Ikutan nimbrung boleh para senior? Kalau bicara kompetensi, sesungguhnya programmer2 asli Indonesia banyak. Yang jadi masalah adalah, tiap kali pengadaan s/w dari kebanyakan Instansi negeri ini, dengan alasan dananya yang besar, mereka sudah men"set" dengan produk LN, padahal produk LN itupun juga asal muasalnya karena diberi kesempatan oleh Pemerintahnya untuk berpartisipasi dalam project2 negerinya, entah di negerinya sendiri atau di negeri yang mendapat bantuan.
Lalu kalau begini terus, kapan karya anak negeri bisa dipersaingkan dg produk LN?. Saya sangat percaya, kalau anak negeri diberi kepercayaan, mereka bisa dan bahkan bisa lebih baik. Tapi koq, lagi-lagi, begitu bicara angka yang puluhan milyar, anak negeri dilupakan. Bagaimana om Hary? Agus Supriyanto ________________________________ From: rudymharahap <[email protected]> To: [email protected] Sent: Wed, August 18, 2010 1:50:44 PM Subject: Re: [eGovIndonesia] Lelang Sistem Informasi Pelayanan Rumah Sakit Terintegrasi betul sekali pak hari. kalau saya lihat 14m itu baru iniasi. masalahnya, dengan requirement yang disampaikan pak hari, dan percis seperti yang ada di procurement documentnya, apakah ada di Indonesia? saya cek koq kebanyakan produk luar negeri. bagaimana ini negeriku? kemana saja hai Anda para ahli TI Indonesia? Apakah sudah terbang ke luar negeri semua yang pintar-pintar? Atau produk dari luar negeri itu, ternyata orang Indonesia juga yang buat? --- In [email protected], "hnoe...@..." <hnoe...@...> wrote: > > So Pasti tidak bisa dibandingkan, > Pertama yang mau pakai merupakan RS Jantung modern yang sudah menganut > standar Layanan Kesehatan International, sehingga jauh berbeda dengan > kebutuhan sebuah Klinik, > Kedua umumnya proyek seperti itu cakupannya selalu turk key project, > mulai dari Hardware, network, lisensi DBMS, lisensi program aplikasi, > Implementasi, Manajemen perubahan yang mencakup mulai dari analisa gap > atas proses bisnis dan kebutuhan informasi, hingga pembuatan prosedur > kerja baru dan pelatihan bagi usernya, > Yang mungkin bisa dibandingkan hanyalah harga lisensi, itupun hanya bisa > dilakukan bila mempergunakan basis software pendkung yang setara atau > sama, dan yang pasti untuk rumah sakit sekelas Harapan kita membutuhkan > aplikasi yang harus bisa menjamin keamanan proses dan informasinya > akurat sepanjang waktu dan harus dapat menampung data kesehatan historis > sejak lahir (menjadi pasien) hingga meninggal, untuk bisa diakses dari > mana saja kapan saja termasuk akses secara mobile. > Demikian pula dengan digunakannya mesin2 kesehatan yang mampu mentrasmit > data medis secara otomatis ke pusat data base di RS tersebut, seharusnya > aplikasi yang ada memiliki fasilitas untuk menjamin proses data secara > single submission , sehingga sistem yang dibelii punya kemampuan menarik > data hasil proses mesin kesehatan langsung masuk ke medical record > secara realtime saat pemeriksaan kesehatan dengan alat kesehatan yang > dipergunakan. > Dan perkiraan saya bila turn-key dan harus memenuhi standar layanan > kesehatan international sebagai dasar penetapan cakupan kebutuhan, maka > dengan anggaran sebesar 14 Milyard Rp belum tentu mencukupi > semoga bermanfaat. > > > On 8/18/2010 9:08 AM, rudymharahap wrote: > > > > > > yach, nggak bisa dibandingkanlah, kalau di dalamnya ada server, > > network, tools monitoring, etc. > > > > --- In [email protected] > > <mailto:egov-indonesia%40yahoogroups.com>, "si Nung" > > <sinung4milis@> wrote: > > > > > > On 18 Aug 2010 at 0:50, rudymharahap wrote: > > > > > > > PENGUMUMAN PELELANGAN UMUM > > > > Nomor: PL.01.07/DL/067/2010 > > > > Rumah Sakit Jantung Dan Pembuluh Darah Harapan > > > > > > > >
