Selasa, 20 Februari 2007 Reksadana Syariah Sinergy Diproyeksi Jaring Rp 1 Triliun
JAKARTA - Sinergy Asset Management memproyeksi penghimpunan dana investasi syariah hingga Rp 1 triliun melalui kedua reksadana syariahnya di tahun pertama. Rencananya, Sinergy akan meluncurkan kedua reksadana syariah paling lambat April mendatang. Menurut Director of Investment Banking Sinergy, Aditya Soekarno, Sinergy menargetkan penjaringan dana investasi syariah hingga Rp 1 triliun. Hal tersebut dilakukan dengan menawarkan 1 miliar unit dari kedua reksadana syariah ke pasar. Harga tiap unit adalah seribu rupiah. ''Target dana kelola kita paling tidak Rp 1 triliun. Satu unit seribu rupiah. Jadi, sebanyak 1 miliar unit,'' katanya kepada Republika di sela penyelenggaraan Islamic Finance Summit 2007 oleh Karim Business Consulting (KBC), Jumat, (16/2). Aditya menyebutkan, kedua jenis reksadana syariah tersebut terdiri dari reksadana syariah balanced fund dan money market. reksadana syariah balanced fund dibuat sebagai instrumen investasi asuransi. Sedangkan, reksadana syariah money market sebagai instrumen investasi perbankan. Meski demikian, Sinergy hingga kini masih mengkaji dan menyusun struktur kedua reksadana syariah. Alasannya, Sinergy berharap struktur kedua reksadana syariah berbeda dibandingkan yang sudah ada. ''Kita mau coba buat struktur yang fund manager lain belum melirik,'' katanya yang juga menyebutkan penyusunan struktur itu harus terkait dengan keinginan investor di kedua reksadana syariah. Dalam proses penyusunan dan penerbitan kedua reksadana, Aditya menyebutkan, Sinergy bekerja sama dengan KBC. Kerja sama tersebut meliputi konsultansi penyusunan struktur reksadana syariah dan pengajuan rekomendasi syariah ke Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI). Mengenai waktu penerbitan, Sinergy sebetulnya menargetkan awal Februari lalu atau Maret ini. Namun, target tersebut dimundurkan menjadi April. Alasannya, proses penyusunan ternyata membutuhkan waktu lebih banyak daripada yang diperkirakan sebelumnya. ''Usai diterbitkan, kita akan daftarkan ke bursa efek,'' katanya. Mengenai alasan penerbitan reksadana syariah, karena sejumlah faktor. Salah satunya adalah karena besarnya potensi pasar pengembangan investasi syariah. Terlebih, industri investasi syariah di Indonesia berkembang karena dorongan pasar. ''Selain itu, saya kira pertumbuhanya akan bagus selama didukung oleh pemerintah,'' katanya. Aditya menyebutkan, penerbitan reksadana juga untuk mendukung program pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia melalui dana investasi syariah. Hal tersebut ditunjukkan dengan upaya presiden menarik dana investasi Timur Tengah melalui utusan khususnya, Alwi Shihab. ''Kita ingin membantu president's envoy, Pak Alwi dan kita juga tidak ingin Indonesia tertinggal dari Singapura,'' katanya.n aru ( ) Source : http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=283370 <http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=283370&kat_id=256> &kat_id=256
