Sampe jaringan infrastruktur terpasang di wilayah perbatasan dan pulau2
terpencil Pak. Indonesia di compare dg Estonia, ya nggak sepadan Pak, dan
Indonesia bukan hanya Pulau Jawa Pak :)



> Pak Tony dan Kawan2 Yth,
>
> DPR Estonia telah menetapkan bahwa tahun 2011 mereka akan pakai HP/SMS
> dengan enkripsi untuk Pemilu. SIM Card yang sudah dienkripsi akan
> dibagiakan ke taip warga agar hanya bisa Voting SATU kali saja.
>
> Kapan Indonesia akan mengikuti jejak Estonia?
> Silahkan lihat rincian beritanya KLIK DISINI
>
> Wassalam,
> S Roestam
> ------------------
>
> ----Original Message----
> From: [email protected]
> Date: 14/07/2009 8:31
> To: ,
> Subj: [Telematika] Re: [eGovIndonesia] Teknologi Real Count Berbasis SMS
> Dikritik      -wartaegov-
>
> Assalamualaikum teman-teman...
>
> Menanggapi pemanfaatan SMS untuk entry data Pemilu:
>
> 1. Saya ucapkan SELAMAT dahulu kepada KPU, karena telah melakukan berbagai
> upaya untuk meningkatkan kecepatan dan kualitas tugas-tugas nasionalnya!
> (mari selalu kita biasakan menghargai & mengapresiasi dahulu prestasi
> bangsa
> kita).
>
> 2. Menanggapi komentar bahwa '"Memalukan bila dilakukan oleh KPU (jika
> memanfaatkan teknologi SMS)"  :(  ...komentar ini membikin saya sedih dan
> bingung. Kebetulan saya sedang mendalami pemanfaatan teknologi SMS untuk
> layanan publik, dan bahkan di sini (di Australia) saat ini pemerintah
> Northern Territory meminta saya untuk mengimplementasikan teknologi yang
> 'memalukan' ini untuk berbagai layanan publiknya. Di negara-negara maju di
> Eropa, hingga januari 2009, saya menemukan lebih dari 700 laporan
> pemanfaatan teknologi SMS untuk layanan publik. Di Singapore sejak 2006,
> teknologi SMS (cukup single service number) sudah dimanfaatkan untuk 150
> layanan publik. Di Victoria saat musibah kebakaran kemarin, SMS warning
> system terbukti mampu membantu persiapan dini masyarakat Victoria.
> Jadi kembali saya bingung "Kenapa kita sebagai bangsa Indonesia (yang
> notabene maaf masih negara berkembang) malah malu?? apakah kalo kita sudah
> tahu teknologi yang lebih kompleks maka teknologi yang lebih sederhana
> terus
> kita tinggalkan (meskipun masyarakat lebih familiar dengan yang
> sederhana)?
> Yang saya temukan di Australia dan studi kasus negara-negara maju lainnya
> adalah: memanfaatkan SEMUA teknologi untuk SALING MELENGKAPI. Teknologi
> SMS
> (sepengetahuan saya selama mempelajarinya) hingga kini semakin populer dan
> dimanfaatkam khususnya untuk meng-'engage' masyarakat dan sebagai channel
> alternative melengkapi teknologi Internet.   Jadi prinsipnya teman-teman,
> Tidak ada teknologi yang 'memalukan' hanya karena teknologi ini mudah.
> "Kemudahan" atau "Easiness" atau "Easy to use" bahkan salah satu komponen
> penting agar suatu teknologi diterima dan dimanfaatkan masyarakat (hasil
> kajian Difusi Inovasi dan theories of Technology Acceptance).
>
> 3. Menanggapi komentar bahwa SMS pasti tidak aman. Saya setuju jawaban Pak
> Harry bahwa "Komunikasi HP dengan BTS dienkripsi dengan kuat. Lalu
> komunikasi dari BTS juga terisolir di jaringan Telkomsel. Kemudian aliran
> SMS dari Telkomsel ke sistim SERIS adalah melalui jalur tertutup, yang
> sama
> sekali tidak bisa diakses dari luar. Ini adalah desain custom, hasil
> kerjasama dari tim Telkomsel dengan tim SERIS, untuk meningkatkan level
> keamanan pada proyek Nasional ini."
> Namun jika hal ini masih disangsikan, masih dapat diimplementasikan
> tambahan
> aplikasi keamanan lain untuk meningkatkan keamanan. Misalkan yang saya
> sarankan dengan 'end-to-end encryption'. Jadi khusus untuk HP pengirim dan
> terminal penerima SMS di-install aplikasi enkripsi pesan SMS. Saya
> mengerti
> karena keterbatasan waktu saat pilpres kemarin jelas hal ini sangat sulit
> dilakukan, namun jika waktu cukup distribusi aplikasi ini bisa dilakukan
> bersama-sama dengan distribusi logistik KPU lainnya.
>
> 4. Menanggapi masalah validitas data SMS yang rendah karena kemungkinan
> salah tulis atau kurangnya verifikasi data: memakai teknologi apapun
> kualitas DATA adalah yang utama, dan penyelewengan data bisa dilakukan
> melalui teknologi apapun (baik ICR, SMS atau Internet) karena data adalah
> entitas yang berbeda dari teknologi. Jadi untuk menentukan validitas data
> input (entah mau pake SMS atau bukan) yang harus dipastikan adalah
> 'business
> rules' nya bagaimana sebuah data baru boleh di-inputkan ke sistem (sebagai
> contoh kalo pake sistem kertas harus ada tanda tangan dari ketua TPS dan
> saksi). Di sistem SMS-pun verifikasi data ini bisa ditingkatkan, misal:
> - untuk memvalidasi type data dan range data yang dimasukkan, kita bisa
> mengembangkan dan menginstall aplikasi kecil Java untuk form isian hasil
> pemilu (saya yakin di Indonesia HP Java-enabled udah semakin murah).
> Sebagai
> contoh di South Australia sini, masyarakat sudah dapat free download
> aplikasi2 java untuk interface layanan publik.
> - untuk memvalidasi kebenaran data, form interface SMS tersebut bisa
> dilengkapi isian password ketua TPS dan 2 saksi, atau jika ingin yang
> lebih
> sederhana memakai rencana Pak Harry "SERIS akan menerima 3 buah SMS dari
> setiap TPS - satu dari ketua TPS, dan dua dari saksi".
>
> Demikian masukan dan pendapat saya
> Sekali lagi selamat buat KPU dan teman-teman semua. Let's do something for
> our country even it is just a tiny thing!
> Ayo Maju Terus Bangsaku!!!
>
> Tony D Susanto
> smsegov.info
>
>
>
>
>
>
> 2009/7/14 si Nung
>
>>
>>
>>
>> fyi,
>>
>> Teknologi Real Count Berbasis SMS Dikritik
>>
>>
>> http://jakarta.wartaegov.com/index.php?option=com_content&view=article&id=3831:teknologi-real-count-berbasis-sms-
>> dikritik&catid=44:ragamberita&Itemid=56
>>
>> Metode entry data lewat SMS yang digunakan oleh
>> Komisi Pemilihan Umum dalam Pilpres 2009 berjalan cukup baik.
>> Namun, metode tersebut dikritik sebagai
>> metode yang biasa dan validitasnya rendah.
>>
>> dst..
>>
>> komentar analisnya :
>>
>> Ada metoda untuk meningkatkan validitasnya,
>> dan mudah untuk dilakukan.
>> Seperti mengirimkan SMS verifikasi.
>> Versi berikutnya dari SERIS akan menerima 3 buah SMS
>> dari setiap TPS - satu dari ketua TPS, dan dua dari saksi.
>>
>> Ini tidak bisa dilakukan pada Pilpres 2009
>> karena keterbatasan waktu
>> - kami membangun sistim SERIS ini
>> dalam waktu 2 minggu saja.
>> Karena itu sistim ini kami sampaikan
>> kepada KPU sebagai Pilot Project.
>>
>> dst...
>>
>> ===
>>
>> menarik ...
>> banyak yg dapat dipelajari
>> saya menunggu diskusi selanjutnya
>>
>> sinung
>>
>> /*-sig-
>>
>>
>> http://www.radarjogja.co.id/berita/internasional/5218-pseudo-democracy-demokrasi-kedoknya-demokrator-muaranya.html
>>
>>
>> http://www.republika.co.id/koran/14/60867/Hari_Jilbab_Dunia_Mengenang_wafatnya_Sahidah_Pembela_Jilbab
>>
>> -sig-*/
>>
>>
>>
>
>
>


Kirim email ke