--- In [email protected], "Adri Febrianto" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Assalamu'alikum,
> 
> wajar kok Pak............. memang setiap orang kan punya penafsiran 
sendiri2
> ................
> jadinya akan timbul pertanyaan, pro-kontra, 
dsb ......................
> ada yg pernah cerita ke saya, Rasulullah Muhammad SAW pernah menjadi
> pedagang/saudagar...........
> istri pertama beliau , Siti Khadijah ra kalo ngga salah adalah 
seorang
> saudagar / juragan kapal............
> bahkan sampe saat ini yg namanya pedagang di Arab banyak
> benerrrr................. :-D
> 
> bayangkan Pak, kalo semua pedagang dan saudagar ini tidak menjual 
barang di
> atas harga belinya, apa hasilnya ?
> yg penting, tidak berbohong soal harga 
belinya ........................
> CMIIW ...........
> 
> Wassalamualaikum
> 
> 
> 



Kalau pedagang tidak bisa disamakan dengan bank.  Pedagang menjual 
barangnya tetap berdasarkan fair market price (sorry pakai ilmu dari 
barat:).  Fair market price terbentuk dimana terjadi maksimisasi 
utility dari masing2 pihak.  Pihak produser akan memaksimumkan 
profit, sementara pihak pembeli memaksimumkan nilai kepuasan 
(utility), maka ketika itu terbentuklah harga yang fair.  Jika 
seseorang misalnya membuka warung dan menjual barang lebih maha dari 
groceris store, itupun sudah mengaplikasikan market price karena 
pembeli akan berpikir bahwa jika dia harus ke grocery store, maka dia 
akan keluar biaya lebih besar untuk bensin atau ongkos angkot, 
sehingga harga yang dipasang oleh suatu warung sudah memaksimalkan 
utility dari si pembeli tersebut.  Kalau nggak percaya, boleh coba 
pindahkan warungnya pas disebelah grocery store, pasti jumlah pembeli 
di warung tersebut akan berkurang.  Beda dengan dagang mobil dari 
bank syariah.  Di dagang mobil bank syariah tidak ada usaha (bukan 
dalam bentuk uang) yang dilakukan oleh bank syariah, alias harga yang 
lebih mahal sebenarnya (regardless bayarnya nyicil atau lunas) tidak 
mempengaruhi utility dari pihak pembeli, malah menjadi beban.  Kalau 
misalnya pihak syariah bilang gua udah mindahin mobil ke depan parkir 
gedung syariah, pun usaha tersebut tidak mempengaruhi utility dari si 
pembeli.  Kalau pun mempengaruhi, seharusnya dinilai sama dengan 
kalau kita menyuruh seseorang memindahkan mobil kita dari satu tempat 
ke tempat lain, bukan memark-up harga yang memberatkan.


salam,


-Irsal

Senior Quantitative Risk Developer
http://www.ips-sendero.com



Kirim email ke