Catatan saya pula untuk Pak Onno, heterogenitas wilayah Indonesia memang luar biasa. Negara kepulauan ini memang membutuhkan sarana Komunikasi dan transportasi, bukan saja dalam rangka hankamnas tetapi juga upaya untuk mewujudkan cita-cita proklamasi seperti tertuang dalam pembukaan yaitu kesejahteraan dan pendidikan.
Masalahnya, bagi daerah-daerah ada yangs ecara eknomis tidak cukup menarik untuk investasi bagi swasta, maka disinilah sebenarnya peran pemerintah. Maka, penerbangan perintis, pelayaran perintis sebanrnya bagian dari upaya otu dan sekaligus mewujudlkan keadilan sosial. Inilah peran pemerintah dan harus kita tuntut agar pemerintah ingat akan tesis para poendidi bangsa, bukan liberal (maka UU BHP dibatalkan) dan bukan pula sosialis.Jangan sampai semanagt liberalisme untuk menguasai hajat hidup orang banyak sehingga masyarakat yang tidak bisa mengakses sumber-seumber ekonomi semakin banyak. Mungkin, karena ada penerbangan perintis, pelayaran perintis, perlu pula Internet perintis dimana pemerintah harus mengisinya. Lagi, transportasi dan komunikasi adalah kata kunci. Telkom sudah menyiapkan SIAP yang tentu akan sangat bermanfaat bagi sekolah-sekolah IT Novice di seluruh penjuru negara kepulauan Indonesia, juga knowledge dan resources yang disediakan oleh Jardiknas dan Pustekom, tentu sumber lain di internet tidak bisa dikesampingkan. namun, itu semua akan sia-sia dan hanya akan dinikmati oleh masyarakat di kota atau yang fasilitas komunikasinya sudah bagus. Artinya, kesenjangan itu akan dipelihara dan ini berbahaya bagi hankamnas disamping menyimpang dari cita-cita proklamasi. Minggu depan saya akan memprovokjasi sekolah-sekolah di Galur dan Lendah Kabupaten Kulon Progo yang jaraknya tidak lebih dari 50km dari Jogjakarta untu menggunakan FOSS dan CBIS manajemen sekolah di bidang akademik dan administrasi. SIAP sudah menyediakan fasilitas ini secara gratisSaya tanya ke JMN, tampaknya belum sampai kesana, meskipun sudah sampai ke Kebumen yang jaraknya 3 kali lipat. Ini tentu sebuah contoh bagaimana Keadilan Sosial itu perlu dipikirkan dalam konsep Internet Perintis, seperti penrbangan perintis, dan pelayaran perintis. Sekali lagiu, Transportasi dan Komunikasi adalah esensial dan hakiki bagi negara kepulauan Indonesia. salam. On Sat, 2010-04-24 at 04:12 +0700, Tjetjep RB wrote: > Dear Pak Onno dan rekan milis, > > Menyimak catatan Strategi Alternatif dalam ICT untuk Pendidikan sungguh > menarik, karena banyak masukan dan alternatif yang bisa kita ambil dalam > rangka pemanfaatan ICT untuk Pendidikan. > Salah satu yang perlu dipikirkan juga adalah Strategi di Bidang > Infrastruktur. Saya pikir bidang infrastruktur tidak hanya memikirkan > bagaimana sekolah atau masyarakat memiliki koneksi ke internet dalam rangka > perolehan konten yang dibutuhkan. Walaupun kita tahu bahwa konten yang ada > di internet sudah sangat banyak, bervariasi dan sangat cepat didapat serta > selalu up-to-date pada beberapa bagian tertentu sehingga dapat membantu > percepatan belajar dan mengajar. > Pertanyaan mendasar seorang guru atau orang tua bilamana anaknya mengakses > internet adalah rasa aman dan nyaman serta tenang tanpa perlu ada keresahan > dalam diri guru atau orang tua terhadap konten-konten yang tidak layak > dikonsumsi oleh seorang peserta didik. Ada solusi untuk itu? Tentu banyak > cara, salah satunya adalah dengan diluncurkannya Nawala Project di > nawala.org yang memiliki tujuan untuk menyaring konten negatif. Efektifkah > pemakaian DNS Nawala ? Itu yang selalu diharapkan. Solusi jaringan > bagaimana? Banyak cara juga, dengan adanya daftar ribuan url yang > dikategorikan untuk diblok dan dimasukkan ke konfigurasi squid, dll. > Efektifkah