Yth. rekan Pengawal e-Gov Indonesia,
Dibawah ini saya kutip berita dari Detik Finance/Detik.Com, Per tanggal
29 Januari 2010 , jam 18:03, yang isinya meski tidak bohong namun
dipotong sedemikian rupa dan diberikan judul yang secara total sangat
menyesatkan bagi pembaca yang tidak tahu.
Isi sebenarnya adalah wawancara SBY dengan pengusaha dari surabaya yang
intinya akan menyatakan bahwa pengalaman pengalaman pribadi sang
pengusaha mempergunakan portal INSW memang sangat membantu memperingan
proses usahanya, berbeda dengan film yang diputar sebelumnya wawancara,
yang isinua tentang ilustrasi INSW , yang hanya filem yang di rekayasa,
maka apa yang dialami sang pengusaha adalah pengalaman pribadi yang
benar-benar terjadi dan bukan rekayasa, karena dengan mempergunakan
fasilitas INSW maka proses export barangnya dapat dilakukan secara
elektronik dan cepat dan mudah, demikian pula fasilitas tracking proses
layanan dapat mempermudah menjejagi sampai dimana tahap prosesnya secara
online langsung oleh pelaku usaha sendiri. Sang Pengusaha juga
mengingatkan dengan adanya ketergantungan proses import export
sepenuhnya pada sistem INSW perlu juga dilengkapi dengan sarana back-up
dan prosedur tindakan petugas bila ada gangguan sistem. Suatu hal yang
tentunya sangat menggembirakan bagi para pelaku usaha dan masukan yang
baik bagi INSW. Namun dengan teknis penulisan dan pemotongan cerita
hanya sebagian yang di paparkan akan menyebabkan siapapun yang tidak
pernah tahu proses INSW akan memperoleh informasi yang berbeda, karena
mereka bisa berpikir bahwa Pengusaha Curhat ke SBY kalau NSW hanyalah
rekayasa
Cara pemberitaan ini sangat menyakitkan lagi bagi para PNS pelaksana
proyek yang nyaris selama 3 tahun terakhir lebih banyak meluangkan akhir
pekannya untuk melaksanakan penyempurnaan INSW, para Rekanan yang
mendukung kolaborasi proses antar lembaga negara tanpa tambahan biaya
dari Semua Kementerian Lembaga yang mendukung terlaksananya INSW.
Demikian pula bagi kami sekelompok relawan profesional TIK dan para
pensiunan Purna PNS yang sejak 2007 terlibat aktif mendukung realisasi
INSW tanpa imbalan jasa profesional dan tidak membebani negara.
Semuanya adalah bentuk kerja nyata untuk membuktikan bahwa kami dalam
Tim Pelaksana bukan hanya bisa bicara, kami bisa buktikan bahwa
reformasi birokrasi layanan publik dapat dilaksanakan dengan berbasis
terapan e-Gov secara benar dinegeri ini dan dilaksanakan sendiri oleh
Anak Negeri.
Kami sangat menyayangkan upaya untuk memperbaiki negeri ini yang telah
dilaksanakan secara serius oleh Tim Pelaksana Gabungan yang bekerja
tanpa pamrih, tanpa membebani anggaran negara secara berlebihan, dan
tanpa bantuan dan supervisi asing, ternyata telah tidak dihargai oleh
oknum2 tertentu yang menyesatkan citra publik,
Semuanya yang dilakukan dalam terapan INSW telah membuktikan bahwa
dengan kemauan dan kebersamaan Bangsa Indonesia sanggup menerapkan e-Gov
secara benar dan saat ini justru menjadi contoh bagi negara ASEAN besar
lainnya yang punya kesamaan kompleksitas terapan e-Gov, yang semuanya
bisa menjadi contoh nyata untuk dapat disebarkan dan menjadi ukuran
dalam memperbaiki tata kehidupan bangsa dan citra Indonesia .
Kami pahami dengan adanya INSW memang sangat banyak pihak yang telah
dirugikan, uang bawah meja semakin sulit diperoleh, karena mereka lebih
banyak berinteraksi hanya dengan komputer, peran Makelar ijin dan proses
Import/Export semakin sempit dan menuntut profesionalism tinggi, proses
penyelundupan barang import dan export menjadi makin sulit untuk
dilaksanakan melalui jalur formal, Pertukaran data antar lembaga negara
menyebabkan sulitnya manipulasi import exort antar negara.
Sayang sekali Media publik yang ada tampaknya juga kurang mampu
menangkap makna dibalik peresmian INSW, yang merupakan tonggak sejarah
bagi terapan e-Gov di Indonesia, karena dengan adanya INSW maka :
- Tidak ada lagi Kementerian / Lembaga Negara atau Vendor TIK yang boleh
membuat alasan teknis hanya untuk mempertahankan sekat pulau2 Informasi
antar setiap satuan kerja yang banyak terjadi,
- Tidak ada lagi alasan bagi pejabat untuk tidak mempergunakan data
elektronik sebagai data utama dan persetujuan elektronik sebagai bukti
hukum.
