|
jasmine
maaf kan lah aku
yang telah menyakitimu
jadikan dirimu obyek setiap
puisiku
dan rasa itu ,
maaf kan lah aku ,
Kunyalakan lampu kamarku Ku goyangkan pena biruku Kusunting sebuah puisi kerinduan Senyum mu sekan hadir ditiap bait ku Getarkan jiwaku Bayang mu hadir di setiap kata Gemulai bak sampur tarimu Perlahan namun pasti Syarat exotisme Rambut mu terurai Bagitu indah , sangat jelita Langkah mu jiwai garak tarimu Perpustakaan adalah saksiku Tambatkan hati ketika tatapan itu menyatu Tertunduk tanpa tahu mengapa tertunduk Dan seakan berat tu tengadah Tatapan itu telah membayangiku Menggodaku , membuatku tersipu Malam kian larut Tak kuasa tahan kantuk ku Tapi kau masih jadi ispirasiku Semoga bayang mu menyertai mimpiku Ikrarkan jiwa tautkan hati Jalin ikatan yang hakiki Ghanezha jan ‘ 05 Pantaskah ku . . . Gerakkan sampur di taman bunga Yang penuh dengan warna Panataskah ku . . . Berjalan di rerumputan nan hijou Yang diselimuti embun pagi Pantaskah ku . . . Rangkai-kan kata- kata Yang mungkin bagimu tak bermakna Dan bagiku sangat berharga Pantaskah ku . . . Memakai gaun putih tanpa Corak dan noda Pantaskah ku . . . Lukiskan pemandangan dari hati Yang sedang dilanda kasamaran Pantaskah ku . . . Terima tepuk tangan dan sorak sorai Dari hati yang gembira Jasmine ‘ 97 Melati Lihatlah jurang itu Disana Disana kau dapat mendengar suara marga satwa Disana kau dapat melihat bunga melati di tepi Melati putih yang tumbuh diantara duri Tertutup diantara semak belukar Terjebak . . . Hanya dapat ia merintih
Karma tak satupun kumbang Yang mau mendekatinya Melati putih terdampar di tepi jurang Yang terjal dan curam Jaga empat panji kehidupan Dengan harapan di tangan kanan Cinta adalah dusta Rindu adalah palsu Namaun dua adalah Mulia . . . Tapi mengapa kita sering lupa Dalam hidup ku Kuingin kau berikan sinarmu Sinar , oh lilin ku Jasmine ‘ 97 Bukan foto tapi cintamu
Sobat buat apa kumiliki fotomu Di dalam bingakai emas ku Bila tak ada ikatan diantara kita Tak da jiwa yang menyatu Buat apa bila kita seakan tak saling kenal Buat apa ku merespon bila tak ada respon Percuma ku beraksi bila tak ada interaksi Walau kau tawarkan fotomu dengan harga satu rupiah pun Aku tak akan membelinya Sobat buat apa kumiliki fotomu Bila tak serta merta cintamu Hanya
Bagai berdiri di atas gunung fantasi Bak mendirikan istana dialam maya Aku tak ingin terkena depresi Hidupku penuh lamunan Hayalan tiada berpangkal Membayangkan yang serba indah Kau tak inginkan itu Maka . . . Buat apa kumiliki fotomu Bila tak juga miliki dirimu, kasih mu, cintamu Walau bak menggarami air laut Bak punggu merindukan bulan Tapi aku akan sangat bahagia , bila Kau sudi jujur kepadaku Walau kejujuran itu Ku akui aku pengecut, Tapi aku bukan penakut Yang kuingin darimu Bukan foto dalam bingkai emas mu Tapi yang kuingin adalah dirimu, cintamu, dan kasih mu Putra kelana ghanezha arghandhi
‘97 Sinten Sahabat . . . Siapa yang tawarkan foto di bingkai emasmu Siapa yang menilai foto dengan harda satu rupish pun Siapa wartawan dalam media masa Mengapa bunga di taman tak kau sirami Mengapa tinta yang tumpah dalam bukumu Kau rangkai kembali dan kau tujukan padaku Kau bilang coretan itu sadis Namun bagiku begitu magis Dalam ratapan seorang gadis Dalam hujan yang gerimis Ku tak ingin menangis Ku tak tahu arti tulisan di batu Hatikupun tak menentu Terombang ambing di lembah hantu Pohon mangga bercabang dua , kejujuran lebih berharga dari pada emas permata Jasmine ‘ 97
Aku
Adalah Aku, aku adalah Yang
hadir, diantara lalu lintas cintamu Saat
hilir mudik keluh
kesahku Resah
menyeretku kedalam kebukan pastian Kebukan
sungguhan . . .
Kau
beri aku jalan kehancuran, keruntuhan Bukan
sayang atau pun cintamu Aku
adalah . . . Yang
tertindas di bawah bayang-bayang cintamu Menanti
belas kasih mu Saatnya
mati segala semangat hidup, gairahku Resah
menghantuiku, memojokkan ku Kau
beri aku bilur-bilur luka Bukan
canda, bukan tawa Aku
adalah . . . Yang
mati Tak
hidup dalam dunia cintamu Ya .
. aku adalah yang
mati Tapi
bukan berarti jiwaku serta mati Aku
adalah aku, kamu adalah kamu jasmine’ 97 Aku sang kelana
Di
antara puing dan reruntuhan Mengapa
ungkapan beda dengan kenyataan Terlalau
bodoh kah aku , atau tak punya empati kah Akankah
hati dan jiwaku telah mati Cintaku
telah sirna kah Tersapu
angin dan terhempas ombak Atau
aku terlalau angkuh Begitu
dalam kah rasa itu Seakan
hanya kepedihan yang terpendam Tak
adakah sesungging senyumku Dan
perhatianku yang kau rasa Maafkan
lah aku Tak
ada dalam benakku rasa itu Rasa
ingin meyakitimu Yang
ada dalah sayang dan cinta Tapi
aku begitu takut Aku
begitu pengecut Tak
berani akui dan nyatakan Aku
hanya terdiam dan membisu Begitu
besar rasa itu Hingga
membelenggu ku Aku
mungkin terlambat Maaf
Harapku
kau bahagia Dan
dapatkan seperti dalam ingin mu Semoga
tak ada lagi lara dan duka Tak
lagi mati, tapi bangkit Ghanezha
argandhi sang putra kelana 05 Ketawa dot Com - http://ketawa.com/ CV Global Intermedia - http://www.g-im.com/ Yahoo! Groups Links
|
- RE: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 arghandhi
- RE: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 YMID-SUB-MKT Titi
- RE: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 tukang sulap
- Re: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 Pac
- RE: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 popi memo
- RE: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 kamil alhimam
- RE: e-ketawa :-) Fw: toek jasmine'97 YMID-SUB-MKT Titi
