INCEIF Beri Masukan Pebisnis Syariah

*Tempat Event Berlangsung : Jakarta
Tanggal Event : 1 Maret 2007*

Preview

*(Jakarta PKES Interactive 15.04 WIB)* Kepala Akademisi dari International
Centre for Education in Islamic Finance (Inceif) Malaysia Prof. Dr Malik
Muhammed Mahmud memberikan masukan kepada para pebisnis syariah, bahwa
keberhasilan dalam pasar modal syariah lebih disebabkan adanya transparasi
pasar, efesiensi system dan instrumen regulasi yang menyertainya. Apabila
lembaga keuangan syariah di Indonesia bisa menerapkan strategi ini maka
keberhasilan dalam pasar modal syariah mudah tercapai. "Realitas ini tidak
bisa dipungkiri, melihat momentum dari produk SUKUK yang kian diminati oleh
para investor asing,"kata Malik Muhammed ketika memberikan ceramah tentang
Leadership in Islamic Finance & New Growth Opportunities for OIC Countries
di kampus LPPI (Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia) Kemang- Jakarta
Selatan hari ini (1/3).

Dalam ceramahnya tersebut, ia mengatakan, saat ini perkembangan global dari
bank syariah sangat menarik dalam bisnis, namun sayang sekali untuk ukuran
pasarnya masih kecil. "Di Indonesia masih berukuran 1,3% dan di Malaysia
investasi di bank syariah masih 11 miliar dollar dan estimasinya masih
antara 10%-20%. Nilai ini tidak sesuai dengan potensi market yang ada,"kata
pakar akademisi Inceif.

Pada analisanya tentang potensi bank syariah ditahun 2020 sangat potensial,
melihat data secara global penduduk Muslim ditahun tersebut akan mencapai
2,5 miliar secara global. Jika 1, 5 miliar dari 30 % jumlah penduduk bisa
menabung di bank syariah. Maka akan berpotensi menghasilkan dana sebesar 4
triliun untuk membantu orang miskin dan kesejahteraannya. "Untuk mewujudkan
itu semua, diperlukan kepemimpinan (leadership) baru dalam mengelola lembaga
keuangan syariah,"paparnya

Dalam pemaparannya lain Malik Muhammed, mengungkapkan untuk jumlah total
asset perbankan syariah secara global tertinggi adalah Bahrain 14,7 triliun,
diikuti Kuwait 16,2 triliun dan Qatar 12,5 triliun sedangkan Indonesia masih
menempati ukuran terkecil dengan total asset 1,4 triliun.

"Untuk menaikkan jumlah total asset seperti di Indonesia, diperlukan
kebijakan bersama seperti system monetar perbankan Islam yang rasional
dengan disertai fungsinya. Selain itu dilakukan pula determinasi dalam
sistem monetar,"katanya.

Menanggapi ceramah Prof. Dr Malik Muhammed Mahmud, analis senior Direktorat
Perbankan Syariah Bank Indonesia Mulia E Siregar mengatakan, memang secara
akademik apa yang dikatakan oleh kepala akademik Inceif adalah benar, yaitu
diperlukan strategi kepemimpinan baru dalam managerial perbankan syariah.
Tapi, untuk kondisi di Indonesia lain cerita.

"Jika di Malaysia bank syariah di persepsikan sebagai symbol budaya Melayu
yang harus dilestarikan, tapi di Indonesia bank syariah menjadi sebuah icon
yang membudaya. Maka wajar pula jika di Malaysia memiliki asset yang besar
bank syariahnya,"katanya.


Kemudian yang dipikirkan saat ini, kata Mulia dalam mengembangkan perbankan
syariah di Indonesia adalah, metodologi apa yang bisa dilakukan agar focus
pengembangan ekonomi syariah di Indonesia bisa maju. Sebab sejauh ini bank
sentral khususnya BI telah melakukan langkah-langkah itu. Tapi tetap saja
share marketnya tetap kecil. *(Agus.Y*)

Kirim email ke