BERWAKAF SEBAGAI GAYA HIDUP   Oleh : Herman Budianto
  Source : www.tabungwakaf.com
   
       
  Semua orang menginginkan bahagia. Akan tetapi setiap orang memiliki cara 
tersendiri untuk mendapatkan kebahagiaan. Kemana dan bagaimana mencari jalan 
kebahagiaan sangat tergantung dengan kadar pemahaman seseorang terhadap 
ideology atau agamanya. Semakin paham seseorang dengan nilai agama,maka akan 
semakin terarah dalam mencari kebahagiaan. Dan demikian juga sebaliknya, 
semakin jauh seseorang dengan nilai agama, maka akan semakin jauh dari jalur 
kebahagiaan dan akan terjebak dalam lubang kebahagiaan semu. Ironisnya sekarang 
ini peminat kebahagiaan semu ini menempati rating pertama dalam kehidupan. 
Mengapa bisa demikian?  karena semua produk kebahagiaan semu ini dikemas dengan 
cover yang menarik serta adanya skenario strategis untuk menyuapkan budaya 
tersebut kepada kita semua sehingga perlahan tapi pasti, sikap hidup seperti 
ini akan menciptakan manusia-manusia yang hedonis, yang menjadikan materi 
sebagai tuhannya. 
   
  “ Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah suatu kesenangan dan permainan 
belaka. Dan sesunggunya negeri akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya jika 
mereka mengetahui.” (QS Al Ankabut : 64). 
   
  Jika kita renungkan ayat di atas, maka seharusnya kita tersadar bahwa Allah 
telah memberikan peringatan dini kepada kita agar tidak terjebak dengan 
kesenangan semu duniawi.Tetapi mengapa peringatan Allah ini seakan sepi dari 
peminat ? Tentu akan mudah kita dapatkan jawabannya, karena surga itu sesuatu 
yang belum nyata (intangible), walaupun Allah serta RosulNya sudah 
menggambarkan indah dan nikmatnya surga, tetapi karena keterbatasan indera mata 
kita belum mampu merasakannya. Manusia lebih condong kepada imbalan yang 
bersifat tangible dan instant.  Oleh karena itu manusia memerlukan stimulus 
lain untuk  selalu mengingat peringatan Allah tersebut.Dan salah satu stimulus 
itu tidak lain dan tidak bukan adalah manusia-manusia lain disekitar kita.
   
  Asy Syahid Sayid Qutb, dalam tafsir Fii Dzilali Qur’an mengatakan bahwa buah 
nyata dari iman adalah amal sholeh, yaitu amal kebaikan yang dapat kita lakukan 
baik kepada Allah ataupun kepada manusia. Dan seiring dengan hal tersebut, Ust 
Anis Matta, Lc dalam menafsirkan surat Al Ashr mengatakan bahwa iman dan amal 
sholeh adalah ciri kesholehan individu, dan untuk menjadi sholeh secara sosial 
maka manusia harus melakukan transfer iman dan kenikmatan yang diterimanya 
kepada manusia lain, sehingga orang lain dapat merasakan nikmat yang sama 
dengan yang kita rasakan.
   
  Kalau kita renungkan dari tafsir kedua tokoh muslim tersebut, maka dapat 
dikatakan bahwa untuk dapat memotivasi diri selalu ingat kepada peringatan 
Allah tentang dunia maka kita dapat menstimulus diri kita dengan memperbanyak 
amal kebaikan dengan cara mentransfer kenikmatan yang kita miliki kepada orang 
lain yang belum merasakan kenikmatan seperti yang kita rasakan. Kita dapat 
memberikan sebagian harta terbaik kita kepada saudara kita yang kekurangan, 
terkena bencana, pengangguran dan lain-lain. Tentu harta tersebut sangat 
berharga dan lebih bermanfaat untuk mereka dari pada harta tersebut kita 
hamburkan hanya untuk kepuasan sesaat. Kita dapat merasakan kebahagiaan dari 
kebahagiaan yang mereka rasakan, merasakan indahnya senyum dan keceriaan mereka 
dan tidak akan kita lihat lagi mata yang penuh kebencian, kecemburuan dan 
penderitaan.
   
  Memang tidaklah mudah kita memulai semua itu, karena salah sifat yang 
diberikan Allah kepada kita adalah kecintaan yang berlebih kepada harta. Tetapi 
sekali kita berani melakukan, yaitu memberikan harta yang terbaik dan bukan 
hanya sekedar recehan, maka seterusnya akan ringan untuk melakukannya, atau 
bahkan akan terasa ada sesuatu yang hilang apabila kita belum melakukannya. Dan 
alangkah indahnya kalau kebiasaan memberi yang terbaik dari yang kita miliki 
menjadi sebuah kebiasaan atau bahkan sebuah gaya hidup. Gaya hidup para 
intelektual, eksekutif, selebritis dan seluruh lapisan masyarakat, sehingga 
menjadikan sedekah baik berupa infak atau wakaf akan menjadi lebih berkelas dan 
tidak selalu identik dengan budaya recehan. Seperti yang dilakukan para 
salafush sholeh yang telah mewakafkan ribuan dinar, ratusan onta, kuda, emas, 
kebun dan barang berharga lainnya. Kalau para orang sholeh terdahulu sudah 
mampu melakukannya, bagaimana dengan kita ?
   
  Kebahagiaan dunia akan kita dapatkan dan nanti di akhirat para pecinta 
sedekah akan dipanggil oleh Allah masuk ke surga melalui pintu sedekah, seperti 
yang disebutkan dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah 
saw. bersabda: "Barang siapa memberi nafkah isterinya di jalan Allah, maka akan 
dipanggil dari pintu surga, 'Wahai Hamba Allah! Ini adalah pintu kebaikan.' 
Barangsiapa termasuk ahli salat, maka akan dipanggil dari pintu al-Shalah. 
Barangsiapa termasuk ahli jihad, maka akan dipanggil dari pintu al-Jihad. 
Barangsiapa termasuk ahli puasa, maka akan dipanggil dari pintu al-Rayyan. Dan 
barangsiapa termasuk ahli sedekah, maka akan dipanggil dari pintu 
al-Shadaqah...." (HR. Al-Bukhari).
   

       
---------------------------------
Ahhh...imagining that irresistible "new car" smell?
 Check outnew cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke