WAHH IKI BAHASANE EKO,,, [EMAIL PROTECTED] wrote:
> Pelesetan Kata > /"Hemangnya Ikke Vikirin" AIDS// / > > **Rudy Badil** > > Sobat, hati-hati bahaya HIV di Papua! > > "Ah trapapa (tidak apa-apa), HIV itu hemangnya ikke vikirin!" > > Maksa banget pelesetan kata HIV, human immunodeficiency virus atau > virus penyebab AIDS, menjadi bahasa indo-gaul yang aslinya berbunyi > "emangnya ikke (saya) pikirin". Bahasa gaul teman-teman Papua di > Jayapura, selain seru, dinamis, dan ngocol dengan dialeknya, juga > terkadang ngagetin penuh kocak, baik berupa cerita rada jorok ala mop > Papua. Juga kekonyolan pelesetan dan permainan kata-kata, singkatan, > serta penggalan abreviasi dan short word-nya. > > Makanya kalau jalan-jalan ke kota-kota di Papua harus ingat kalau > "Sentani" (sendiri tanpa istri) bisa-bisa "Nabire" (nafsu bikin repot) > hingga harus "Wamena" (wajib menahan nafsu) karena banyak "Waropen" > (wanita romantis penuh nafsu) dan "Jayapura" (janda yang punya rasa). > Sebab, kalau sampai "Sorong" (senyum oke rayu oke naik gampang) > bisa-bisa "Sarmi" (saya rela meninggalkan istri) dan "Biak" (bila > ingat ingin kembali). Makanya sebelum "Timika" (yang ini tak baik > disebut kepanjangannya), sebaiknya bertanyalah "Merauke" (mengapa > engkau rayu aku untuk kupas engkau). > > Kata-kata beginian memang lagi model-modelnya di kalangan anak-anak > muda gaul. Makanya tidaklah aneh dan ajaib kalau Jack Morin MSi (39) > yang pegang Laboratorium Antropologi di Universitas Cenderawasih > (Uncen) mendokumentasikan daftar ratusan akronim itu sebagai bahan > studi sastra lisan atau telaah folklor yang disebut-sebut sebagai > "ilmu dongeng" yang dirintis Prof Dr James Danandjaja dari Universitas > Indonesia, Jakarta. > > Membaca daftar dokumentasi kata-kata seru itu memang semuanya bernada > melucu, kocak, meski beberapa terasa amat dipaksa-paksa tetapi lucu > juga, seperti kata HIV. Malah ada beberapa istilah yang kurang patut > dicantumkan dalam bacaan ini karena artinya yang vulgar dan terasa > tembak langsung. > > "Beberapa banyak yang sama dengan kata pelesetan Jakarta. Mungkin > karena kami juga baku kontak via e-mail," kata Jack yang menyebut > rekannya, Alfasis Ap, sebagai kolektor aktif "kamus pelesetan HIV" itu. > > Selanjutnya, daftar kata kian terpeleset dan dirangkai menjadi, > "Ambon" (anak manis banyak orang naksir), "Anwar" (anak Waropen) dan > "Astuti" (anak Serui tukang tipu) suka berkata "Slank" (sudah lama aku > naksir kamu) serta "Adidas" (ayah dan ibu doakan aku selalu). Sebab > maunya "Cinta" (cari ilmu namun terhalang asmara), lalu terjadilah > "Kelapa" (kenalan langsung paku), karena ada "WTS" (wanita tetangga > sebelah) yang suka "Bupati" (buka paha tinggi-tinggi), hingga bikin > "PKK" (program pusing kepala) yang katanya dekat "Puskesmas" (maaf tak > perlu dipanjangkan). Untung "Kansas" (kami anak nakal selalu akan > sadar) dan "TNI" (terimalah nasib itu). > > Jack Morin sebagai antropolog lapangan menganggap gejala sosial ini > suatu demonstration effect akibat fenomena di sekitaran. "Efek latah > sosial ini karena pemerintah juga senang bikin singkatan-singkatan > yang bikin bingung, tidak menghibur, dan tidak lucu-lucu toh," ujarnya > sambil menyebut kata-kata potongan dari nama instansi tinggi sampai ke > kampung, termasuk kata NKRI dan otsus yang amat top di Papua. Makanya, > dalam daftar bikinan Alfasis Ap, masih ada "Sekwilda" (sekitaran > wilayah dada), "Pegawai" (perempuan gampang bawa AIDS) dan > ujung-ujungnya "RCTI" alias ramainya cuma tayangan iklan. > > **"Kamorang su tau"** > > Apa pun yang terjadi, gejala mengembangkan kata-kata gaul ini boleh > dibilang universal. Biasanya bersumber anonim alias tanpa nama, serta > tak jelas penciptanya. Juga kata folklorik itu tersebar dari mulut ke > kuping dan mulut-kuping dan seterusnya. Persebaran cepat meluas karena > ngocol, menarik, dan gampang dituturkan tanpa banyak teori dan teknis > metodik. Lebih hebat lagi, kata-kata gaul itu menjadi bumbu gurih > pergaulan, serta mudah menjadi materi komunikasi dua arah yang > multi-arah. > > Makanya, istilah kata pelesetan itu jadi materi penyuluhan yang akrab > dan intim. Malah beberapa brosur kampanye AIDS (acquired > immuno-deficiency syndrome), berani blak-blakan dan tidak jadi > dipersoalkan di masyarakat umum. Misalnya saat menebar brosur, KPA > (Komisi Penanggulangan AIDS) Provinsi Papua juga tidak malu-malu > bagi-bagi kondom gratisan. Bungkus kondom itu bertuliskan, "tidak > diperjualbelikan". Malah ada rekan tertawa melihat adanya guratan > garis lingkaran di batang kondom kempes itu, entah apa gunanya ya. > > Yang menarik, brosur itu memakai bahasa dialek khas Papua. Misalnya > cuplikan kalimat, Kamorang su tau kaa (kamu orang sudah tahukah)… > kitorang tra (kita orang tidak) bisa atau yang kena virus HIV dari > dong pu penampilan ka… infeksi menular seksual (IMS)… cara berhubungan > seks atau baku naek yang tra pake kondom (lewat perem pu barang, dubur > atau mulut)… HIV ada dalam tong pu cairan tubuh… makanya tra baku naek > sama sekali… setia deng tong pu pasangan (maitua/paitua)… tra pake > alat suntik atau jarum bekas… tong tra usah takut untuk berkegiatan > sosial, bekerja atau hidup di sekitar dorang yang su kena HIV… HIV tra > menular melalui ludah pinang, gigitan serangga… berenang atau mandi di > kali… pake WC…, pake alat makan, minum, pakaian dengan dorang yang su > kena AIDS… baku cium, baku gandeng, baku polo dengan dong su kena > HIV... tra usah takut. > > Makanya, jangan takut HIV, selama orang tahu rambu-rambu dan batasan > bahaya dan amannya penularan virus HIV, HIV bukan hemangnya ikke > vikirin, tetapi kudu harus ikke vikir. Tingkat penularannya di Papua, > wuiih bahayanya te-o-pe alias top abis. Save Papua kata KPA Papua, > mewakili pemerintah pusat. Aksi ini jangan dipikir-pikir lagi untung > ruginya, apalagi kalau cuma angkat-angkat pundak dan bilang hemangnya > ikke vikirin. Lalu biarin? > > RUDY BADIL //Wartawan Tinggal di Jakarta // > > Add milis kita yg tercinta ini di Friendster kamu ya, "[EMAIL PROTECTED]" yukkk..... http://ketawa.com/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/e-ketawa/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/e-ketawa/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
