Atau digunakan sbg mainstream, daripada pelajaran sendiri. Mengajarkan nasionalisme bukan dg cerita bambu runcing dan berkelahi otot, atau menghafal Pancasila, tetapi bagaimana mencintai negeri ini dg berkomitmen agar menjadi manusia yg produktif, membayar pajak, saling bekerjasama utk membangun, dan tidak mencuri, public goods. Nasionalisme tidak lagi diukur dari omongan dan keberanian siap perang, tapi dari apa yang dikontribusikan utk kelompok yg disebut Indonesia ini. ac
From: as Sent: Sunday, August 29, 2010 11:03 AM To: [email protected] Cc: [email protected] ; [email protected] ; [email protected] Subject: Re: [eGovIndonesia] Nasionalisme dan Kesetiakawanan Sosial Nasional Kewarganegaraan mestinya sudah tidak lagi menjadi sks di Perti. Mestinya target di SD, SMP dan SMA jelas. Lepas SMA urusannya bukan lagi urusan pembentukan karakter karena pada usia tersebut adalah usia semakin mandiri dimana kegiatan mandiri seperti Ormas, UKM, dan berbagai kegiatan lain bisa dipilih. Kalau indoktrinasi masih sampai Perti maka jangan tanyakan kalau mereka kesuliyan mengalokasikan 148 SKS ketika pemerintah mengambil jatah yang tidak semestinya atas nama nasionalisme. On Sun, 2010-08-29 at 00:58 +0000, Wahyu Wijanarko wrote: > http://wahyu.com/2010/08/29/nasionalisme-dan-kesetiakawanan-sosial-nasional/ > > Ketika negeri kita ada masalah dengan negara tetangga, banyak yang merasa > terusik. Namun di dalam tubuh negeri ini sendiri orang saling menjatuhkan > karena mengurus kepentingan sendiri. > > Saya kuliah di Fakultas Tenik. Namun saya masih ingat ketika kami mengikuti > kuliah kewarganegaraan. Di situ Ibu Dosen memberikan pertanyaan mengenai > bagaimana cara membangkitkan nasionalisme. > > Saya waktu itu menjawab bahwa nasionalisme bisa dibangkitkan jika kita merasa > saling memiliki dan senasib sepenanggungan tanpa ada persaingan yang saling > menjatuhkan. Pada akhirnya hal itu berkembang menjadi diskusi yang hangat di > kelas, karena saya harus memaparkannya dengan rinci maksud dari pernyataan > saya. > > Ya, di dunia ini manusia terlahir dengan persaingan. Dalam tingkat apapun > manusia selalu ingin menjadi lebih baik dari sesamanya yang lain. Di tingkat > rumah, kakak dan adik bersaing untuk mendapat prestasi yang baik di mata > orang tua. Di situ muncul persaingan individu. Ketika ada lomba antar > keluarga di RT, rasa menjadi satu keluarga muncul dan mengesampingkan rasa > bersing antar individu, sehingga terjadi persaingan antar keluarga. Demikian > juga, semakin besar tingkatannya, rasa saling memiliki dalam kelompok yang > semakin besar akan tercipta. > > Persaingan antar provinsi akan menumbuhkan kesatuan orang-orang yang merasa > memiliki provinsi tersebut. Persaingan antar partai akan memberikan rasa > bahwa orang menjadi bagian dari partai itu untuk bersatu bersaing dengan > partai lain, walaupun sebelumnya antar individu dalam partai itu bersaing > berebut kekuasaan di dalam partai. > > Bagaimana menumbuhkan nasionalisme? Ya, kita semua harus memiliki satu rasa > memiliki bangsa dan negara ini dan memiliki visi yang jelas dan sama mengenai > bagaimana negara ini di masa depan. > > Faktanya, menghancurkan negeri ini sangat mudah. Cukup dengan cara diadu > domba saja. Kakak diadu domba dengan adik, suku satu diadu domba dengan suku > lain. Agama tertentu diadu domba dengan agama lain. Ketika masing-masing > sibuk saling menjatuhkan, maka musuh akan masuk dan membinasakan. > > Persaingan akan menghasilkan hal yang luar biasa jika tidak dengan cara > saling menjatuhkan, namun masing masing bersaing dengan menunjukkan > prestasinya. > > Salam prestasi dari pedalaman Kalimantan Tengah
