Begitu kata Dr. Muhammad Syafi'i Antonio, M.Ec., pada sebuah cover
buku baru berjudul "Syariah Marketing" yang ditulis oleh begawan
marketing, Hermawan Kartajaya bersama Muhammad Syakir Sula. Buku ini
sekaligus menjadi pertanda bahwa ekonomi Islam [baca: syariah]
memiliki peluang untuk terus berkembang dan menjadi alternatif di
tengah praktek ekonomi yang serba kapitalis-sekuler.

Tidak berlebihan kalau Hermawan (dalam buku itu) mengatakan bahwa, "Di
masa depan ada pergeseran pasar dari tingkat intelektual [rasional]
menuju ke emosional, dan akhirnya bertransformasi ke spiritual". Meski
saya kurang sepakat kalau pasar spiritual dianggap sebagai pasar yang
blindly emotional. Karena dalam kenyataannya, mereka yang memilih jasa
syariah adalah mereka yang telah melakukan perbandingan rasional
terlebih dahulu terhadap jasa non syariah [konvensional], misalkan
saja dari aspek kemudahan proses, dan humanismenya. Oleh karenanya,
menurut saya, pasar spiritual merupakan pasar yang selalu
mengedepankan rasionalitasnya [pemahaman] dan hati [kalbu], bukan
sekedar hati. Mereka adalah orang yang secara sadar memahami bahwa
manusia adalah makhluq [ciptaan] Allah didunia dan secara sadar
melakukan kontak secara terus menerus dalam bentuk ketaatan kepada
segala perintah dan larangan-Nya, termasuk tatkala mereka berbisnis,
investasi, dll, agar selamat di dunia maupun akhirat. Itulah yang
dalam perspektif Islam diyakini sebagai ibadah.

Terlepas dari perbedaan itu, saya salut kepada pak Hermawan dan pak
Syakir Sula yang sudah menulis buku "Marketing Syariah", terlebih pada
pak Hermawan. Meski beliau non muslim namun bisa menuliskan marketing
dalam perspektif syariah dengan cukup baik. Ini menunjukkan bahwa
sesungguhnya konsep syariah dapat dipahami dan di aplikasikan secara
universal oleh siapapun.

...Berikutnya. Kalau boleh saya katakan. Jika kecenderungan pasar saat
ini sedang bergeser menuju pasar syariah [spiritual], maka bukan tidak
mungkin komunikasi visual dan komunikasi pemasaran berbasis syariah
pun pada akhirnya dibutuhkan. Mungkinkah? atau pasti? ....? Why not ?


Jogja,
Bey Laspriana
www.syafaatadvertising.net
www.shariahadvertising.blogspot.com

Kirim email ke