Kita harus menyadari, bahwa dalam setiap 
usaha yang berkembang maju, seperti perkembangan bank syariah yang sangat 
signifikan sejak tahun 2000 di Indonesia, tidak lepas dari pihak-pihak yang 
menjadi "free rider", yang mengambil keuntungan pribadi dari perkembangan bank 
syariah yang "dasyat". Kita juga harus menyadari, bahwa sebagian yang berada di 
bank syariah tidak sepenuhnya karena sebuah niat yang "syariah", tetapi tidak 
lebih sebagai tempat sementara karena tidak terpakai di "konvensional", 
sehingga mereka menjadi "barier" dalam perkembangan bank syariah yang islami, 
sehingga begitu mudahnya keluar-masuk syariah-konvensional.
   
  Namun perlu pula kita sadari bahwa sebagian besar para personal bank syariah 
terdapat oarang-orang yang ingin berjihad mengembangkan ekonomi yang islami, 
namun kekuatan mereka "seringkali" kalah dari oknum-oknum "free rider" tersebut.
   
  Dengan demikian, sudah saatnya pemegang otoritas pengembang bank syariah 
seperti Direktorat Perbankan Syariah Bank Indonesia dan Dewan Syariah Nasional 
turun tangan membenahi masalah yang dikemukakan Mas Agus Siswanto (yaitu 
sesuatu yang melompat dala hal gerakan ekonomi syariah kita), agar tidak 
terjadi perkembangan ekonomi dan bank syariah jauh dari ajaran Islam itu 
sendiri.
   
  Namun demikian, marilah kita bersatu mengembangkan ekonomi & bank syariah 
secara bersama-sama dan menghindari saling hujat di antara kita sesama Muslim. 
Maukah kita, bahwa jika ternyata para non Muslim lebih memetik keuntungan dari 
perkembangan ekonomi & bank syariah, sementar itu para Muslim kembali menjadi 
penonton saja.
   
  Wassalam
  Insan Islami
                
--------------------------------------------------------------------------    
"agus siswanto"[EMAIL PROTECTED] wrote:           

Solusinya menurut saya, kita perlu otokritik terhadap diri kita sendiri, karena 
selama ini berdasarkan amatan saya ada sesuatu yang "melompat" dalam hal 
gerakan ekonomi syariah kita.

Dimana melompatnya, yakni kita ketika membicarkan tentang ekonomi Syariah 
"melompat" langsung pada bab Muamalah, sementara kalau kita tengok sejarah 
kejayaan Islam yang dibangun Oleh Rosulullah SAW dan para sahabatnya, mereka 
membangun sebuah pondasi yang azasi yakni Tauhid atau Aqidah, selama hampir 13 
tahun, sehingga dengan Aqidah yang kuat,lurus,kokoh dan mantap, maka pada tahap 
berikutnya ketika Allah SWT dan Rasulnya menurunkan ketetapan-ketepan syariah 
baik dibidang ibadah maupun muamalah mereka senantiasa "saman wa thoatan" 
(mendengar dan mentatainya"). Hal ini juga dikuatkan dengan sebuah ungkapan 
emas dari Imam Malik yang kurang lebih bahasa bebasnya "Tidak akan jaya ummat 
ini selagi tidak mengikuti atau menapak atas kejayaan yang telah ditempuh ummat 
terdahulu".

Mungkin saatnya kita berintrospeksi sudahkan hal-hal yang bersifat penguatan 
ruhiyah ini diajarkan dalam training-training di Lembaga Keuangan Syariah atau 
dimanapun yang mengajarkan syariah. Kalaulah saya amati dari pengalaman 
dilapangan ternyata porsinya masih sangat sedikit, sehingga wajarlah kalau 
sering kita dapati pelaku ekonomi syariah dengan "gampangnya" berpindah pindah 
ke ekonomi konvensional lalu balik lagi ke syariah dan seterusnya dan 
seterusnya, padahal ekonomi syariah adalah bagian dari sebuah konsekwensi kita 
untuk menuju ke"muslim yang Kaffah".

Saya berpendapat jikalau kita para pelaku ekonomi syariah telah tersirami dan 
terus dikuatkan nilai-nilai ruhiyahnya, Insya Allah setiap kita menemukan 
"kebenaran" atau koreksi atas apa yang selama ini kita lakukan, maka kita akan 
bergegas untuk menuju kepada kebenaran itu, atau kalaulah kita dihadapkan 
kepada suatu masalah tentang hal-hal yang baru dibidang ekonomi syariah, maka 
kita justru mencari landasan syari yang paling kuat,kokoh dan shohih untuk kita 
jadikan acuan bukannya malah mohon maaf "mensiasati" syariah, karena ada tujuan 
lain yang ingin kita capai.

Oleh karena itu saya pikir kita perlu mereformat kembali kurikulum pendidikan 
dan latihan dibidang ekonomi syariah agar porsi Tauhid atau Aqidah yang 
berhubungan dengan hal-hal yang terkait dengan dunia bisnis- mendapatkan porsi 
yang lebih besar dibanding selama ini yang hanya biasanya diberi judul sebagai 
ISLAM IS WAY OF LIFE), seperti bagaimana kita memandang konsep Rizki, Konsep 
Ikhtiar, Konsep Taqdir, dan konsep-konsep lainnya yang sangat asazi bagi para 
pebisnis, sehingga nantinya ketika dihadapkan pada berbagai persoalan apapun 
maka "cantolan"nya adalah Allah Swt. bERANI bersaing dengan sesama, dan tidak 
takut disaingi oleh kawan karena kita sadar betul bahwa Rizki itu dari Allah, 
Berani mengatakan yang haq diperusahaan dengan segala resikonya, karena yang 
menjamin rizki bukan Direksi tapi Allah SWT. 

Wallahu Alam Bishowab.
Terima kAsih

Agus Siswanto
Praktisi LEmbaga Keuangan Syariah, Staf Pengajar STEI Tazkia , FEM IPB dan 
Konsultan HRD



       
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.

Kirim email ke