kapan???
kalo ide ini dah direalisasikan, bukan cuma dikirim via email

  -----Original Message-----
  From: A Nizami [mailto:[EMAIL PROTECTED]
  Sent: 23 Nopember 2006 8:36
  To: [email protected]; ekonomisyariah; pks ide;
[EMAIL PROTECTED]; Indonesia Raya
  Subject: {ekonomi-syariah} Venezuela dari Miskin menjadi Kaya, Kapan
Indonesia Menyusul? - Re: Neoliberalist : Apa komentar mu ??? Nasionalisasi
Migas Bolivia & Venezuela


  UUD 45:
  Pasal 33 ayat 2: “Cabang-cabang produksi yang penting
  bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang
  banyak dikuasai oleh negara,” pada ayat 3: “Bumi, air,
  dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai
  negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
  kemakmuran rakyat,”

  Saat ini justru kekayaan alam Indonesia seperti migas,
  emas, tembaga, dsb dikeruk oleh perusahaan2 asing
  seperti Exxon, Chevron, Freeport, dsb. Di blok Gas
  terbesar di Indonesia, Natuna, Exxon hanya memberi 0%
  kepada Indonesia sementara mereka menikmati 100%.
  Tidak heran rakyat Indonesia mayoritas miskin dan
  hanya segelintir orang yang bekerja untuk perusahaan2
  asing itu saja yang kaya.

  Venezuela dulu juga begitu. Meski mereka kaya dengan
  cadangan gas lebih dari rp 700 trilyun, namun kekayaan
  alam mereka dikuasai asing.

  Seperti di Indonesia, rakyat mereka mayoritas miskin
  dan Venezuela memiliki hutang lebih dari US$ 45 milyar
  (lebih dari rp 414 trilyun).

  Meski demikian sejak Chavez berkuasa dia mengembalikan
  kekayaan alam Venezuela dari perusahaan asing ke
  negara mereka sendiri. Rakyat Venezuela bisa menikmati
  Bensin sampai rp 292 per liter. Bahkan Chavez
  menawarkan minyak murah untuk warga miskin di AS.
  Hutang mereka pun terus berkurang di bawah
  kepemimpinan Chavez. Pendapatan per orang di sana naik
  jadi US$ 4.800/tahun atau rp 3,6 juta per bulan per
  orang. Artinya pendapatan keluarga dgn 2 anak rata2
  sekitar Rp 14 juta lebih per bulan. Sementara kita
  rata2 hanya rp 1 juta per bulan.

  Sudah saatnya rakyat Indonesia dan para pemimpinnya
  bangkit untuk mengelola sendiri kekayaan alam di
  Indonesia. Toh mayoritas pekerja di perusahaan asing
  tersebut ternyata adalah bangsa Indonesia sendiri.

  Tentu ada sebagian dari orang yang menikmati kekayaan
  alam kita dengan menjadi kaki tangan asing akan
  menentang dan membela kepentingan tuan mereka. Namun
  mudah2an itu tidak menjadi halangan.

  --- agush <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

  > Setelah Uncle Bush datang, Gas Natuna
  > menjadi 100:0 (100 utk
  > AS/Exxon : 0 utk Indonesia)...ada komentar dari
  > Pakde Amien ttg
  > perbandingan Bolivia & Venezuela vs Indonesia....
  > Saya saat ini sedang menunggu apa tanggapan
  > para neoliberalis di
  > LISI ini tentang fenomena keberanian Bolivia dan
  > Venezuela....tapi belum
  > ada yang membahasnya dengan tuntas....
  > Gimana para Neoliberalis ?
  >
  > Nasionalisasi Migas ala Bolivia
  > M Amien Rais
  >
  > Evo Morales (46) memenangi pemilihan presiden atau
  > pilpres Bolivia pada
  > Desember 2005 dan dilantik Januari 2006.
  > Ia adalah penduduk asli Bolivia dari suku Indian
  > Aymara, yang dalam
  > kampanyenya menekankan perlunya pemilikan kembali
  > rakyat Bolivia atas
  > sumber daya alam, khususnya hydrocarbon (migas) yang
  > selama itu dikuasai
  > korporasi asing.
  > Cadangan gas alam Bolivia ditaksir lebih dari 50
  > triliun kaki kubik dengan
  > nilai lebih dari 70 miliar dollar AS, sementara
  > penduduknya sekitar
  > sembilan juta. Belum lagi kekayaan alam seperti
  > minyak, barang-barang
  > mineral, dan kekayaan hutan. Morales menyatakan
  > dirinya tidak gila jika
  > bercita-cita memakmurkan rakyat Bolivia sejajar
  > rakyat Swedia.
  > Selama berkampanye, Morales berjanji sumber daya
  > alam tidak dapat
  > diprivatisasi, tidak boleh dikuasai korporasi asing,
  > dan harus dilakukan
  > renegosiasi (negosiasi ulang) atas seluruh kontrak
  > karya pertambangan. Evo
  > juga setuju bila perlu melakukan nasionalisasi tanpa
  > konfiskasi,
  > nasionalisasi tanpa ekspropriasi, alias negosiasi
  > tanpa perampokan. Dengan
  > kata lain, akan ada kompensasi (ganti rugi) terhadap
  > korporasi asing bila
  > Bolivia terpaksa melakukan nasionalisasi.
  > Di Bolivia ada 20-an korporasi asing bergerak di
  > pertambangan migas, antara
  > lain Repsol YPF (Spanyol), Petrobras (Brasil), Total
  > (Perancis), Exxon
  > (Amerika), British Gas (Inggris), dan Royal Dutch
  > Shell (Belanda).
  > Mereka mencoba menakut-nakuti Morales dengan gertak
  > sambal. Katanya,
  > Bolivia dapat dibawa ke arbitrase internasional dan
  > rugi miliaran dollar AS
  > karena berani mengotak-atik, bahkan menuntut
  > negosiasi ulang berbagai
  > kontrak karya dan bagi hasil yang telah
  > ditandatangani.
  > Akan tetapi, Morales bukan Si Peragu seperti dua
  > presiden sebelumnya,
  > Gonzalo Sanches de Lozada dan Carlos Mesa yang
  > diusir rakyatnya karena
  > menempatkan diri sebagai pembela kepentingan
  > korporasi asing, bukan
  > kepentingan rakyat Bolivia.
  > Morales membangun axis of good atau poros kebaikan
  > terdiri dari Bolivia,
  > Venezuela, dan Kuba, untuk menyindir axis of evil
  > atau poros kejahatan yang
  > kata George Bush terdiri dari Korea Utara, Iran, dan
  > Irak. Dalam wawancara
  > dengan Der Spiegel, Morales mengatakan, reserve
  > moral yang ia miliki
  > terdiri dari trilogi sederhana: jangan mencuri,
  > jangan bohong, dan jangan
  > malas (do not steal, do not lie, and do not be
  > idle).
  >
  > Korporasi asing tunduk
  > Setelah lima bulan menjadi Presiden Bolivia, Morales
  > melaksanakan janjinya.
  > Tanggal 1 Mei 2006 tentara Bolivia menduduki 56
  > ladang gas dan minyak serta
  > instalasi penyulingan di seluruh negeri. Dekrit
  > Presiden Nomor 28701
  > tentang nasionalisasi industri migas diterbitkan.
  > Rakyat Bolivia lega,
  > Presiden memenuhi janji.
  > Dalam dekrit itu, antara lain ditegaskan, cadangan
  > minyak dan gas Bolivia
  > dinasionalisasi; 51 persen saham pemerintah yang
  > pernah diprivatisasi di
  > lima perusahaan migas pada tahun 1990 diambil
  > kembali; seluruh perusahaan
  > migas asing harus menyetujui kontrak baru yang
  > ditentukan Yaciementos
  > Petroliferos Fiscales Bolivianos (YPFB), perusahaan
  > negara milik Bolivia
  > dalam tempo 180 hari; gabungan pajak dan royalti
  > yang diserahkan perusahaan
  > gas asing yang memproduksi lebih dari 100 juta kaki
  > kubik dinaikkan menjadi
  > 82 persen dari sebelumnya yang hanya 50 persen dan
  > mula- mula hanya 30
  > persen; Pemerintah Bolivia melakukan audit investasi
  > dan keuntungan semua
  > perusahaan migas asing di Bolivia untuk menentukan
  > pajak, jumlah royalti
  > dan ketentuan operasi di masa depan; dan tak kalah
  > penting, migas hanya
  > boleh diekspor setelah kebutuhan domestik Bolivia
  > dipenuhi. Jika tidak
  > setuju isi dekrit, perusahaan asing itu dipersilakan
  > meninggalkan Bolivia.
  > Apa yang terjadi? Sehari sebelum tenggat, 29 Oktober
  > 2006, semua korporasi
  > besar yang beroperasi di Bolivia memilih tetap di
  > Bolivia, tunduk kepada
  > kemauan pemerintah, yang hakikatnya kemauan rakyat
  > Bolivia.
  > Evo Morales, seperti Hugo Chavez, Presiden Venezuela
  > sebelumnya,
  > membuktikan kekeliruan brain washing, menuntut
  > renegosiasi kontrak karya
  > yang merugikan rakyat mustahil dilakukan bila sudah
  > ditandatangani.
  >
  > Keuntungan Bolivia
  > Chavez dan Morales mampu menerobos kendala mental,
  > moral, politik, dan
  > ekonomi yang sengaja dipasang berbagai korporasi
  > asing. Menurut Morales,
  > berkat negosiasi ulang, Bolivia meraup satu miliar
  > dollar AS, dan empat
  > miliar dollar AS per tahun pada tahun-tahun
  > berikutnya. Belum lagi jika
  > renegosiasi kontrak nonmigas dan sumber-sumber non-
  > renewable lain juga
  > berhasil.
  > Mengingat jumlah rakyat Bolivia hanya
  > seperduapuluhdua rakyat Indonesia,
  > perolehan Bolivia seperti jika Indonesia mendapat 88
  > miliar dollar AS per
  > tahun. Rakyat Bolivia tentu lebih bahagia dibanding
  > rakyat Banglades yang
  > salah satu putra terbaiknya meraih Nobel Perdamaian.
  > Dan tentu lebih
  > berbahagia dibanding rakyat Indonesia yang diberi
  > tahu para pemimpinnya
  > bahwa kontrak karya migas dan nonmigas dengan
  > korporasi asing tidak bisa
  > diubah.
  > Mengapa? Katanya, jika menuntut negosiasi ulang,
  > apalagi nasionalisasi
  > industri migas dan pertambangan, Indonesia bisa
  > dikucilkan masyarakat
  > internasional. Katanya, investasi asing emoh masuk
  > Indonesia. Selain itu,
  > ada adagium pacta sunt servanda, sekali kontrak
  > ditandatangani, perlu
  > dihormati "kesuciannya", meski menempatkan Indonesia
  > for sale, dijual untuk
  > umum.
  > Kita tidak perlu galak dan terlalu keras seperti
  > Bolivia dan Venezuela
  > menghadapi korporasi asing. Cukup dengan ketegasan,
  > kemandirian, dan
  > komitmen kebangsaan. Kita dapat melindungi dan
  > menomorsatukan kepentingan
  > bangsa di atas kepentingan korporasi asing. Mereka
  > adalah mitra, bukan
  > majikan kita. Namun, kepemimpinan nasional yang ada
  > harus lebih visioner,
  > lebih tegas, dan lebih berani. Kita sudah terlalu
  > lama jadi bangsa miskin
  > di tengah sumber daya alam melimpah.
  > Andaikata pemerintah, DPR, dan berbagai kekuatan
  > masyarakat bersatu
  > menjadikan korporasi pertambangan asing sebagai
  > mitra, negeri ini tidak
  > perlu menjadi bangsa musafir yang tiap tahun bingung
  > mencari utang luar
  > negeri baru. Sementara itu kekayaan sendiri
  > disodorkan untuk penjarahan asing.
  > Jika direnungkan, Exxon dan Freeport McMoran,
  > misalnya, keduanya bukan
  > seperti a state with in a state, tetapi sudah a
  > state above a state. Ingat,
  > di Indonesia ada lusinan korporasi asing yang terus
  > menyedot kekayaan migas
  > dan nonmigas bangsa Indonesia. Sampai sekarang!
  >
  > M Amien Rais Guru Besar Fisipol UGM, Yogyakarta
  >
  >
  >
  > [Non-text portions of this message have been
  > removed]
  >
  http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/americas/country_profiles/1229345.stm
  Country profile: Venezuela

  Venezuela has some of the world's largest proven oil
  deposits as well as huge quantities of coal, iron ore,
  bauxite and gold.
  Yet most Venezuelans live in poverty, many of them in
  shanty towns, some of which sprawl over the hillsides
  around the capital, Caracas.

  Venezuela's president, Hugo Chavez, says he is leading
  the country - which is enjoying a windfall from high
  oil prices - through a socialist revolution.

  OVERVIEW

  OVERVIEW | FACTS | LEADERS | MEDIA

  A country of striking natural beauty, which ranges
  from the snow-capped Andean peaks in the west, through
  the Amazonian jungles in the south, to the beaches of
  the north, Venezuela is among the most highly
  urbanised countries in Latin America.

  AT-A-GLANCE

  Politics: President Hugo Chavez leads a self-styled
  socialist revolution but polarises domestic opinion
  Economy: Venezuela is a major oil producer; export
  revenues fund huge social programmes
  International: Mr Chavez is a vocal critic of
  Washington; the US portrays him as a security threat.
  Peru accused him of interfering in its 2006
  presidential poll
  Its economic fortunes are tied to world oil prices. A
  1970s boom largely benefited the middle classes, but a
  subsequent price collapse condemned many of this class
  to poverty while eroding the living standards of the
  already impoverished.

  Unemployment is high and, according to official
  figures, around 60% of households are poor.

  In 1998 Venezuelans broke the stranglehold of the
  discredited party system to elect the populist
  left-winger Hugo Chavez, a former army officer who has
  proclaimed a "Bolivarian revolution", named after
  South America's independence hero.

  Radical reform, political unrest and deep divisions
  have characterised the president's term in office. His
  supporters - known as "chavistas" - and his detractors
  have staged street protests.

  Venezuela under Mr Chavez has sought to strengthen its
  regional influence through diplomatic and economic
  overtures towards other South American and Caribbean
  nations. This has been seen, in part, as an effort to
  counter Washington's influence in the region.

  FACTS

  OVERVIEW | FACTS | LEADERS | MEDIA

  Full name: Bolivarian Republic of Venezuela
  Population: 26.6 million (UN, 2005)
  Capital: Caracas
  Area: 881,050 sq km (340,561 sq miles)
  Major languages: Spanish, indigenous languages
  Major religion: Christianity
  Life expectancy: 70 years (men), 76 years (women) (UN)

  Monetary unit: 1 bolivar = 100 centimos
  Main exports: Petroleum, bauxite and aluminium, steel,
  chemicals, agricultural products, basic manufactures
  GNI per capita: US $4,810 (World Bank, 2006)
  Internet domain: .ve
  International dialling code: +58
  LEADERS

  OVERVIEW | FACTS | LEADERS | MEDIA

  President: Hugo Chavez

  Hugo Chavez, who has survived a coup, protests,
  strikes and a referendum on his rule since coming to
  power in 1998, is the subject of both adulation and
  loathing among his divided electorate.

  Hugo Chavez has polarised political opinion

  The president, who says he wants to create a new form
  of socialism, has pursued populist policies aimed at
  helping the poor. The programmes include free health
  care, subsidised food and land reform.

  Critics have accused Mr Chavez of trying to emulate
  Cuba's communist system and of increasing state
  intervention in business.

  Mr Chavez came to prominence when he led a failed coup
  in 1992. After a spell in prison he embarked on a
  political career that swept him to power in a
  landslide election victory in 1998.

  The charismatic president often continued to wear his
  paratrooper's red beret. He delighted the poor but
  infuriated the rich and the powerful news media with
  his rambling speeches that denounced the wealthy
  elite.

  As Mr Chavez grew more powerful, his critics said he
  was leading Venezuela towards a Cuban-style
  authoritarian government. He was criticised for
  courting countries which attracted US or international
  disapproval, namely Cuba, Saddam Hussein's Iraq and
  Libya.

  He was forced out of office by the military in April
  2002, only to be reinstated within 48 hours after a
  post-coup government collapsed in the face of a
  rebellion by loyalist troops and massive protests.

  Opposition pressure intensified in 2002 and 2003, with
  more protests, a prolonged general strike and an
  unsuccessful attempt to petition for a referendum on
  the president's rule.

  On the strength of a second petition handed in by his
  opponents, Mr Chavez faced a referendum on his rule on
  15 August 2004 and was named as the winner. He says he
  will run for another six-year term in elections in
  December 2006.

  Vice-president: Jose Vicente Rangel
  Foreign minister: Nicolas Maduro
  Defence minister: Ramon Orlando Maniglia
  Finance minister: Nelson Jose Merentes
  MEDIA

  OVERVIEW | FACTS | LEADERS | MEDIA

  Media watchdogs have been highly critical of the
  behaviour of the Venezuelan media, and of President
  Chavez's attitudes towards broadcasters and the press.

  The president has been accused of creating a hostile,
  intimidatory climate for journalists, while some
  private media outlets have been criticised for being
  involved in the opposition movement against him.

  "Hello President": Hugo Chavez takes to the air every
  week

  A controversial media law came into effect in 2005.
  The government said it would improve standards by
  banning the inappropriate airing of scenes of sex and
  violence. But critics of the bill, which also
  prohibits material deemed to harm national security,
  said it was an attempt to silence media criticism.

  Venezuela's many private broadcasters operate
  alongside state-run radio and TV channels. President
  Chavez has his own weekly TV and radio programme on
  the government-run networks.

  The country is the main shareholder in Telesur, a
  Caracas-based pan-American TV channel which, according
  to its chairman, aims to present Latin America's
  vision of itself to the world. The governments with a
  stake in the venture are all left wing or left of
  centre.


  >

  ===
  Ingin belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits?
  Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]
  http://www.media-islam.or.id

  __________________________________________________________
  Do you Yahoo!?
  Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
  http://new.mail.yahoo.com



  

Kirim email ke