Satu lagi keteledoran pemerintah
http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/05/tgl/23/time/095224/idnews/943642/idkanal/10
Penemu Blue Energy Raib
Pemerintah Selalu Abaikan Ilmuwan
Maryadi - detikcom
Jakarta - Hilangnya penemu blue energy Joko Suprapto membuktikan betapa
perhatian pemerintah Indonesia terhadap para ilmuwan sangat kurang. Selama ini,
penelitian mereka selalu tidak pernah dipakai.
"Saya sangat kaget dengan hilangnya Joko. Kita kehilangan untuk potensi
mendapatkan potensi energi alternatif. Tapi ini yang saya sayangkan, selama ini
perhatian pemerintah memang kurang," kata Effendi Choirie, anggota Komisi I
DPR, saat dihubungi detikcom, Jumat (23/5/2008).
Effendi mengatakan, selama ini perhatian pemerintah terhadap para ilmuwan
yang memiliki temuan mumpumi di bidang pertanian, teknologi dan lainnya, sangat
minim. "Makanya wajar jika ilmuwan terbaik kita pergi ke luar negeri," ujar
Effendi.
Kata politisi PKB ini, sudah banyak ilmuwan asal Indonesia yang bekerja di
luar negeri. "Banyak ahli pesawat terbang lari ke Turki, Iran dan Malaysia
karena tidak dimanfaatkan secara baik," kata anggota DPR asli Gresik, Jatim,
ini.
Seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan temuan para ilmuwan negeri sendiri.
Sebab, negara lain seperti Malaysia, Singapura, maupun Thailand biasa
memanfaatkan hasil temuan dari kalangan akademisi sendiri. "Makanya di negara
lain tidak perlu lagi lembaga litbang pemerintah. Mereka bekerja sama dengan
lembaga pendidikan yang sudah ada," tutur Effendi.
Penemu blue energy, Joko Suprapto, hilang sejak 7 Mei 2008 dan hingga kini
keberadaannya belum diketahui. Informasi yang telah beredar luas, pria asal
Ngadiboyo, Rejoso, Nganjuk, Jatim, ini hilang setelah pada 7 Mei 2008 lalu naik
pesawat ke Jakarta melalui Bandara Juanda, Surabaya.
Namun belum jelas dia hilang karena diculik atau sebab lain. Ditengarai,
raibnya Joko terkait teknologi temuannya itu. Temuan Joko ini sudah diterapkan
dalam ekspedisi Jakarta-Bali menjelang United Nation Framework Conference on
Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali.
Mobil yang digunakan uji coba dalam ekspedisi waktu itu adalah 2 Ford Ranger
2500 CC, 1 Isuzu Panther Diesel 2500 CC, 1 Mazda Familia 1800 CC dan 1 bus
Mitsubishi 4000 CC.
Ekspedisi ini diberangkatkan Presiden SBY dari kediaman pribadi Presiden di
Puri Cikeas Indah tanggal 26 November 2007, dan sukses tiba di Bali pada 3
Desember 2007.
Temuan Joko rencananya akan diproduksi massal dengan kapasitas produksi 10
liter per detik atau setara dengan 5 ribu barel per hari. Tempat produksi juga
dipusatkan di Cikeas, Bogor, yang peletakan batu pertamanya juga dilakukan
Presiden SBY. ( mar / nrl )
---------------------------------
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru!
[Non-text portions of this message have been removed]