Riski Aditya wrote: > Salam kenal, > > Mas Erwin....setau saya Grameen Bank, produknya M. Yunus di Bangladesh > menerapkan bunga pinjaman yang artinya tidak sesuai dengan prinsip > ekonomi Islam..
============================= Mas Riski, Tks atas infonya. Anda Benar. Saya juga dah diberi info yang sama oleh Mas Joko Purnomo Sunu. Dari beberapa komentar tentang kemana2 orang2 Arab itu, hanya satu kesimpulan saya kiprah orang2 arab itu sangat tidak maksimal dalam mengembangkan ekonomi Islam. Mengapa kita "menuntut" orang2 arab itu? Khan Islam bukan sama dengan arab. Saya rasa wajar donk kita mengharapkan kepemimpinan arab, karna; (i) Islam berasal dari sana, tempat suci kita berada di sana. Dan yang paling dekat dengan sejarah Islam, karena bahasa dan budaya adalah orang sana. (ii) Mereka dikarunia uang yang banyak. Sehingga potensi besar menggerakkan dunia Islam. Kalo contoh nyatanya. Pembangunan Indonesia banyak tergantung utang luar negeri dari lembaga kapir seperti ADB, World Bank. Dan yang saya tahu banyak sekali ketidakefektifannya. Sesi lain bisa membahas lebih tajam soal utang tak efektif ini. Saya bayangkan kalo pembangunan kita misalnya infrastruktur dengan cara bagi hasil dengan pinjem duit orang2 arab itu, tentulah akan membuat kita sebagai negara Muslim akan menjadi lebih baik. Saya tak pernah menghitung, tapi jangan2 dengan potensi dana di negara2 arab itu bisa membangun dunia Muslim keseluruhannya. IDB telah ada, tapi yang saya tau pembangunan kita lebih banyak dibiayai non IDB. Investasi tidak hanya di bidang infrastruktur, tapi juga terutama di bidang pendidikan, bidang kesehatan dll. Bahkan bila perlu jangan pake skema utang, tapi pake skema hibah. Bayangkan kalo itu terjadi! Khan orang kaya wajib bersedekah kepada orang miskin. KIta memang menggugat kemana ajaran ayat "sesungguhnya Muslim itu bersaudara"? Saudaranya pada dililit kemiskinan, orang2 arab ini malah2 sibuk menginvestasikannya ke amerika yang jelas2 dah kaya. salam
