Mau bertanya niy ...
Kalau kegagalan pasar adalah mitos, kenapa Joseph E
Stiglitz yang mengembangkan analisis informasi
asimetri dan Roger B Meyerson bersama Leonid H
memenangkan nobel ekonomi masing-masing pada 2001 dan
2007?

Bagaimana halnya dengan Grameen Bank ? 
Kenapa kalangan akademik bidang ekonomi di AS
mengatakan, krisis kali ini menunjukkan kita belajar
sejarah tapi tidak mengambil pelajaran dari sejarah
(Re Financial Stability and Financial Safety Net)?

Anda benar bahwa kekuatan pasar akan terus
mendominasi. Tapi hal itu disertai dengan kekuatan
politik yang memaksa. Kapan krisis ekonomi dunia
terlepas dari krisis enerji? Kapan krisis enerji
merupakan variabel tunggal dan tidak memberikan
pengaruh ke masalah keuangan, makanan, industri
senjata dan teknologi serta media massa?

Sebenarnya, apa yang diburu oleh Jepang ketika
berpropaganda Asia Timur Raya? Kenapa pada 1994 hingga
1997 RRC dan Malaysia sibuk membangun blok ekonomi?
Kenapa Indonesia yang menguasai pangsa pasar CPO dunia
hingga 70% justru tidak mampu mengendalikan harga
minyak goreng domestik?

Hal yang terakhir dijawab Stiglitz dalam berbagai
bukunya: Intervensi Pemerintah terhadap suatu
komoditas strategis yang sudah dikuasai swasta adalah
sia-sia.
Moh Hatta mengatakan, jika segelintir menguasai
produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak, maka
rakyat akan ditindasinya.

Wuahhh, sorry berat. Saya sedang belajar, makanya
bertanya.

--- Sukasah Syahdan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> | Sukasah Syahdan |
> 
> 
> Dua minggu lalu seorang wartawan senior TH dari
> harian Jepang yang
> memfokuskan diri pada bidang pertanian mememinta
> bantuan seorang rekan
> saya, SI, untuk meliput suasana kenaikan harga-harga
> sembako di
> Indonesia. SI kemudian kebetulan sedikit berbincang
> dengan saya tentang
> isu tersebut. Kami mengobrol selama beberapa menit
> tentang harga,
> tentang reaksi masyarakat, tentang sejumlah
> kebijakan yang reaktif,
> tentang biofuel, dlsb. Akhirnya SI meminta saya
> untuk membantu TH dalam
> peliputannya.
> 
> Saya tidak keberatan. Untuk mempermudah pemahaman,
> saya memberikan dia
> dokumen tertulis untuk menjelaskan butir-butir
> pemahaman saya terhadap
> isu tersebut. Yang tertarik dengan uraian saya
> tentang krisis pangan
> global, silakan mengunduhnya dari sini
>
<http://akaldankehendak.files.wordpress.com/2008/04/powerpoint-the-loomi\
> ng-global-food-crisis.pdf> .
> 
> Singkat kata, baik TH maupun SI sama-sama ingin tahu
> bagaimana gambaran
> solusi pemecahan masalah tersebut. Solusinya tentang
> instabilitas harga
> pangan kurang lebih saya katakan sesuai dengan
> komentar singkat saya
> terhadap tulisan seorang ekonom di sebuah blog World
> Bank, yang dapat
> dikunjungi di sini
>
<http://eapblog.worldbank.org/content/does-a-country-need-to-be-a-big-fo\
> od-importer-to-be-impacted-by-international-prices>
> . Oleh sang ekonom
> komentar saya tersebut tidak disangkal, tidak
> didukung, hanya diabaikan.
> Saya maklum; pandangan saya seringkali kurang
> selaras dengan pandangan
> para ekonom.
> 
> Tapi percayalah, Anda belum tiba pada poin
> terpenting dalam artikel yang
> singkat ini.
> 
> Seperti mungkin telah Anda ketahui, dalam beberapa
> hari terakhir
> sejumlah ekonom di dalam negeri menyarankan agar
> harga premium dinaikkan
> agar selaras dengan harga pasaran di dunia. Dengan
> kata lain, sejumlah
> ekonom mulai menganjurkan agar dalam hal energi,
> pemerintah perlu
> mengikuti pasar bebas. Sebagian ekonom mengakui hal
> ini secara
> malu-malu; sebagian lain masih "berkemaluan besar".
> Ya, poin
> terpenting di sini adalah tentang kekuatan pasar;
> yang dalam hal satu
> ini, saya tidak "berkemaluan" sama sekali.
> 
> Poin tentang pasar bebas ini terkait erat dengan
> wawancara saya dengan
> sang wartawan. Beberapa hari setelah artikelnya
> terbit (saya dapat
> kopinya), tepatnya minggu lalu, ia menelepon dari
> Tokyo untuk menanyakan
> bagaimana kira-kira solusi atas masalah pangan
> global tersebut.
> 
> Saya tekankan kepadanya bahwa, baik dalam hal energi
> maupun dalam hal
> pangan, cepat atau lambat semua negara akan
> menyerahkannya kembali
> kepada kekuatan pasar bebas. Semua hal terkait
> perekonomian akan kembali
> kepada kekuatan pasar. Ini cuma soal waktu. Namun,
> mengingat sejumlah
> oknum pemerintahan di negara-negara di dunia masih
> terus berpikiran
> merkantilistik, soalnya adalah soal politik tentang
> exercise kekuasan;
> entah berapa banyak lagi sumber daya yang harus
> dihamburkan sia-sia
> untuk menyiasati kekuatan pasar.
> 
> Lalu bagaimana dengan kegagalan pasar, tanyanya. 
> Ah, kegagalan pasar
> ne?  Saya katakan there's no such thing as market
> failure.  Saya
> tidak mengenal apa itu kegagalan pasar.  Yang ada
> hanyalah kegagalan
> pemerintah.  Kegagalan pasar adalah sebuah misnomer,
> sebuah istilah yang
> dipakai secara salah kaprah, dan sudah kadung tidak
> lagi ditelisik para
> ekonom, tetapi sudah dijadikan justifikasi yang amat
> penting dalam
> berbagai kebijakan.
> 
> Anggap saja tulisan ini adalah prelude terhadap
> mitos kegagalan pasar.
> Di lain kesempatan, kita akan memfokuskan diri
> secara khusus pada mitos
> ini. [ ]
> *  Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, Vol. II
> Edisi no. 26, April
> 2008:
>     - Krisis Minyak, Krisis Pangan dan Mitos
> Kegagalan Pasar
>     - The United Socialist Banana States of America
>     - Benarkah Tidak Ada Hal Baru di bawah Matahari?
> 
>     (Http://akaldankehendak.com)
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 



      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Kirim email ke