- Tidak lagi ada layanan publik yang mengharuskan penerima layanan untuk
hal yang bukan bersifat penyidikan
- Tidak ada lagi alasan bahwa data elektronik suatu lembaga negara tidak
boleh dipergunakan oleh lembaga negara lain selama memenuhi ketentuan
keamanan informasi
- Tidak lagi proses terhambat akibat pejabat sedang rapat, karena proses
tetap bisa dilakukan dengan persetujuan pejabat melalui sarana mobile.
- Tidak ada lagi alasan bahwa proses layanan publik tidak bisa di
otomasi, karena dengan layanan antar SATKER, sistem dapat dibuat untuk
mengendalikan tahap proses sesuai standar & prosedur operasi, sehingga
dapat dilaksanakan manajemen kinerja dan tracking proses secara online,
- dan masih banyak perubahan besar lainnya
Semuanya ini merupakan bentuk nyata reformasi birokrasi hasil anak
negeri, yang seharusnya di dukung oleh semua insan yang mengaku ber
kebangsaan Indonesia, dan bukan penghianat bangsa.
Kami bekerja untuk membuktikan bahwa dengan gotong royong - kebersamaan,
maka Bangsa Indonesia pasti mampu memperbaiki dirinya sendiri, kami
bekerja sukarela sebagai bagian dari Amal & ibadah dengan membangun
Negeri tercinta dengan kerja nyata, bukan cuma bisa bicara dan
mengkritik saja, namun kami juga tahu apa yang harus diperbaiki dan
mampu memperbaikinya.
INSW bukan rekayasa, dan juga bukan lagi hanya impian, tapi sudah
merupakan wujud nyata dari terapan e-Gov antar instansi, meski belum
semuanya sempurna namun sudah bisa menjadi contoh terapan e-Gov antar
instansi untuk disebar luaskan.
Kami sadari bahwa Implementasi INSW merupakan mimpi buruk bagi banyak
pihak yang tidak lagi bisa memanfaatkan ketidak jelasan dalam layanan
publik untuk keuntungan pribadi dan memperoleh uang haram..
Saya tidak perlu menyampaikan unek2 ini ke Detik .Com ataupun Detik
Finance, karena saya yakin redaktur Detik.com yang profesional pasti
tahu apa yang harus dilakukan untuk melakukan perbaikan kedalam, agar
Masyarakat tetap percaya bahwa Detik akan selalu menjaga beritanya untuk
selalu akurat,
Kiranya sekian unek2 kekecewaan kami, atas pemberitaan yang sangat tidak
menghargai upaya anak negeri.
Semoga terapan eGov Indonesia semakin berkembang lebih luas- lebih baik
lagi, untuk membuat kehidupan bangsa kita semakin nyaman dan bisa
menjadi Tuan di Negaranya sendiri.
Wassalam,
Hari S,noegroho
Relawan Tim Ahli INSW.
------------------------------------------------------------------------
Curhat ke SBY, Pengusaha Anggap NSW Adegan Rekayasa
*Ramdhania El Hida* - detikFinance
*Jakarta* - Dalam acara peresmian layanan National Single Window (NSW)
di Pelabuhan Tanjung Priok, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
mengadakan tanya jawab melalui teleconference dengan berbagai kalangan
pengusaha di daerah.
Dalam sesi tersebut, salah satu importir asal Surabaya bernama Suwondo
menegaskan kepada SBY dalam film pendek mengenai National Single Window
(NSW) yang dibuat Ditjen Bea dan Cukai, dirasakan layanan NSW ini hanya
sebuah adegan rekayasa.
"Bapak (SBY) kalau nonton di film itu terkesan rekayasa, nah ini saya
memberi kesaksian," ujarnya.
Namun, sebelum Suwondo melanjutkan bicara, Presiden Soesilo Bambang
Yudhoyono (SBY) memotongnya.
"Kalau begitu, Bapak bersedia main film? Tapi royaltinya bagi dua ya.
Tapi jangan lupa pajaknya, ya," ujar SBY sambil bercanda, yang langsung
ditanggapi derai tawa para tamu undangan yang hadir.
Ternyata tawaran royalti tersebut ditanggapi panitia di akhir dialog.
Pihak panitia akan menyertakan Suwondo dalam film pendek yang akan
dibuatnya lagi dengan pembagian royalti kepada Presiden SBY.
*(nia/dnl)
*
------------------------------------------------------------------------
*
*