Lho bukannya itu bagus? Satu persatu topeng mulai terbuka.. tidak ada
yang ditutup"i lagi toh.. Sudahlah, terima saja 2008 ini sebagai tahun
kebangkitan semangat orba..  Kalau di thread lain, Cikeas Inc.. sebagai
lanjutan Cendana Inc.. :-)

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

On 2/22/08, tjuk kasturi sukiadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Bung Satrio AM, saya yang bukan orang media merasakan betapa media di
> negeri ini sudah jatuh martabatnya sekedar sebagai "portofolio bisnis para
> saudagar" yang membentuk aliansi kekuasaan dengan menjadikan SBY sebagai
> "Presiden Formal" dari negeri yang bernama Republik Indonesia. Lihat saja
> berapa banyak media yang memberitakan peluncuran buku Membunuh Sumur Lapindo
> dan sekaligus Deklarasi Keberadaan Gerakan Menutup Lumpur Lapindo yang
> kemarin dilaksanakan di Ruang GBHN Nusantara V Gedung MPR Senayan.
> Mengharapkan media di Indonesia untuk masih mampu melakukan kontrol sosial
> sama muskilnya dengan menegakkan benah basah. Salam keprihatinan Tjuk
> Kasturi Sukiadi, Deklarator Gerakan Menutup Lumpur Lapindo
>
> Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]<satrioarismunandar%40yahoo.com>>
> wrote: ASPEK SIMBOLIS PADA PELUNCURAN TVONE
>
> Peluncuran TVOne pada persis �Hari Valentine�, 14 Februari 2008, mendapat
> perhatian khusus di kalangan para praktisi media TV. Stasiun TV yang
> merupakan �metamorfosis� dari Lativi ini merekrut banyak praktisi media dari
> stasiun TV lain, terutama dari Trans TV. Tak heran, jika banyak crew News
> Trans TV yang mengamati acara peluncuran itu lewat monitor di kantor Trans
> TV. Saya termasuk di antaranya.
>
> Sekilas, acara peluncuran itu secara teknis berlangsung lancar. Namun,
> masalah yang lebih besar justru bukan di soal teknis. Saya merasa kecewa dan
> amat menyesalkan, ketika acara peluncuran TVOne sampai ke tayangan
> �wawancara� Presiden SBY oleh Pemred Karni Ilyas dan presenter Tina Talisa.
>
> �Wawancara� dengan Presiden SBY, yang bersifat eksklusif dan disiarkan
> langsung dari istana, ini semula dirancang sebagai credit point, bahwa TVOne
> berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan stasiun TV lain.
>
> Namun, bagi yang sempat menonton acara itu, mungkin bisa mengingat format
> acara itu, di mana SBY duduk di tengah, seperti satu figur sentral. Dia
> menjadi fokus atau pusat dari komposisi semua sosok yang hadir di layar. Di
> sebelah kiri, ada Karni dengan postur tubuh agak membungkuk (mungkin ini
> memang sosok fisik Karni). Di sebelah kanan, ada Tina Talisa. Keduanya
> menghadap ke SBY.
>
> Kalau kita perhatikan isi pembicaraan mereka, maka sebutan �wawancara�
> mungkin tidak tepat. Menurut saya, istilah yang lebih tepat justru
> �melapor�. Karni selaku Pemred seperti melapor ke SBY tentang apa dan
> bagaimana TVOne. Program-program apa saja yang menjadi andalan TVOne, dan
> sebagainya.
>
> Karni bahkan meminta pandangan SBY tentang tayangan-tayangan TV tertentu,
> yang memberi kesempatan pada SBY untuk memberi �petunjuk,� �arahan,� dan
> �nasehat,� tentang bagaimana seharusnya program TV dikemas. Namun, Karni dan
> Tina tidak bertanya, misalnya, mengapa SBY tidak hadir di sidang DPR untuk
> menjawab pertanyaan tentang kasus BLBI, atau hal-hal lain yang menjadi
> kepedulian publik.
>
> Jika tujuannya cuma wawancara (dalam arti sebenarnya), sesungguhnya
> kehadiran Karni tidak perlu di sana. Cukup Tina saja sebagai
> reporter/presenter. Format gambar bisa menampilkan SBY dan Tina duduk secara
> sejajar. Ini secara simbolis menunjukkan, antara media dan penguasa ada
> jarak tertentu, ada independensi, dan kesetaraan. Atau, jika toh Tina
> dianggap belum mampu atau terlalu yunior untuk mewawancarai seorang
> Presiden, Karni bisa hadir sendiri dalam posisi sebagai Pemred/jurnalis,
> yang mewawancarai seorang narasumber (SBY). Tetapi, tetap dalam posisi
> kesejajaran, tidak satu mendominasi yang lain.
>
> Dalam kasus peluncuran TVOne, hal ini tidak terjadi. Kesan yang saya
> peroleh, yang terjadi adalah pimpinan redaksi TVOne, dengan didampingi salah
> seorang reporter/presenter, melakukan audiensi, menghadap, meminta arahan,
> dan petunjuk, dari penguasa tertinggi (Presiden). Fakta bahwa pimpinan
> redaksi datang atas kemauan dan inisiatifnya sendiri ke istana, sebagai
> simbol kekuasaan/penguasa, juga memiliki makna simbolis tersendiri.
>
> Ketika peluncuran Metro TV tahun 2001, ada juga kehadiran Presiden
> Abdurrahman Wahid yang memberi sambutan. Bedanya dengan kasus TVOne, waktu
> itu, Presiden Abdurrahman Wahid diundang datang ke stasiun/studio Metro TV.
> Maka status Presiden adalah tamu yang diundang, sama seperti puluhan tamu
> kehormatan lain, yang juga diundang untuk melihat peluncuran Metro TV. Jadi,
> bukan pimpinan Metro TV yang datang ke istana. Ini berbeda dengan kasus
> TVOne.
>
> Ini sekadar pandangan saya, sebagai praktisi media dan akademisi yang
> concern dengan independensi media. Terutama, dalam fungsi media untuk
> menjalankan kontrol sosial, termasuk kontrol terhadap kekuasaan dan
> penguasa. Ini adalah isu-isu yang sepatutnya menjadi keprihatinan kita
> bersama.
>
> Satrio Arismunandar
> Jurnalis dan dosen jurnalistik
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke