Senin, 28 Februari 2005 Sumber : www.republika.co.id Manifesto BBM Oleh : Revrisond Baswir Tiba-tiba saja puluhan SMS mendarat di telepon genggam saya. Isinya rata-rata menyesalkan dan mengecam penerbitan sebuah iklan satu halaman penuh oleh sebuah surat kabar Jakarta, yang terbit Sabtu pagi lalu. Rekan saya Indra J Piliang, seorang peneliti CSIS, menulis SMS dengan bunyi sebagai berikut, ''Agar pendapatnya didengar, kaum intelektual perlu memasang iklan mahal .... Para ibu-ibu di pasar hanya bisa menjerit tak bisa beli koran, apalagi iklan ....'' Sedangkan rekan saya yang lain, Arie Sujito, dosen sosiologi UGM, menulis SMS dengan nada sangat keras, ''... antek neolib, agen imperialis penghancur rakyat! LAWAN!'' Yang lebih hebat, bersamaan dengan puluhan SMS tersebut, saya juga menerima telepon secara langsung dari beberapa orang rekan yang lebih senior. Prof Mubyarto tiba-tiba menelepon saya untuk menyampaikan keprihatinannya terhadap penerbitan iklan tersebut. Sedangkan mantan menteri keuangan, Rizal Ramli, bercerita mengenai kepanikan yang sedang dihadapi oleh para pejabat pemerintah di Jakarta, dalam membuat keputusan mengenai kenaikan harga BBM yang direncanakan mulai berlaku hari ini. Yang jadi soal, karena saya sendiri belum membaca iklan yang bersangkutan, maka selama perbincangan dengan berbagai rekan tersebut, saya hanya bisa meraba-raba isi dan tampilan iklan yang sedang dipermasalahkan. Saya baru membaca iklan itu setelah membeli koran yang memuatnya pada sore hari. Dugaan saya ternyata meleset sangat jauh. Dilihat dari segi pesan serta nama-nama yang ditampilkan, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang benar-benar mengundang kejutan. Isi pesannya hanya mengulang pernyataan yang telah dibuat oleh beberapa pejabat pemerintah beberapa hari sebelumnya. Sedangkan nama-nama yang ditampilkan, selain menampilkan dua juru bicara presiden dan lima pejabat atau calon pejabat eselon satu pemerintah, boleh dikatakan tidak ada satu pun yang benar-benar istimewa. Dengan kata lain, terutama karena ukurannya yang mencapai satu halaman penuh, yang mencolok dari iklan itu tidak lebih dari berlangsungnya pamer kolaborasi antara kekuasaan dan kapital. Lebih-lebih bila dilihat dari segi pangsa pasar pembaca koran yang memuat iklan tersebut. Kesan yang muncul tidak lain dari sedang berlangsungnya sebuah upaya konsolidasi di antara kaum borjuasi dan modal internasional untuk membela kepentingan mereka. Walaupun demikian, setelah tercenung sejenak, tanpa sengaja, iklan satu halaman penuh tersebut tiba-tiba saja mengingatkan saya pada Manifes Kebudayaan (Manikebu), yang ditandatangani oleh HB Jassin dan kawan-kawan pada tanggal 17 Agustus 1963. Dengan mengemukakan itu tentu bukan maksud saya untuk merendahkan Manikebu. Dilihat dari segi substansi pesan, konteks, dan cara penyampaiannya, Manikebu jelas memiliki tempat yang sangat layak untuk dicatat dalam sejarah perkembangan pemikiran dan kebudayaan di Indonesia. Sebaliknya, iklan satu halaman penuh, yang mungkin bisa kita sebut sebagai Manifesto BBM (Mani-BBM), yang menampilkan pamer kolaborasi antara kekuasaan dan kapital, selain lemah pada substansi dan konteks, cara penyampaiannya memang layak untuk dikecam. Pertanyaannya, bagaimanakah seharusnya pemerintah, khususnya Presiden SBY, menyikapi iklan Mani-BBM tersebut? Artinya, dilihat dari segi pengaruh iklan Mani-BBM itu terhadap tingkat kepercayaan rakyat kepada Presiden, apakah iklan tersebut lebih banyak mengandung nilai tambah atau nilai kurang? Pertanyaan tersebut perlu saya kemukakan, sebab dikaitkan dengan dua peristiwa sebelumnya, pernyataan ''I don't care with my popularity'' dan ''siap tidak populer'', ada kesan kuat bahwa pemerintah memang sedang didorong untuk lebih populer di kalangan kaum borjuasi daripada di hadapan rakyat banyak. Pernyataan ''I don't care with my popularity'', misalnya, jelas sekali meningkatkan popularitas Presiden di kalangan para pengusaha nasional. Buktinya, ketika membuat pernyataan tersebut, hampir semua peserta Rapimnas Kadin menyambutnya dengan tepuk tangan gemuruh. Demikian halnya dengan pernyataan ''siap tidak populer'' yang dikemukakan ketika membuka seminar dan pameran pasar modal Indonesia 2005. Bertolak belakang dari bunyi pernyataan yang dibuat, pernyataan tersebut jelas mendongkrak popularitas Presiden di kalangan para pelaku pasar modal di Indonesia. Nah, iklan Mani-BBM satu halaman penuh yang ditujukan kepada para pembaca koran lapisan atas tadi, saya kira hanya mempertegas kecenderungan serupa. Artinya, bila ditelaah secara cermat, belakangan pemerintah tampaknya memang didorong oleh pihak-pihak tertentu untuk lebih berpihak kepada kaum borjuasi daripada kepada rakyat banyak. Saya tidak tahu apakah kecenderungan itu disadari atau tidak disadari oleh Presiden? Jika disadari, kecenderungan seperti itu tentu perlu diwaspadai. Membuat pernyataan ''I don't care with my popularity'' dan ''siap tidak populer'' dengan tujuan untuk membangun popularitas di kalangan kaum borjuasi, dengan mudah dapat ditafsirkan sebagai membuat pernyataan, ''(Demi kaum borjuasi), saya siap dimusuhi rakyat.'' Mudah-mudahan kecenderungan tersebut tidak lebih dari upaya pihak-pihak tertentu untuk menelikung Presiden demi kepentingan kaum mereka sendiri. Wallahu a'lam. ===== Satrio Arismunandar News Producer, Trans TV News Department, Floor 3 Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 Phone: 7917-7000 ext. 4027, Fax: 791-84558, Residence: (021) 771-2348 HP: 0813 1504 7103 __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> What would our lives be like without music, dance, and theater? Donate or volunteer in the arts today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/Tcy2bD/SOnJAA/cosFAA/GEEolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Bantu Aceh! Klik: http://www.pusatkrisisaceh.or.id Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ekonomi-nasional/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