cara-cara seperti itu? Itu juga adalah suatu harapan. Karena > tidak hanya melihat dari sisi banyaknya filtering situs yang diperhatikan > tetapi juga akan berpengaruh pada kinerja komputer dan lainnya. > Terlepas dari itu semua, solusi-solusi lain dari sisi infrastruktur untuk > kebutuhan ICT untuk Pendidikan tentu harus diperhatikan juga, selain hanya > bisa mengakses internet dan kontennya. > Salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan juga adalah infrastruktur > jaringan lokal sekolah sampai daerah (Kab/Kota) atau lebih luas sehingga > bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain disamping akses konten dari internet. > Ambil salah satu contoh misalnya, bagaimana solusi VoIP sangat bermanfaat > bagi komunikasi antar jurusan di suatu Sekolah atau bahkan di suatu wilayah > Kab/Kota atau bahkan provinsi dan lain sebagainya yang bisa mengurangi biaya > operasional pendidikan (pengurangan biaya pemakaian telepon misalnya) dan > mempercepat komunikasi karena tdk terkendala dengan pembayaran telepon yang > masih menunggak, pulsa yg minim dan lainnya. > Jadi solusi di bidang infrastruktur yang harus dipikirkan bukan hanya > bagaimana bisa koneksi ke internet dengan mudah dan murah, tetapi juga harus > mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan lain dari segi pemanfaatan komunikasi. > Apabila di Indonesia ini koneksi internet sudah mudah, murah dan kualitas > serta kuantitasnya bisa menjamin kebutuhan-kebutuhan pemanfaatan ICT untuk > Pendidikan secara maksimal, saya kira tidak ada masalah, kenapa harus > membangun WAN atau JARDIKNAS yang menghabiskan biaya tinggi. Tapi > kenyataannya belum seperti itu dan kebutuhan pemanfaatan ICT untuk > Pendidikan tidak hanya sebatas akses website statis saja. > Kalau saya lihat di paparan ICT for Education An Overview Prepared by Wadi > D. Haddad ada 8 Potentials of ICT yang menarik untuk disimak serta bahasan > lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam rangka pemenuhan ICT untuk > Pendidikan, tentu penyesuaian kondisi dan situasi jangan diabaikan. > Intinya adalah infrastruktur WAN Kab/Kota, Network Pendidikan (NetDik JABAR > yang akan dikembangkan di Jawa Barat, mudah2an tdk ada kendala) sampai > JARDIKNAS sangat penting dan bermanfaat serta akan dibutuhkan tidak hanya > koneksi internet murah dan mudah saja, hanya saja perlu dipikirkan adalah > bagaimana mengoptimalkan jaringan tersebut agar bisa bermanfaat untuk dunia > pendidikan. > > Maaf bila ada penafsiran atau ungkapan yang salah. Ini hanya sebatas sharing > pendapat. Klo diskon internet untuk pendidikan sangat setuju ;-) > > Hatur nuhun, > Tjetjep RB > > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf > Of Onno W. Purbo > Sent: Thursday, April 22, 2010 2:26 PM > To: [email protected] > Cc: [email protected]; [email protected] > Subject: [Maju,Cerdas&Kompetitif] Strategi Alternatif dalam ICT untuk > Pendidikan > > > > > Untuk yang ingin membaca dalam format yang lebih baik > ada baiknya mengakses ke > http://www.facebook.com/notes/onno-w-purbo/strategi-alternatif-dalam-ict-unt > uk-pendidikan/415408226527#!/notes.php?id=39125097711 > > Strategi Alternatif dalam ICT untuk Pendidikan > > Onno W. Purbo > > Dasar Asumsi > Biaya akses Internet relatif murah. > Tidak semua daerah di Indonesia terjangkau sarana telekomunikasi & > Internet. Perlu perhatian khusus pada daerah rural / remote. > Dunia pendidikan banyak bertumpu pada sumber / bahan ajar dan sumber daya > manusia (guru, teknisi, pegawai dinas). > Bangsa Indonesia ingin mandiri dalam mengembangkan software & tidak ingin > tergantung pada vendor software tertentu. > Bahasa pengantar pada berbagai software pendidikan & content management > system banyak yang menggunakan bahasa Inggris. > > Target > Membuka kemungkinan akses Internet bagi seluruh MTs, MA, SMP, SMA. Juga SD > bagi yang menginginkan. ESTIMASI 240.000 sekolah. > Menyiapkan SDM Teknisi Komputer & Jaringan di 400+ kabupaten, dalam bentuk > beasiswa & kewajiban untuk membantu helpdesk di masing-masing kabupaten. > Hitungan kasar akan membutuhkan sekitar 5-10 orang / kabupaten. ESTIMASI > 2000-4000 SDM. > Mengkompetisikan pembuatan konten-konten pendidikan, dapat berupa audio, > video, web, software dll. Estimasi kasar 3-4 jenis konten / mata pelajaran > / kelas / tingkat pendidikan. ESTIMASI 500-1000 CONTENT PENDIDIKAN. > Mengkompetisikan penterjemahan berbagai software open source untuk > pendidikan agar berbahasa Indonesia. ESTIMASI ratusan APLIKASI. > > Strategi Secara Umum > Semua software yang digunakan sebaiknya berbasis pada Open Source Software > untuk kemandirian bangsa Indonesia. > Semua media belajar yang dikembangkan, berupa audio, video, web, e-book > dll. Harus menggunakan lisensi GNU / Creative Common dan harus di simpan > di penyimpanan yang terbuka di Internet. > Pola yang dipakai sebaiknya bersifat terbuka. Semua lapisan masyarakat / > stake holder dibuka kesempatan untuk berpartisipasi. SIFAT KOMPETITIF. > Pola yang dipakai sebaiknya bersifat kompetisi. Masyarakat / guru / > sekolah yang ingin berpartisipasi harus berkompetisi untuk memperoleh dana > / bantuan / program / beasiswa. Kompetisi harus berdasarkan proposal yang > di masukan, tidak di sarankan sistem penunjukan langsung. > > Strategi di Bidang Infrastruktur > Memastikan adanya discount akses Internet untuk dunia pendidikan. Perlu > negosiasi dengan KOMISI 1 DPR RI agar ada kompensasi bagi discount untuk > dunia pendidikan, misalnya equivalen dengan Universal Service Obligation > (USO). NEGOSIASI REGULASI. > Stake Holder dapat mengajukan untuk pengembangan Teknik / Akses melalui > operator Selular bagi wilayah rural / pedesaan. SIFAT KOMPETITIF. > Di harapkan biaya yang perlu di keluarkan oleh sekolah untuk akses > Internet berkisar antara Rp. 50-150.000 / bulan / sekolah di biayai oleh > sekolah masing-masing. SIFAT SWADAYA. > Solusi USO bagi wilayah yang benar-benar tidak ada akses komunikasi / > Internet. Sekolah yang ingin memperoleh solusi USO ini sebaiknya > mengajukan diri dalam bentuk proposal. SIFAT TIDAK KOMPETITIF. > > Strategi di Bidang SDM > Beasiswa untuk SDM pendukung teknik komputer & jaringan untuk helpdesk > bagi operasional jaringan di sekolah-sekolah. SDM ini sebaiknya di > integrasikan sebagai teknisi lab atau guru. SIFAT KOMPETITIF. > Beasiswa untuk SDM / guru-guru komputer / IT di sekolah-sekolah untuk > melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. SIFAT KOMPETITIF. > Beasiswa sebaiknya digunakan juga untuk Beasiswa D3 TKJ yang pernah dulu > digulirkan supaya SDM tersebut tetap terpelihara. SIFAT TIDAK KOMPETITIF. > > Strategi di Bidang CONTENT Pendidikan > Content dapat berupa audio, visual, animasi, web, software. > Stake Holder dapat mengajukan proposal untuk mendanaan Content Pendidikan. > SIFAT KOMPETITIF. > Stake Holder dapat mengajukan proposal untuk membuat infrastruktur > pendukung pengembangan aplikasi, seperti Source Forge, Wikipedia, Blog > dengan menggunakan Server Lokal di Indonesia. SIFAT KOMPETITIF. > Stake Holder dapat mengajukan proposal untuk penterjemahkan berbagai > software open source menjadi bahasa Indonesia. SIFAT KOMPETITIF. > > > > > ------------------------------------ > > ------------------------------------------------------------------------- > <?ol else ?> > mailto:[email protected] > <?ol /if ?> > mailto:[email protected] > > > >
