| Sukasah Syahdan |

Dua minggu lalu seorang wartawan senior TH dari harian Jepang yang
memfokuskan diri pada bidang pertanian mememinta bantuan seorang rekan
saya, SI, untuk meliput suasana kenaikan harga-harga sembako di
Indonesia. SI kemudian kebetulan sedikit berbincang dengan saya tentang
isu tersebut. Kami mengobrol selama beberapa menit tentang harga,
tentang reaksi masyarakat, tentang sejumlah kebijakan yang reaktif,
tentang biofuel, dlsb. Akhirnya SI meminta saya untuk membantu TH dalam
peliputannya.

Saya tidak keberatan. Untuk mempermudah pemahaman, saya memberikan dia
dokumen tertulis untuk menjelaskan butir-butir pemahaman saya terhadap
isu tersebut. Yang tertarik dengan uraian saya tentang krisis pangan
global, silakan mengunduhnya dari sini
<http://akaldankehendak.files.wordpress.com/2008/04/powerpoint-the-loomi\
ng-global-food-crisis.pdf> .

Singkat kata, baik TH maupun SI sama-sama ingin tahu bagaimana gambaran
solusi pemecahan masalah tersebut. Solusinya tentang instabilitas harga
pangan kurang lebih saya katakan sesuai dengan komentar singkat saya
terhadap tulisan seorang ekonom di sebuah blog World Bank, yang dapat
dikunjungi di sini
<http://eapblog.worldbank.org/content/does-a-country-need-to-be-a-big-fo\
od-importer-to-be-impacted-by-international-prices> . Oleh sang ekonom
komentar saya tersebut tidak disangkal, tidak didukung, hanya diabaikan.
Saya maklum; pandangan saya seringkali kurang selaras dengan pandangan
para ekonom.

Tapi percayalah, Anda belum tiba pada poin terpenting dalam artikel yang
singkat ini.

Seperti mungkin telah Anda ketahui, dalam beberapa hari terakhir
sejumlah ekonom di dalam negeri menyarankan agar harga premium dinaikkan
agar selaras dengan harga pasaran di dunia. Dengan kata lain, sejumlah
ekonom mulai menganjurkan agar dalam hal energi, pemerintah perlu
mengikuti pasar bebas. Sebagian ekonom mengakui hal ini secara
malu-malu; sebagian lain masih "berkemaluan besar". Ya, poin
terpenting di sini adalah tentang kekuatan pasar; yang dalam hal satu
ini, saya tidak "berkemaluan" sama sekali.

Poin tentang pasar bebas ini terkait erat dengan wawancara saya dengan
sang wartawan. Beberapa hari setelah artikelnya terbit (saya dapat
kopinya), tepatnya minggu lalu, ia menelepon dari Tokyo untuk menanyakan
bagaimana kira-kira solusi atas masalah pangan global tersebut.

Saya tekankan kepadanya bahwa, baik dalam hal energi maupun dalam hal
pangan, cepat atau lambat semua negara akan menyerahkannya kembali
kepada kekuatan pasar bebas. Semua hal terkait perekonomian akan kembali
kepada kekuatan pasar. Ini cuma soal waktu. Namun, mengingat sejumlah
oknum pemerintahan di negara-negara di dunia masih terus berpikiran
merkantilistik, soalnya adalah soal politik tentang exercise kekuasan;
entah berapa banyak lagi sumber daya yang harus dihamburkan sia-sia
untuk menyiasati kekuatan pasar.

Lalu bagaimana dengan kegagalan pasar, tanyanya.  Ah, kegagalan pasar
ne?  Saya katakan there's no such thing as market failure.  Saya
tidak mengenal apa itu kegagalan pasar.  Yang ada hanyalah kegagalan
pemerintah.  Kegagalan pasar adalah sebuah misnomer, sebuah istilah yang
dipakai secara salah kaprah, dan sudah kadung tidak lagi ditelisik para
ekonom, tetapi sudah dijadikan justifikasi yang amat penting dalam
berbagai kebijakan.

Anggap saja tulisan ini adalah prelude terhadap mitos kegagalan pasar.
Di lain kesempatan, kita akan memfokuskan diri secara khusus pada mitos
ini. [ ]
*  Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, Vol. II Edisi no. 26, April
2008:
    - Krisis Minyak, Krisis Pangan dan Mitos Kegagalan Pasar
    - The United Socialist Banana States of America
    - Benarkah Tidak Ada Hal Baru di bawah Matahari?

    (Http://akaldankehendak.com)




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke