Terima kasih atas komentarnya yg netral pak taufiq ..

Jadi kita bisa melihat kan bahwa Amrik yg selalu dicap neo-lib tapi malah anti 
neo-lib dalam implementasi "fair global trade competition" .. Jadi kalo Amrik 
memang "neo-lib" tulen gak ada tuh yg namanya counterfailing duty/levy atau 
pungutan2 ala preman bertameng hukum (seperti di hikayat negara bedebah ..)

Kalo di NKRI, sebenarnya gampang aja untuk melindungi industri dalam negeri .. 
Kalo memang mau NASIONALIS BENERAN dan bukan sok-nasionalis jadi2an .. dengan 
cara MENCABUT IJIN IMPOR dan IJIN DISTRIBUTOR barang2 dan jasa2 buatan NON-NKRI!

Tapi pasti yg disalahkan nanti adalah pemerintah NKRI yg tidak PRO-LAPANGAN 
PEKERJAAN yg HASIL CIPTAAN IMPORTIR2 dan DISTRIBUTOR2 PRODUK2 IMPOR ..

Ternyata menjadi nasionalis jadi2an memang jauh lebih nyaman dibandingkan jadi 
NASIONALIS BENERAN hehehehehe ..

Kayanya memang pada ogah untuk berani mendukung larangan impor laptop2 ACER, 
TOSHIBA, SONY, HP, LENOVO, DELL, FUJITSU, etc. buatan NON-NKRI .. Itulah 
faktanya .. Karena takut abis nanti investor2 RRC/Taiwan/Singapura/Jepang  akan 
menghentikan investasinya di NKRI akibat penerapan "demagogy based reciprocal 
counterfailing import ban of laptops made in china//taiwan/singapore/japan" kan 
?????

Salam E-NKRI Nasionalis NON Hypokrisi dan Demagogy!

HM

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone

-----Original Message-----
From: "Taufiq A. Rachman" <[email protected]>
Date: Thu, 12 Nov 2009 17:51:59 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [Telematika] Terapkan pajak impor setinggi2nya untuk laptop2 
        impor yg anti-nasionalis? Re: [APWKomitel] kepentingan nasional lebih 
dari 
        kepentingan asing meskipun AS yg libral

-

Wah ... kok mainnya jadi di sisi politis ...

Kalo di politisasi begitu, bagaimana produk dalam negri ini bisa bersaing
secara "fair" dengan produk yg masuk ... kenapa tidak membiarkan saja semua
bersaing secara sehat ... sehingga menimbulkan kompetisi yang sehat ...

Jadi produk lokal pun bisa bilang ... " Kita jualan gak pake "nahan2" produk
luar loh pak ... :-D "

Politisasi ... menurut saya hanya membuat posisi kita semakin lemah ... kita
gak keluar dari zona nyaman (out from comfort zone) ... dan jiwa kompetisi
pun gak timbul ...

Ketika seorang pakar open-source "protes" karena NetBook di bundling dengan
Win XP Home yg tua itu ... saya jadi berfikir " knapa harus memaksakan
masyarakat menggunakan produk yg tidak familiar ??? "

Knapa kita gak menunjukkan pada masyarakat bahwa kita punya produk yg baik
(minimal sama) dengan produk impor yg masuk ... sehingga masyarakat yang
memilih itu tidak merasa terpaksa ... bahkan bangga ...

Dan salah satu vendor laptop dalam negri sudah membuktikan itu ... :-)


Salam
MPIQ

2009/11/12 henkmahendra yahoo.com <[email protected]>

>
>
> Betul Pak RR,
>
> Jadi teringat kritik Zyrex di tahun 2003 yang secara jelas mengusulkan agar
> Pemerintah NKRI memnerapkan pajak impor 250% bagi produk2 laptop bermerek
> seperti TOSHIBA, FUJITSU, ACER, IBM (belum lenovo waktu itu), DELL, HP,
> COMPAQ, sehingga laptop2 Zyrex bisa bersaing dengan "harga yang wajar bagi
> konsumen pengguna laptop" .. Kira2 masih ada yang mendukung usulan seperti
> itu gak ya .. Untuk membuktikan Semangat Anti-Neo-Lib yang konsisten ..
> hehehehehe :D
>
> Salam E-NKRI yang HumanistiCapitalist bin Neo-Lib!
>
> HM
>
> --- On Thu, 11/12/09, [email protected] <rrusdiah%40yahoo.com> <
> [email protected] <rrusdiah%40yahoo.com>> wrote:
>
> From: [email protected] <rrusdiah%40yahoo.com> 
> <[email protected]<rrusdiah%40yahoo.com>
> >
> Subject: [APWKomitel] kepentingan nasional lebih dari kepentingan asing
> meskipun AS yg libral
> To: [email protected] <apwkomitel%40yahoogroups.com>,
> [email protected] <basuki%40postel.go.id>
> Cc: [email protected] <santososerad%40postel.go.id>,
> [email protected] <gatot_b%40postel.go.id>
> Date: Thursday, November 12, 2009, 4:26 PM
>
> jika macam macam...maka AS akan melakukan proteksionisme meskipun AS adalah
> negara liberal dan kapitalisme...tetap saja kepentingan dalam negeri diatas
> kepentingan asing... tetap saja nasional interest...
>
> kenapa kita terkadang ingin bicara sok liberal dan sok memikirkan
> kepentingan global diatas kepentingan nasional dan UKMnya...
> bahkan sok fair dan memenuhi keppres 80/2003... dimana semestinya yang
> utama sebagai regulator adalah kepentingan nasional..kepentingan UKM dan
> kepentingan produk/merek dalam negeri.
>
> bahan introspeksi bagi regulator kita... mengenai gimana regulator di AS
> membela kepentingan dalam negerinya kalau perlu membawa kasusnya ke badan
> abitrase di WTO... salam, rr - apw
>
> Senin, 09 November 2009 | 07:48
>
> DUMPING KERTAS
>
> AS Tuding Sinar Mas Dumping Kertas
>
> JAKARTa.
> Kekhawatiran produsen kertas dalam negeri soal dugaan dumping kertas
> lapis (coated paper) dari Amerika Serikat (AS), terbukti.
> Komisi Perdagangan Internasional AS
> atau United States International Trade Commission (US-ITC), Jumat
> (6/11) waktu AS, memastikan perusahaan kertas milik Sinar Mas Group, PT
> Pabrik kertas Tjiwi Kimia dan PT Pindo Deli Pulp & Paper, terbukti
> merugikan industri kertas AS. Ironisnya, AS juga menuduh perusahaan
> kertas Sinar Mas di China juga tersangkut masalah serupa. yakni Gold
> East Paper Co Ltd dan Gold Huasheng Paper Co Ltd. Nilai total kerugian
> US$ 317 juta.
> Merujuk pada kantor berita Associated
> Press (AP) yang melansir berita itu, Sabtu (7/11), US-ITC menelisik
> dugaan dumping atas pengaduan produsen kertas AS, yakni NewPage Corp,
> Appleton Coated LLC, Sappi Fine Paper, bersama serikat pekerja The
> United Steelworkers of America, September lalu. Tuduhannya: melakukan
> dumping dan menerima subsidi negara (countervailing).
> Dari keputusan rapat akhir pekan lalu
> itu, Departemen Perdagangan AS bakal tetap melengkapi investigasi
> antidumping dan countervailing duty terhadap Sinar Mas. Hasil
> investigasi bakal diumumkan Maret tahun depan.
> Direktur Pengelola Sinar Mas Group
> Gandhi Sulistiyanto membantah kabar pihaknya telah diputuskan bersalah
> karena terbukti dumping dan countervailing. "Saat ini kami masih proses
> pengisian kuesioner seperti yang mereka minta dalam investigasi,"
> tutur, Gandhi (8/11).
> Selain ke perusahaannya, kuesioner itu
> juga disebarkan ke Departemen Perdagangan, Departemen Kehutanan, serta
> Departemen Keuangan.
> Gandhi yakin, tuduhan dumping itu tidak
> beralasan. Ia menilai, AS sengaja melempar isu tersebut untuk
> melindungi produsen lokal AS yang kini mulai kalah bersaing dengan
> produk kertas bergaris dari Indonesia dan China.
> Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas
> Indonesia (APKI) Mohammad Mansyur menambahkan, tuduhan AS itu
> mengada-ada dan sulit dibuktikan. "Itu kebiasaan mereka (AS) kalau
> mulai merasa dapat saingan," katanya.
> Mansyur yakin, saat investigasi
> lapangan berlangsung, akan terbukti bahwa biaya produksi kertas di
> Indonesia memang cukup rendah. "Selain karena memiliki akses bahan
> baku, upah buruh kita jauh lebih rendah," ujarnya.
> Gandhi minta pemerintah serius
> menangani masalah ini. Hartojo Agus Tjahjono, Direktur Ekspor Produk
> Industri Departemen Perdagangan, hingga tadi malam belum bisa
> dikonfirmasi soal tersebut.
> Sesungguhnya, ini adalah tuduhan
> dumping dan subsidi kedua kali terhadap Sinar Mas Group dari AS setelah
> 2006. Pada 2006, US-ITC mencabut tuduhan itu setahun kemudian karena
> tidak terbukti. n
>
>  ---
> ref: http://www.micronics.info http://www.java-cafe.net
> http://www.apwkomitel.org
> http://www.facebook.com/people/Rudi-Rusdiah/651699209
> ---
>
>  
>

Kirim email ke