kepala, sebetulnya dia diminta rawat inap, tapi karena tak ada biaya, Sakimah dibawa pulang paksa.
Sungguh tak beruntung, punya suami gemblung suka main pentung! ![Upgrade your email with 1000's of emoticon icons]() |