--- Begin Message ---
Si Buta dan Ibu yang Lumpuh Penjual Sapu Lidi di Payakumbuh:
* Pantang Mengemis Justru jadi Jutawan
Selasa, 21-November- 2006, 03:49:15 93 clicks
Masih ingat dengan perjalanan hidup Buyuang Feri (45) yang buta dan Nila (70),
amai sapaan akrab untuk ibunya yang dimuat koran ini, pertengahan April 2006?
Ternyata, kehidupan yang dijalani dengan iklas, pantang menyerah dan (ini yang
lebih penting dalam prinsipnya,red) pantang untuk mengemis, justru
menghadirkan ending bagaikan kisah sinetron. Keduanya, kini menjadi jutawan.
Ini bukan kisah sinetron. Di alam nyata, inilah yang terjadi. Dalam pahitnya
kehidupan, ternyata masih ada anak manusia yang dijalani dengan penjiwaan tanpa
mengeluh.
Nila dan Buyung, tercatat sebagai warga PadangaraiKenagarin Guguk VIII Kota
Kecamatan Guguk Kabupaten Limapuluh Kota. Walau berada dalam himpitan kehidupan
yang cukup berat, namun keduanya taat dengan falsafah hidup, tiada kata
menyerah.
Sehari-hari keduanya, hanya dengan berjalan kaki menjual sapu lidi keliling,
melewati perjalanan sepanjang lebih kurang 40 km mengitari dua kabupaten dan
kota. Saban hari keduanya menawarkan dagangan mereka menggunakan gerobak tarik,
ke pasar-pasar di Kabupaten Limapuluh Kota dan Kota Payakumbuh. Rutinitas itu
telah dijalankan ibu dan anak sejak Soeharto diangkat untuk pertama kalinya
menjadi Presiden RI.
Kepedihan hidup yang dirasakannya berawal dari kematian suaminya sekitar 39
tahun silam.
Semula kehidupannya berkecukupan dengan empat orang anak. Kemudian tiga orang
anaknya yang merupakan adik Buyung, meninggal dunia sewaktu kecil, karena
berbagai penyakit kampung yang tidak kunjung dapat terobati.
Kehidupannya mulai terasa payah, tak kala pendapatan yang ia dan suaminya
peroleh dari hasil pertanian, mulai digerogoti untuk biaya berobat anak-anaknya
itu. Namun mereka tabah. Bak disambar petir, ketika ia tengah asik menikmati
karunia Tuhan dengan anak-anaknya itu, ia harus kehilangan orang-orang yang
mereka sayangi itu.
Penderitaan Nila bertambah besar, tak kala suaminya meninggal dunia. Kala itu,
Nila baru berumur 25 tahun. Sejak itu mulailah babak baru dalam kehidupan Nila.
Kisah Nila semakin terasa pilu, tatkala, setahun setelah kematian sang suami,
Buyung anak satu-satunya yang sejak kecil diberi nama Feri, menderita penyakit
campak berat.
Setelah coba diobati, namun ternyata jenis penyakit campak yang dialami anak
itu telah akut. Disela-sela harus mencari kebutuhan sehari-hari, Nila mesti
memikirkan biaya berobat Buyung. Akibatnya, Buyung merasakan penderitaanya yang
tak henti-hentinya. Sampai ia harus mengalami kebutaan.
Meskipun pahit, namun kehidupan Nila tetap berjalan terus. Nila mengajari
Buyung yang merupakan anak satu-satu nya itu untuk tetap berjuang menghadapi
sisa-sisa hidup. Berlatar dari usaha yang juga telah mulai dikerjakan saat sang
suami masih ada, Nila mulai mengkonsentrasikan diri dengan membuat sapi lidi.
Awalnya Nila yang secara langsung mencari pohon-pohon kepala yang dapat diambil
lidinya. Namun karena kronologis penyakit asam urat yang diderita Nila,
menyebabkan lama kelamaan ia menderita kelumpuhan.
Keduanya justru terus berjuang dan sabar dengan apa yang terjadi. Keduanya
tetap bertawakal, harus tetap bekerja tanpa menyandarkan nasib kepada orang
lain. Berpantang untuk mengemis.
Meski tak dapat melihat, ternyata Buyung bisa bekerja untuk menghidupi diri dan
ibunya. Lalu sapu lidi tersebut mereka jual berkeliling pakan-pakan, seperti ke
Limbanang, Danguang-Danguang, Kubang, serta pasar Payakumbuh.
Untuk membawa sapu lidi tersebut sampai ke pasar, Nila mengikat sepuluh sampai
15 sapu dengan tali,mengangkat dengan kepalanya, dan si Buyung mengikutinya
dari belakang. Ketika Buyung bertambah dewasa, mereka berdua mengangkat sapu
lidi tersebut, Buyung tetap berada di belakang ibunya ketika berjalan karena
dia tidak bisa melihat.
Namun tatkala usia Nila semakin beranjak tua, dia sudah tidak kuat lagi
berjalan kaki menjajakan sapu lidi buatan mereka. Tidak jarang Buyung
menggendong ibunya untuk sampai di pasar. Ibunya yang memandu arah jalan dari
gendongan Buyuang.
Tapi, sejak sekitar 15 tahun silam, karena tidak kuat berjalan kaki, akhirnya
Buyung membuat gerobak dari kayu. Dia menarik gerobak itu sementara ibunya
duduk di atas gerobak sambil mengendalikan jalannya gerobak. Tidak kurang 40 km
jarak yang ditempuh keduanya pulang pergi saban hari untuk menjajakan sapu lidi
buatan mereka.
Tidak Pernah Berkata Capek
Ketika ditemui koran ini, Nila tidak lagibisa berjalan karena kelumpuhan yang
dialami sejak 15 tahun lalu. Ia hanya bisa menarik tubuhnya dengan mengandalkan
kekuatan tangannya. Sisanya, tugas-tugas rumah tangga dan berjualan, dilakukan
Buyung sambil mengikuti perintah Nila. Suara Nila yang keras dan bagi yang
tidak biasa melihatnya, memang terdengar pemarah. Bayangkan, mulai dari pagi
hari, Buyung telah dihardik dengan cercahan perintah, agar segera melakukan
sesuatu jelang berjalan menuju pasar-pasar.
Mulai dari mencuci pakaian, memasak, dilakukan Buyung dengan bimbingan Nila.
Bahkan sampai kepada mengangkat Nila turun rumah yang letaknya sekitar 50
centimeter dari tanah dilakukan Buyung sembari meraba-raba. Setelah sarapan
pagi dengan apa adanya, lantas Buyung mulai menarik gerobaknya dengan berjalan
sesuai petunjuk ibunya itu.
Tanpa mengenakan sandal dan topi penutup kepalanya, terlihat Buyung hafal
dengan lubang-lubang jalan yang setiap hari dilewatinya. Sesekali ia meneriakan
sapu lidi dan sejumlah alat kebutuhan dapur lain yang ikut dijual.
Puluhan kilo meter dilalui Buyung dengan menarik ibunya setiap hari. Namun
itulah kekuasaan Tuhan, setiap dagangan mereka, hampir selalu habis dibeli
orang lain. Bisa jadi karena rasa iba, banyak warga yang sengaja menunggu
dagangan Nila, sembari membantu.
Bicara harga yang ditawarkan Nila, juga tidak terlalu mahal dibandingkan dengan
harga ditoko. Sapu lidi yang diikat dengan diameter 30 centimeter itu, dijual
Rp5.000, sementara pedagang harian di kedai-kedai menjual Rp4.000. Namun lebih
disebabkan karena kemauan yang keras, dagangan mereka tetap habis.
Menariknya, menurut Nila, walau menjalani hidup yang sangat berat itu, Buyuang
tidak pernah mengeluarkan kata-kata capek.
Kisah kehidupan yang dimuat koran ini, ternyata mendapat perhatian reporter
Metro TV sehingga masuk acara talkshow Kick Andy. Acara tersebut kemudian
menjadi jalan mengubah hidup mereka menjadi jutawan. Buyuang Feri dan Nila
diantar reporter Metro TV Amfreizer dan beberapa orang pejabat dan anggota DPRD
Kabupaten Limapuluh Kota, Ferizal Ridwan termasuk wartawan koran ini.
Walaupun duduk di depan pejabat tinggi negara, Buyuang Feri dan Nila masih
sederhana layaknya orang kampung. Nila tetap menenteng sandalnya ketika
berjalan. "Licin bana, beko jatuah," tutur Nila ketika dibimbing di kantor
Metro TV. Maklum saja selama ini Ia tidak pernah pakai alas kaki.
Ketika berbincang-bicang di sela-sela acara talkshow, dengan Mufidah Jusuf
Kalla dan menteri kesehatan gaya bicara mereka juga tak berubah masih sama
seperti menjadi pejual sapu lidi di jalanan Payakumbuah. Masih lugu dan
menjawab apa adanya dengan bahasa Minang logat Payakumbuh.
"Bilo pulang kampuang, Amai?" tanya Mufidah dalam bahasa Minang. "Tagantuang si
Am jo Feri," jawabnya. Kedua nama itu, merupakan sapaan akrab Amfreizer dan
Ferizal Ridwan.
Mereka memang tidak akan menyangka dalam hidupnya akan hadir dalam acara
gemerlap stasiun televisi nasional tersebut. Buyung juga tidak begitu peduli,
karena Ia tidak begitu jelas melihat, sedangkan ibunya tampak tak mengerti
hanya diam saja.
Saat itu mereka akan menerima bantuan Rp70.800.000 dari sumbangan pemirsa
stasiun televisi nasional tersebut. Uang tersebut ditambahkan oleh Menteri
Perindustrian Fahmi Idris menjadi Rp100 juta. Istri Wakil Presiden, Mufidah
Jusuf Kalla juga tersentuh dan langsung memberikan dana Rp50 juta untuk mereka.
"Mereka orang kampung saya, wajib bagi saya membantunya. Saya berharap kepala
daerah dan tenaga kesehatan di Limapuluh Kota mampu mengurus mereka. Kalau saya
lewat di sana pasti saya singgah," tuturnya dengan mata berkaca-kaca.
Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari langsung meminta agar mata Buyuang Feri
diperiksakan dulu di RSCM Jakarta. "Nanti hubungi ajudan saya. Besok bawa
Buyuang Feri ke dokter ahli di sana, mana tahu masih bisa diperbaiki," jelasnya
Namun sayang matanya tidak bisa lagi diperbaiki. "Urat syaraf mata Buyuang Feri
telah mati ," ucap dokter mata di RSCM. Tampaknya Buyuang Feri telah menerima
takdirnya, Ia tidak mengeluhkan hal itu. "Kalau mancaliak saketek kalam jo
tarang lai bisa wak ma," ujarnya.
Dalam acara tersebut Buyuang Feri dan Nila santai saja ketika pejabat negara
tersebut, menyalaminya. Ia menangis di depan panggung, ketika pembawa acara
Kick Andy, Andi Noya menceritakan Buyuang Feri akan sebatang kara jika ibunya
meninggal dunia.
"Amai lah gaek. Jo sia wak iduiklai," ucapnya dalam bahasa Minang sambil
mengusap matanya. Ucapannya itu terpaksa diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh
reporter Metro TV di Sumatera Barat Amfreizer, sehingga menyentuh perasaan
semua yang hadir.
"Tarimo kasih banyak, Pak," ujarnya ketika menerima map tanda penerimaan
sumbangan.
Setelah mendapatkan uang itu, apakah Buyung Feri dan Nila menjadi sombong?
Ternyata tidak. Usai penerimaan uang ratusan juta itu, Buyuang Feri masih
seperti dulu. Ia masih saja ceplas-ceplos dan sederhana. Menggunakan HP Ferizal
Ridwan, Buyuang Feri menelpon saudara bapaknya di Bandung. "Pulanglah ka
kampuang lai. Beko uda agiah pitih. Uda baru dapek pitih banyak," tuturnya
melalui telepon
Termasuk usai acara, panitia Hari Ibu Nasional mengundang mereka mengikuti
acara tersebut di Jakarta, Desember 2006. Buyuang hanya mengangguk. "Tu ka
Jakarta lo awak liak, Mai?" ungkapnya minta persetujuan ibunya. Hal itu dijawab
Amai dengan anggukan.
Ketika ditanyakan orang akan diapakan uang sebanyak itu, Buyung Feri mengatakan
terserah mau diapakan. "Baa Amai?," tanyanya kepada Nila. Ibu dengan wajah
penuh kerutan itu diam saja. "Bia si Am jo Feri tabuangan. Kamalo dibawok-bawok
Nyo bunuah urang wak beko," lanjutnya di kamar hotel berbintang lima tempatnya
menginap.
Ketika disarankan agar berumah tangga cepat, Amai tersenyum. "Lah patuik lo nyo
babini mah," jelasnya. Tiba-tiba Buyung Feri berbisik, menanyakan kondisi
Ibunya yang sudah tua. "Kalau indak ado amak tu ndak bisa nyo mancaliak bini
wak do," tuturnya berbisik.
Mereka masih sederhana. Tidak begitu peduli uangnya sudah ratusan juta. Ketika
ditraktir makan di hotel Bintang Lima, Nila malah memberikan uang yang terletak
dalam saputangan kumalnya kepada Ferizal Ridwan. "Bayiaan samba ko ciek Feri,"
ucapnya mengeluarkan uang ribuan.
Pembawa acara Kick Andy Andi Noya yang sekaligus Pimpinan Redaksi Media
Indonesia mengatakan, banyak hal yang bisa diambil dari kisah mereka.
"Kesederhaanan, Kegigihan seorang ibu untuk merawat anaknya. Keinginan mereka
tidak mau mengemis," ucapnya di sela-sela acara. (Tandri Eka Putra)
http://www.padangek spres.co. id/mod.php? mod=publisher& op=viewarticle&
artid=7595
ARYANDI
Kimia FMIPA Angkatan 92
---------------------------------
Sponsored Link
Mortgage rates as low as 4.625% - $150,000 loan for $579 a month.
Intro-*Terms
--- End Message ---