DOHA (SINDO) – Mulai hari ini hingga 18 Februari  mendatang,
US-Islamic World Forum  akan digelar untuk yang kelima kali. Salah  satu
bahasannya mengenai ekonomi Islam.



Pertemuan rutin tahunan tersebut  dihadiri sekitar 200 petinggi 
negara-negara muslim  serta Amerika Serikat (AS)  yang bergerak di
bidang politik,  bisnis, media, akademisi,  serta Lembaga Swadaya
Masyarakat  (LSM). Seperti pertemuan  sebelumnya, perhelatan  yang
rencananya dibuka  Presiden Dewan Menteri  US-Islamic World Forum— 
yang juga menjabat Menteri  Luar Negeri Qatar Sheikh  Hamad Bin Jassim
Bin Jabr  Al-Thani—fokus terhadap  tren, kesempatan, dan hambatan 
yang muncul antara negara  Islam dan AS.



Namun, menurut sumber  internal, bahasan mengenai  kesenjangan ekonomi,
konsep  ekonomi Islam, konflik,  krisis di negara-negara anggota,  serta
dampak terhadap  hubungan Barat dan Islam  akan menjadi salah satu
pembicaraan  pokok di forum.  Hal itu tak lepas dari isu  disparitas
kesejahteraan antara  negara-negara Islam dan  Barat, seperti AS dan
Eropa.  Selama ini, masih banyak negara-  negara Islam atau negara 
dengan mayoritas penduduk  muslim masuk kategori  miskin.Hanya sebagian
negara  Islam yang memiliki sumber  minyak melimpah masuk  kategori
negara kaya.



Isu lainnya adalah dampak  pengembangan sektor ekonomi  dan sosial yang
tidak  seimbang. Tidak heran bila  Sekretaris Jenderal Organisasi 
Konferensi Islam (OKI)  Ekmeleddin Ihsanoglu menekankan  perlunya negara
Islam  melakukan pengembangan  signifikan, terutama di sektor  Sumber
Daya Manusia (SDM).



"Mayoritas negara muslim  di dunia kini ditantang untuk 
mengentaskan kemiskinan  serta pengembangan di bidang  sosial dan
ekonomi. Kita  harus memiliki investasi  SDM yang berkualitas, terutama 
para pemuda dan wanita  cukup usia,dengan menjadikan  mereka
produktif," tuturnya.  Wajar jika Ihsanoglu menekankan  hal
tersebut. Pasalnya,  dari segi pendidikan pun mereka  tertinggal cukup
jauh dengan  sejumlah negara Barat.  Pada 2006, Perdana Menteri  Inggris
Gordon Brown –  yang kala itu masih menjabat  Menteri Keuangan
Inggris–  pada saat mengisi seminar  "Konferensi Keuangan Islam 
dan Perdagangan"mengaku  terkejut melihat kenyataan  bahwa penduduk
muslim di  dunia mencapai 22% dari  total penduduk keseluruhan.



Namun, hampir 40% anakanak  putus sekolah berasal  dari negara Islam. 
Pada dasarnya, masyarakat  yang hidup di kawasan Barat  dan
negara-negara dengan  mayoritas penduduk muslim  menyadari pentingnya
kesetaraan  dan kemajuan di sektor  ekonomi.Hal itu terlepas dari 
perbedaan pandangan sejumlah  indikator penentu.  Berdasarkan jajak
pendapat  World Public Opinion pada  April tahun lalu, sebagian  besar
penduduk negara mayoritas  muslim seperti Maroko  (62%),Mesir
(92%),Pakistan  (65%), dan Indonesia  (80%) setuju jika isu globalisasi 
dan ekonomi adalah masalah  utama.



Hasil jajak pendapat lainnya  menyatakan mayoritas negara  Barat dan
negara muslim  di dunia berpendapat bahwa  pada masa mendatang harus 
lebih baik (sejahtera) daripada  saat ini. Negara-negara  yang setuju
dengan hal  tersebut meliputi Inggris Raya  (70%), Prancis (86%), Mesir 
(83%),dan Yordania (85%).



Sementara itu, alasan  terjadinya ketertinggalan di  sejumlah sektor
dikemukakan  dengan alasan beragam.  Sebanyak 59% penduduk  Mesir dan
66% di Yordania  menuding kebijakan Barat  yang menyebabkan hal
tersebut.  Di sisi lain,51% masyarakat  Inggris menyalahkan pemerintahan
yang korup dan  48% warga Prancis menunjuk  kurang terlaksananya 
demokrasi sebagai faktor penyebab  perlambatan ekonomi  mereka.  Masih
berdasar pada hasil  survei tersebut, lebih banyak  warga muslim Eropa
justru mengecam korupsi sebagai penyebab  perlambatan ekonomi dibanding 
warga non-Muslim.  Seperti halnya yang terjadi di  Spanyol (64%),
Inggris Raya  (63%),dan Prancis (57%).



Setiap negara Islam memiliki  kelebihan dan kekurangan  baik dalam SDM
maupun  SDA. Mereka pun memiliki  spektrum strategi untuk
menumbuhkembangkan  ekonomi  yang berbeda-beda. Namun,  Grup Bank
Pembangunan  Islam pernah mengungkapkan  bahwa investasi asing  langsung
(Foreign Direct Investment/  FDI) dapat dijadikan  motor penggerak
pertumbuhan  yang signifikan.  "Seperti yang kita sadari  bersama,
pertumbuhan ekonomi  harus dipertahankan guna  mengurangi tingkat
kemiskinan  secara berkala.Pertumbuhan  ekonomi tahunan  setidaknya
dapat menopang  pertumbuhan populasi,"ujarnya  di depan negara
anggota  saat berlangsung pertemuan  World Islamic Economic  Forum di
Islamabad,Pakistan.  (amailia ph)



http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ekonomi-bisnis/ekonomi-jemba\
tan-islam-barat-2.html
<http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/ekonomi-bisnis/ekonomi-jemb\
atan-islam-barat-2.html>

Sabtu, 16/02/2008





[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke