Sekilas Ekonomi Indonesia: Umat Islam Indonesia Menjadi kambing Hitam
  Kita selalu disuguhi pernyataan bahwa pada saat Ramadan harga-harga naik 
karena orang yang berpuasa disiang hari akan berpesta sepanjang malam setelah 
berbuka dan hal ini menyebabkan inflasi. Seakan-akan bahwa inflasi adalah 
fenomena demand-supply di pasar dan penyebabnya adalah umat Islam yang 
berpuasa. Itu mungkin fitnah. Dugaan saya ini bukan tidak ada dasarnya.

Dua hari lalu saya membaca di koran bahwa pemerintah mengucurkan 45 trilium 
uang kartal. Itu adalah ekspansi moneter, atau man-made inflation, inflasi yang 
dibuat oleh BI, bukan kenaikan harga melalui mekanisme supply dan permintaan. 
Buktinya harga perak dan emas naik. Emas menembus level Rp 200,000/gr bahkan 
mencapai Rp 222,000/gr. Memangnya anda makan emas/perak pada bulan puasa? Dari 
survey yang saya buat di kantor, ternyata banyak teman sekerja yang makan lebih 
sedikit dari biasanya. Jadi anggapan bahwa bulan puasa adalah pesta di malam 
hari adalah mitos.

Pintar dan kejam sekali pemerintah, menciptakan mitos, memfitnah dan membuat 
inflasi (baca: menarik pajak tabungan). Kejadian ini memperkuat bahwa memegang 
emas sampai paling tidak bulan Maret 2008, adalah strategi penangkal 
jurus-jurus busuk para politikus.

Ekonomi US: Cukupkah 0.50%?
Cukupkah pemotongan suku bunga 0.50%? Saya pikir tidak. Saya kutipkan ucapan 
dari ekonom terkenal yang sudah mati lama. Kalau dia masih hidup, mungkin Ben 
Bernanke (juga Alan Greenspan) perlu berdebat lama dengan dia mengenai jurus 
penangkal pemotongan suku bunga 0.50% itu.

“There is no means of avoiding the final collapse of a boom brought about by 
credit (debt) expansion.” -Ludwig von Mises

Seperti yang dalam pembahasan waktu lalu, di sektor KPR US, sampai bulan Maret 
2008 nanti gelombang perubahan suku bunga dari suku bunga penggoda yang rendah 
ke suku bunga mengambang yang berpotensi naik terus jika dirasa resiko 
meningkat. Saat ini saja bisa mencapai 2%-3% dari bunga penggoda (teaser). Suku 
bunga pinjaman kemungkinan meningkat, walaupun suku bunga the Fed turun. 
Bersama turunnya suku bunga the Fed seakan the Fed mengorbankan US$. Maka 
dollar melemah, investor melepas US T-Bond dan harga kredit dalam US$ akan 
lebih mahal karena kreditor memasukkan faktor resiko penurunan nilai US dollar. 
Dengan kata lain, sektor KPR US masih rawan. Tidak hanya itu, projek-projek 
yang memerlukan external funding akan lebih sulit dan mahal. Dari sudut ini, 
bisa disimpulkan agar menghindari saham perusahaan yang tidak punya cash untuk 
membiayai projek-projeknya.

Terhadap bursa saham, penurunan suku bunga ini juga tidak berpengaruh terhadap 
trendnya. Pengalaman tahun 2001 – 2003 menunjukkan penurunan suku bunga tidak 
mempengaruhi trend. Lihat Chart-1. The Fed mulai memangkas suku bunganya pada 
bulan May 2001 sebesar 0.50% dan berlanjut selama 2 tahun dari 6.5% ke 1%. 
Awalnya indeks Dow Industrial naik tetapi beberapa minggu kemudian turun lagi 
mengikuti trendnya. Secara keseluruhan dalam periode bear pemurunan Dow dari 
puncaknya di 11700an (2000) ke 7300an kurang dari 3 tahun kemudian. Terpangkas 
kurang lebih 35%. Demikian juga dengan dollar. Dollar index turun dari level di 
atas 120 ke level 80an dalam waktu 3 tahun. Terpangkas hampir 35%. Jadi nilai 
riil Dow terpangkas hampir 60%. Sepanjang tahun 2001 dan seterusnya harga bahan 
komoditi dan emas naik terus terhadap dollar. 
  

Chart-1

Penurunan suku bunga hanya merubah crash dan depresi ala 1930an menjadi ekonomi 
sontoloyo (pelan-pelan kualitas hidup dan nilai asset turun). Jepang ditahun 
1990an contohnya. Sampai sekarang (setelah 17 tahun kemudian) walaupun suku 
bunga BoJ hanya 0.5%, index Nikkei levelnya tidak lebih tinggi dari 50% level 
tertingginya. 
  


Chart-2

Katanya thesis doktoral Ben Bernanke adalah mengenai depresi 1930. Dia juga 
murid yang baik, belajar dari pengalaman lalu. Tetapi, pendapat saya dia 
“misguided”. Dia bisa menyimpulkan bahwa krisis di tahun 2001-2003, Greenspan 
kurang aggressive dalam memotong suku bunga the Fed. Ini hipotesa saya. Mungkin 
Ben akan lebih aggressive dalam memotong suku bunga the Fed dimasa mendatang. 
Ini akan berakibat jebolnya nilai uang (dimotori oleh US$). Dengan kata lain, 
asset riil dan liquid seperti emas/perak akan terbang.

Saya tidak bermaksud membandingkan kasus subprime lending 2007 dengan creative 
accounting Enron 2001. Terus terang, pemotongan suku bunga the Fed untuk kasus 
subprime sudah terlambat dibandingkan dengan creative accounting. Greenspan 
mulai memangkas suku bunganya untuk merenspons keadaan ekonomi pada bulan May 
2001 dimana index Dow sempat turun 15%, bukan krisis Enron. Krisis Enron mulai 
merebak pada bulan Agustus 2001. Kemudian Sept. 11, menyusul. Sedangkan Ben 
kelihatannya lebih reaktif dari pada Greenspan, dengan bertindak setelah 
subprime lending menghantam. Jadi wajar kalau kita berasumsi bahwa Ben akan 
lebih aggresive dalam memotong suku bunganya di masa depan. Dengan catatan 
bahwa Ben tidak perduli lagi dengan nilai dollar. (Orang US mana yang perduli 
kalau hutang negara mereka mencapai $ 10 trilliun dan total hutang mencapai 
lebih dari $ 40 trilliun? Kehancuran dollar akan menurunkan nilai riil dari 
hutang.)

Arab dan Cina Membuat Dollar Semakin Beresiko
Cina saat ini memegang $ 1.3 trilliun sebagai cadangan devisanya. Negara-negara 
Arab, Russia juga memegang petro-dollarnya. Khusus negara-negara Arab, terutama 
Saudi, riyalnya di-peg terhadap US$. Dengan adanya ekspansi moneter di US, maka 
mau tidak mau Saudi juga ikut mencetak riyal. Ini juga berlaku bagi Cina yang 
ingin secara bertahap mengambangkan yuan. Ekspansi moneter M3 di kedua negara 
ini di atas 20%. Bayangkan kalau jutawan-jutawan Saudi dan Cina melihat nilai 
tabungannya turun terus. Untuk jutawan Cina, mereka masih melirik ke bursa 
Hongkong. Tetapi, jutawan Saudi yang bursa sahamnya baru saja terhantam crash, 
saham bukan pilihan. Wajar kalau kita berasumsi bahwa jutawan Saudi akan lari 
ke emas. (Catatan: katanya Saudi akan melepas peg riyal terhadap US$. Kalau 
tindakan ini bisa dilihat sebagai penghianatan Saudi terhadap US dan keamanan 
Saudi masih bergantung pada US, apakah langkah ini bisa terjadi dalam waktu 
dekat?).

Bank sentral Cina punya problem sendiri. Dengan $1.3 trilliun dalam bentuk bond 
dan surat hutang digudangnya, akan nervous sekali kalau nilai US$ turun. Mereka 
masih ada Olimpiade tahun 2008. Krisis moneter di negaranya tidak bisa 
diterima. “Senjata Nuklir Ekonomi” istilah Cina yang beberapa waktu lalu 
beredar untuk menggambarkan cadangan $1.3 trilliun itu kalau digunakan untuk 
senjata ekonomi jika US terus menerus mengintimidasi Cina. Tanpa diintimidasi, 
kemungkinan Cina akan menggunakan “Nuklir Ekonomi”nya semata-mata hanya karena 
ingin mempertahankan nilai riil cadangan devisanya yang bisa digunakan dalam 
masa krisis ekonomi. Apakah itu nantinya lari ke emas atau bahan komoditi atau 
lainnya, entahlah. (Lain kali kita akan bahas apa yang saya lihat di Cina 
beberapa minggu lalu).

Bank Sental Lainnya akan Latah?
Kalau dalam menghadapi credit crunch beberapa minggu lalu, bank sentral Eropa, 
US, Inggris dan Jepang serta dari negara-negara maju lain secara bersama-sama 
mengucurkan mungkin sekitar $300 - $700 milyar, kita juga akan mengharapkan 
mereka akan menurunkan suku bunganya, kecuali bank of Japan yang sudah tidak 
mungkin lain. Apa lagi kalau inflasi – CPI (Consumer Price Index) masih dalam 
batas-batas yang bisa ditoleransi/nyaman the Fed. (Catatan: nyaman bagi the Fed 
dan bank sentral, belum tentu nyaman bagi konsumen).

Gejala Awal Resesi di US
PHK di US naik 85% di bulan Agustus dari 43 ribu (juli) ke 79 ribu (Agustus) 
sebagian besar dari sektor finansial yang berkaitan dengan kredit perumahan.

Sektor perumahan (pembangunannnya) turun 20% y-o-y. Kedepan, diperkirakan PHK 
disektor perumahan dan yang berkaitan dengan sektor ini akan meningkat.

Merrill Lynch mengatakan bahwa penggunaan kartu kredit naik 11% di bulan May 
dan Juni 2007, kenaikan tertinggi sejak 2000-2001. Tabungan konsumer sudah 
menipis sehingga harus menggunakan kartu kredit. Walaupun untuk kuartal I 2007 
menurut American Bankers Association, tingkat mengemplang hutang kartu kredit 
turun ke 4.41% dari 4.56% pada kwartal sebelumnya, penurunan ini karena 
bertambahnya penggunaan kartu kredit. Kita tunggu 2-5 kuartal berikutnya. Saya 
perkirakan akan naik.

GD US kuartal II naik menjadi 4% (perkiraan awal) dari 0.6% di kuartal I.

Konsumsi/Retail terus melambat. Saya ambilkan chart dari “Fill 'Er Up, Please” 
nya Chris Puplava dari FinancialSense.com. Kalau dilihat chart-3 ini, konsumsi 
di US menurun sejalan dengan employment. Kalau dilihat sejarah sebelumnya, 
resesi sudah dekat (ban abu-abu menunjukkan resesi tahun 1981, 1990 dan 2001). 
  

Chart-3

Namanya juga gejala. Bisa banyak. Jadi pembicaraan tentang gejala resesi 
ditutup saja sampai disini.

Emas Menembus Resistance nya
Emas akan terus rally sampai bulan Februari sejalan dengan kebiasaannya. Orang 
India banyak menikah pada bulan Desember dan Januari. Mereka perlu perhiasan 
emas banyak. Tahun baru Cina pada bulan Februari. Kenaikannya menjadi sangat 
impulsif sekali menembus level $700/oz sejak the Fed menurunkan suku bunganya. 
Kemungkinan pada akhir tahun bisa mencapai $800/oz. Beberapa analis TA Elliot 
Wave mengatakan bahwa rally saat ini adalah wave 3 dari III. Jadi diharapkan 
sangat eksplosif. Level $1000/oz kelihatannya bisa dicapai. Amien. (Catatan: 
Analisa Teknikal – TA – Elliot Wave bisa disamakan dengan utak-atik garis. 
Sebagai ramalan saya tidak terlalu percaya. Para analis TA bisanya mengatakan 
bahwa mereka benar setelah kejadian, dan kalau ramalannya salah mereka berkelit 
dengan mengatakan hitungan wave-count nya perlu direvisi).

Berpotensi Lebih Parah dari 2003 atau 1998
Mengenai potensi skala krisis kali ini, bisa disamakan dengan krisis 1930. 
Hanya dampaknya mungkin tidak sama. Dibandingkan dengan krisis-krisis antara 
tahun 1981 sampai 2003, periode sekarang ini bagaikan tumpukan amunisi yang 
berhasil dijinakkan oleh Greenspan. Andaikata saat ini bisa ikut tersulut, maka 
lengkaplah krisis sekarang. Apakah Ben Bernanke bisa menjinakkan tumpukan 
amunisi peninggalan Greenspan. Ini adalah pertanyaan $ 300 trilliun.

Amunisi-amunisi pada bom waktu yang harus dijinakkan oleh Helikopter Ben:

1. Kredit derivatif yang besarnya mencapai $300 - $ 500 trilliun.
CDO, SIV (Structured Investment Vehicle) dan sejenisnya sering over-leverage 
1:10 sampai 1:20. Kredit sebesar ini bisa lenyap menjauhi toxic collateral dan 
investment yang dianggap beresiko. Dengan kata lain kredit seperti ini akan 
lenyap bila resiko dianggap meningkat. Kreditur/pemilik uang enggan menyalurkan 
kreditnya.

2. Reksadana rawan redemsi. Fund manager ini harus meliquidasi assetnya yang 
lain kalau CDOnya (atau investment beresiko yang terkena racun) bermasalah dan 
menjadi tidak liquid serta harganya anjlok. Jumlah reksadana yang kreatif ini 
semakin banyak dibandingkan masa lalu.

2. Double Defisit (perdagangan dan devisa berjalan) di US yang mencapai 8% dari 
GDP.

3. Baby Boomer memasuki masa pensiun.

4. Carry trade yang dulu tidak terlalu populer.

5. Total hutang di US saat ini sudah sekitar 400% dari GDP, melampui level pra 
krisis 1930 (kurang dari 300%).

6. Cina dengan tenaga kerja yang murah dan kemungkinan sudah over-investment 
membuat kelebihan kapasitas produksi semakin parah. Ini akan mempersempit 
peluang US untuk bersaing karena tidak ada tempat bagi pekerja kasar dan 
menengah.

Apakah helikopter Ben cukup sakti dan punya jurus pamungkas penjinak tumpukan 
amunisi ini. Waktu akan membuktikannya


Kiat Investasi dalam 2-3 Tahun ke Depan
Emas/perak adalah asset disaat krisis. Ini tidak berarti saham emas semuanya 
bagus. Kredit akan seret. Oleh sebab itu perusahaan emas/perak yang tidak punya 
cukup cash untuk membiayai projek-projeknya, sulit out-perform. Jadi untuk 
saham-saham emas, diutamakan yang cash flow nya kuat. Untuk leverage, bisa beli 
Call Option jangka panjang.

Properti akan terkena imbas. Saat ini saja properti di Indonesia sudah ikut 
bubble. Mahal, harganya tidak sesuai dengan GDP Indonesia dan supplynya sudah 
berlebih. Menjualnyapun sudah susah.

Harga nominal properti di Indonesia mungkin naik, tetapi harga riilnya turun. 
Apalagi kalau ongkos perawatan diperhitungkan. Properti yang tidak ditempati 
akan merongrong saja. Kalau saya punya rumah kedua yang tidak ditempati, maka 
akan saya jual. Toh nanti bisa beli lagi

Kalau yang terjadi adalah credit crunch, saham berpeluang untuk turun. Mungkin 
berbentuk crash atau pelan-pelan seperti orang dihukum picis jika bank sentral 
bisa berpacu mengglontorkan kredit. Saham yang bagus dan setengah bagus tidak 
akan luput karena pada saat credit crunch, asset yang liquid akan dijual untuk 
menyirami sektor-sektor yang terkena crunch.

Kalau anda lihai dan terlatih melakukan short dengan PUT Option, maka ini 
adalah jalan untuk memperoleh keuntungan yang berlipat ganda. Anda harus tahu 
kapan masuk posisi short. Kalau salah bisa rugi total.

Asset (uang, emas dan saham) kalau bisa sebagian dipindahkan ke luar negri 
seperti Singapore. Indonesia punya sejarah buruk bagi penabung. Bukan tidak 
mungkin muncul undang-undang pelarangan/pembatasan kepemilikan emas, seperti 
masa lalu. Baru-baru ini sedang diusulkan undang-undang yang membuat Rupiah 
sebagai satu-satunya alat tukar di Indonesia. Bayangkan kalau tiba-tiba imbas 
krisis sampai ke Indonesia dan Rupiah tidak karuan seperti tahun 1966, 1998, 
atau masa awal kemerdekaan? Melakukan transaksi bisnis dengan rupiah harus 
berpacu dengan inflasi, kecepatan ekspansi moneter rupiah.

Semoga anda beruntung........

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke