Saya fikir pertumbuhan 5 % walaupun bung merza telah jelaskan tidak realistis, 
namun menurut saya cukup berbeda " tidak ada yang tidak mungkin", "Imposible is 
nothing". pertumbuhan diangka 5 % bisa ditembus seperti yang anda utarakan 
bahwa :
  1. Office channeling (OC) : bisa dilakukan dengan efektif apalagi OC yang 
diperluas dimana OC bisa melakukan lending sehingga tidak semata-mata hanya 
funding.
  2. Aksi penerbitan sukuk apabila telah disahkan UU tahun ini, dan penerbitan 
Obligasi yang tentu saja akan memperkuat struktur permodalan.
  3. Aksi sindikasi bagi  Bank syariah yang tidak kuat modalnya harus bisa 
melakukan sindikasi sesama perbankan syariah.
  4. Bank syariah harus lebih aktiflagi menjaring dana-dana timur tengah 
terutama bagi CEO-CEO perbankan syariah coba bayangkan citigroup dan meriil 
lynch aja dapat  injeksi oleh investor Kuwait dan menggunakan skim sukuk dan 
musyarakah.
  5. Produk pendanaan yang lebih kreatif sehingga dapat menjaring dana-dana 
korporate dan ritel, jika di pasar modal saja hot money mengguyur capital 
market kita, maka seharusnya kita bisa membuat produk-produk tersebut.
   JIka anda analisa pertumbuhan perbankan syariah mencapai Rp. 50 T, kalau 
saya agak sedikit berbeda dengan bung merza saya analisa berkisar diangka Rp. 
55 T - Rp. 90 T.
  Insya allah bisa tercapai memang tidak diangka 5 % tapi paling tidak 
mendekati 5 % diangka 3.8 % - 4. 8 % itu menurut saya, tapi saya yakin para 
pejuang-pejuang perbankan syariah kita bisa melakukan itu " La takhuf Wa la 
tahzan In nallah ma ana (Jangan Takut dan Khawatir Allah Beserta Kita)"
   
  Wassalam 
   
  zulfikar
  http://zulfikargroup.blogspot.com
   
  
Merza Gamal <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
            Sejak keluarnya Undang-Undang Nomor 10 tahun 1998, perkembangan 
Lembaga Bank Syariah cukup pesat, yang selama 7 tahun hanya diisi oleh satu 
pemain, yakni Bank Muamalat Indonesia. Perkembangan tersebut, dimulai dengan 
berdirinya Bank Syariah Mandiri yang merupakan anak perusahaan Bank Mandiri dan 
kemudian diikuti oleh berbagai bank yang Kantor Cabang Syariah, bahkan sebuah 
Bank Asing Global telah membuka Unit Syariah di Indonesia, yakni Hongkong 
Shanghai Bank Corp. (HSBC). Hingga akhir triwulan III-2007, terdapat 3 Bank 
Umum Syariah dan 25 Unit Usaha Syariah. Di samping itu, telah tercatat pula di 
Bank Indonesia sebanyak 109 lembaga Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS), 
serta lebih dari 3.000 lembaga Baitul Maal wat Tamwil (BMT) sebagai salah satu 
alternatif lembaga keuangan syariah mikro. Seiring dengan pertumbuhan lembaga 
perbankan syariah, lembaga keuangan lain berbasis syariah berkembang pula, 
seperti berbagai asuransi, termasuk asuransi asing (yakni Great
 Eastern, Prudencial, Alianz, dan MAA), penggadaian, reksa dana Syariah, serta 
berbagai perusahaan besar mengeluarkan obligasi Syariah guna mencari dana bagi 
usaha mereka.
  
  Setelah diakomodasinya Bank Syariah pada Undang-Undang Perbankan No. 10/1998, 
maka dari tahun 2000 hingga tahun 2004, dapat dirasakan pertumbuhan Bank 
Syariah cukup tinggi, rata-rata lebih dari 50% setiap tahunnya. Bahkan pada 
tahun 2003 dan 2004, pertumbuhan Bank Syariah melebihi 90% dari tahun-tahun 
sebelumnya. Akan tetapi, pada tahun 2005 dan 2006, dirasakan ada perlambatan, 
meskipun tetap tumbuh sebesar 37% dan 28%. Akan tetapi, walaupun dirasakan 
pertumbuhan Bank Syariah di Indonesia melambat, sebenarnya pertumbuhan sebesar 
itu merupakan prestasi yang cukup baik. Perlu disadari, bahwa di tengah tekanan 
yang cukup berat terhadap stabilitas makroekonomi secara umum dan perbankan 
secara khusus, kondisi industri perbankan syariah tetap memperlihatkan 
peningkatan kinerja yang relatif baik. Di samping itu, dapat pula dipahami, 
bahwa meskipun share bank syariah pada saat ini (per November 2007) baru 
1,756%, namun hal tersebut telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa
 dibandingkan share pada tahun 1999 yang hanya 0,11%. 
  
  Untuk mempercepat pertumbuhan perbankan Syariah, Bank Indonesia mencanangkan 
program akselerasi perbankan Syariah untuk mencapai pangsa 5,25% pada akhir 
2008 (proyeksi aset Rp 91,6 trilyun, DPK Rp 73,3 trilyun, dan pembiayaan Rp 
68,9 trilyun). Berdasarkan outstanding perbankan syariah per November 2007 
(asset Rp 33,288 trilyun, DPK Rp 25,658 trilyun, pembiayaan Rp 26,548 trilyun), 
maka pencapaian akselerasi asset perbankan syariah mencapai Rp 91,6 trilyun 
atau menjadi 275% dalam satu tahun adalah sebuah perjuangan besar bagi semua 
pelaku perbankan syariah. Dengan demikian setiap bank harus bisa membuat 
strategi bisnis agar dapat berkontribusi positif dalam program akselerasi BI 
dan siap menghadapi persaingan yang semakin ketat di antara pelaku perbankan 
syariah, baik pemain lama maupun baru.
  
  Sebagai respon dari program akselerasi bank Syariah yang dicanangkan Bank 
Indonesia, beberapa bank menyusun beberapa rencana corporate action di tahun 
2008, antara lain adalah:
    
   Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengakuisisi Bank Jasa Artha menjadi BUS (Bank 
Umum Syariah) dan spin off UUS (Unit Usaha Syariah) digabungkan ke dalam BUS 
baru dengan penambahan modal awal sebesar Rp500M dari Rp1T yang akan 
ditempatkan, serta akan mengkorversi sekitar 1.000 BRI Unit  menjadi outlet 
syariah;  
   Bank Negara Indonesia (BNI) akan memperbesar UUS dengan menambah modal 
sebesar Rp300M dan bekerjasama dengan ICD (anak perusahaan IDB) untuk membuka 
BUS baru dengan cara mengakuisisi bank kecil dengan investasi sebesar Rp 100 
milyar atau mendirikan bank baru dengan modal Rp 1 trilyun, sehingga BNI akan 
memiliki dua bank syariah terdiri atas UUS dan BUS;  
   Bank Bukopin membeli saham dan aset kredit Bank Persyarikatan untuk 
selanjutnya dikonversi menjadi BUS dengan tambahan dana sekitar Rp250M;  
   Bank Panin mengakuisisi Bank Harfa untuk selanjutnya dikonversi menjadi BUS 
dengan dana sekitar Rp200M;  
   Bank Victoria Internasional mengakuisisi Bank Swaguna untuk selanjutnya 
dikonversi menjadi BUS dengan dana sekitar Rp200M;  
   Bank Central Asia (BCA) akan mengakuisisi 2 bank untuk dijadikan wealth 
management bank dan BUS (dengan dana sekitar Rp200M);  
   Bank Jabar akan mengakuisisi sebuah bank yang selanjutnya dikonversi menjadi 
BUS dengan dana sekitar Rp500M;  
   Beberapa BPD (Bank Pembangunan Daerah) yang masih belum memiliki UUS segera 
membuka networking syariah;  
   Beberapa bank konvensional domestik maupun internasional akan membuka UUS, 
antara lain, Bank Century, NISP, BTPN, Standard Chartered Bank (SCB), ABN-Amro, 
Citibank, dll (disamping Bank Ekspor Indonesia dan Lippo Bank yang telah 
membuka UUS pada trwulan terakhir 2007);  
   Beberapa Bank Syariah baik yang sudah eksis maupun yang segera berdiri akan 
mengembangkan wealth management berbasis syariah, seperti HSBC Amanah, SCB, 
Citibank, BII, dan BCA.
  
  Berdasarkan hasil kajian penulis sesuai dengan rencana corporate action yang 
di launching di media masa baik dari pemain lama maupun pemain baru, asset 
perbankan syariah sesuai program akselerasi Bank Indonesia sebesar Rp 91,6 
trilyun masih sulit untuk dipenuhi. Apabila rencana-rencana yang telah 
disampaikan oleh para pelaku eksisting maupun muka baru dapat dicapai secara 
optimal, maka diperkirakan asset yang dicapai berjumlah sekitar Rp 68,7 
trilyun. Akan tetapi, semua rencana yang telah dikemukakan tersebut rasanya 
tidak serta merta akan terlaksana pada tahun 2008. Sebagai contoh, rencana BRI 
untuk spin off  UUS menjadi BUS dan rencana Bank Bukopin untuk mengkonversi 
Bank Persyarikatan menjadi BUS dari awal tahun 2007 telah dilansir di media 
masa, namun hingga pertengahan Januari 2008 kedua rencana tersebut masih belum 
terealisir. Dengan demikian, berdasarkan perhitungan moderat sesuai 
rencana-rencana yang telah dikemukakan, asset yang dapat dicapai tidak akan 
lebih
 dari Rp 50 milyar pada akhir tahun 2008.
  
  Untuk mecapai angka akselerasi yang dicanangkan Bank Indonesia, rasanya jika 
hanya mengandalkan pertumbuhan organik bank syariah semata akan sulit 
terealisasi. Oleh karena itu, pendapat-pendapat yang mengemukakan bahwa 
perlunya sebuah bank BUMN untuk dikonversi menjadi bank Syariah, merupakan 
suatu hal mungkin untuk diwujudkan. Kebijakan single presence yang dikeluarkan 
Bank Indonesia dalam kepemilikan bank di Indonesia dapat mendukung terwujudnya 
salah satu bank yang dimiliki pemerintah menjadi bank dengan segmen khusus.
  
  Dalam rangka program akselerasi, sesuai kajian Direktorat Perbankan Syariah 
Bank Indonesia pada “Outlook Perbankan Syariah 2008” profil strategi penetrasi 
pasar perbankan syariah dapat digambarkan sebagai berikut:
  1.      Kebijakan office channeling yang membuka kesempatan menawarkan 
layanan syariah pada cabang bank konvensional sangat mendukung penetrasi 
perbankan syariah melalui peningkatan aksebilitas bagi masyarakat untuk 
mendapat layanan Syariah, namun kesempatan tersebut belum dimanfaatkan secara 
maksimal;
  2.      Strategi komunikasi masih bersifat segmented yang mengakibatkan 
pertumbuhan jumlah rekening cenderung melambat karena segmen pasar mulai jenuh, 
sehingga perlu dilakukan penyesuaian terhadap strategi komunikasi;
  3.     Aktivitas promosi perbankan Syariah sangat kurang yang mengakibatkan 
ekspansi outlet layanan dan pengembangan berbagai produk tidak begitu dirasakan 
oleh masyarakat luas;
  4.      Inovasi produk belum mendorong pengembangan pasar karena masih 
sebatas meniru produk-produk sejenis yang telah diterima masyarakat dari bank 
konvensional, sehingga produk yang dikembangkan tidak menunjukkan diferensiasi 
yang jelas dari produk bank konvensional;
  5.     Pengembangan pasar untuk segmen korporasi belum maksimal sehingga 
penambahan jumlah kepemilikan rekening tidak disertai dengan peningkatan 
nominal sebagaimana tercermin dalam perkembangan rasio antara nominal dengan 
jumlah rekening yang cenderung stagnan bahkan menurun.
  
  Berdasarkan proposisi Bank Indonesia tersebut, apabila strategi penetrasi 
pasar para pelaku perbankan syariah tidak diperbaiki, maka akselerasi 
pertumbuhan yang diharapkan akan sulit terwujud. Hal-hal yang masih menjadi 
kendala dalam strategi penetrasi pasar perbankan syariah secara optimal 
dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:
    
   Para investor belum sepenuhnya yakin apakah bisnis bank syariah memang 
benar-benar suatu hal yang menguntungkan;   
   Sumber Daya Manusia yang kompeten dan professional dalam perbankan syariah 
masih belum optimal;  
   Pemahaman masyarakat terhadap bank syariah sudah cukup baik, namun minat 
untuk menggunakannya masih kurang;  
   Sinkronisasi kebijakan dengan institusi pemerintah lainnya berkaitan dengan 
transaksi keuangan, seperti kebijakan pajak dan aspek legal belum maksimal;  
   Fluktuasi suku bunga masih berpengaruh terhadap loyalitas nasabah syariah;  
   Fungsi sosial Bank Syariah dalam memfasilitasi keterkaitan antara voluntary 
sector dengan pemberdayaan ekonomi marginal masih belum optimal.
  Dengan demikian, pemenuhan asset perbankan syariah minimal Rp 91,6 trilyun 
dalam rangka mencapai akselerasi pertumbuhan perbankan syariah sehingga 
mempunyai pangsa 5,25% pada akhir tahun 2008 memiliki tantangan yang cukup 
berat. Namun demikian, prospek perbankan syariah, sebagai bagian dari aplikasi 
ekonomi syariah, sebenarnya cukup menjanjikan di masa depan. Hal itu, 
disebabkan adanya kesadaran sebagian masyarakat, terutama yang berpendidikan 
tinggi untuk menjalankan kehidupan sosial ekonomi tanpa meninggalkan 
nilai-nilai Islam. Namun kondisi tersebut harus diantisipasi dengan kesiapan 
sarana dan prasarana guna mendukung berkembangnya sistem perekonomian syariah 
secara optimal di masa depan. Sarana dan prasarana tersebut, tidak hanya 
bersifat material, tetapi juga non material. Di samping itu diperlukan pula 
pengembangan sistem pendidikan yang mengakomodasikan kebutuhan tersebut, 
sehingga tercipta sumber daya manusia yang memiliki kemampuan dalam membangun 
dan
 mengembangkan ekonomi syariah di masa depan. Apabila hal tersebut tidak 
diantisipasi dengan baik, maka akselerasi perbankan syariah akan kehilangan 
momentum. 
  
  
  Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)


Berminat kontribusi dalam kajian sosial ekonomi islami?????
Silahkan klik http://asia.groups.yahoo.com/group/ekonomi-islami/    
---------------------------------
  Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.   

                         

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke