SANGAT MEMBANGUN SEKALI  STATEMENT ANDA PAK ...!!!!!! andai semua birokrat 
seperti bapak ...pasti indonesia tercinta akan selamat dan sejahtera ....... 
 
hal yang seperti bapak sebutkan sudah amat sangat layak dituangkan dalam bentuk 
GERAKAN NASIONAL ....!!!!!!.........
 
mungkin sebagai trigger di Kebon Sirih bisa dibikin pasar kaget or bazar ya pak 
.....hehehehe ........

--- On Sun, 11/16/08, ali sakti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: ali sakti <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [ekonomi-syariah] Solusi Krisis: Mari belanja!
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]
Date: Sunday, November 16, 2008, 10:52 PM






Solusi Krisis: Mari Belanja!
 
Pertemuan G-20 yang disebut-sebut sebagai “The Bretton Woods II” sudah selesai, 
rekomendasi sudah dapat ditebak, yang disepakati adalah pengetatan regulasi dan 
penciptaan lingkungan yang lebih baik bagi kebijakan pengetatan. Yang pasti,  
industri keuangan menjadi industri yang semakin banyak regulasinya. Tetapi 
ibarat praktek judi yang meng-entertain kerakusan, dapatkah regulasi-regulasi 
itu menjinakkan prilaku rakus penjudi dan kemudian membawa pengaruh positif 
bagi ekonomi? Regulasi secanggih apa yang bisa mencegah kerakusan kecuali 
pelarangan?
 
Dari rekomendasi itu, terjawab sudah pertanyaan “apakah akan ada perubahan 
dramatis di dunia keuangan dunia?” Tidak ada yang berubah kecuali dunia 
keuangan semakin panjang list ketentuannya. Tidak ada yang berubah dengan wajah 
aplikasi, warna kebijakan, rezim nilai tukar dari dunia keuangan 
internasional.  Dengan kepentingan proteksi ekonomi domestik sebagai respon 
umum terhadap krisis keuangan, masing-masing negara peserta meeting tersebut 
(terlebih lagi bagi negara non G-20) tentu memiliki interpretasi dan 
implementasi berbeda atas rekomendasi yang dihasilkan. Jika tidak diikuti 
koordinasi lanjutan, dikhawatirkan G-20 meeting akan menjadi sia-sia, dan 
bahkan tidak akan membendung krisis global ini untuk terus menuju dasarnya 
(bottom of the crisis) yang jauh lebih dalam dari perkiraan semula.
 
Dalam keadaan seperti ini, lumrah jika semua ekonom “menyanyikan lagu” 
rekomendasi yang sama, yaitu perkuat ekonomi domestik! Longgarkan fiskal untuk 
aktifitas ekonomi dalam negeri! Cegah capital outflow melalui kebijakan fiskal 
dan moneter yang satu nada! Lagu itu memang harus dinyanyikan bersama, oleh 
semua komponen ekonomi tanah air. Tetapi bagaimana dengan rekomendasi dari 
sudut pandang ekonomi Islam?
 
Mungkin nada dan iramanya sama tapi boleh jadi “liriknya” berbeda untuk solusi 
yang direkomendasikan oleh ekonomi Islam. Ekonomi domestik memang harus 
diperkuat, tetapi mungkin dapat dilakukan dengan menggeliatkan perekonomian 
mikro yang memang sampai saat ini jauh dari angka normal atau bahkan 
maksimalnya. Logikanya sederhana, populasi penduduk Indonesia begitu besar 
golongan penduduk miskinnya. Tentu mereka memiliki kontribusi konsumsi yang 
kecil bagi ekonomi. Sementara untuk meningkatkan volume ekonomi domestik 
dibutuhkan agregat konsumsi ekstra untuk menjaga kegiatan produksi dan 
merangsang kegiatan baru (yang pasar luar negerinya sedang tiarap).
 
Golongan masyarakat miskin yang begitu besar merupakan modal krusial untuk 
meningkatkan konsumsi agregat. Ingat uang ditangan orang miskin itu lebih 
efektif menjadi konsumsi daripada uang tersebut berada ditangan orang kaya. 
Sehingga, Upaya memberikan kemampuan beli kepada mereka dan program peningkatan 
status mereka menjadi pemain pasar yang aktif mutlak dilakukan. Nah, disinalah 
ekonomi Islam mampu melakukan tugasnya. Rekomendasinya mungkin menjadi seperti 
ini:
a.       Kepada saudara-saudara yang diberikan lebih rizki berupa harta, 
berkonsumsilah, keluarkan uang anda untuk pasar, dan bentuk mengeluarkan uang 
yang paling baik bagi ekonomi adalah INFAK dan SEDEKAH. Namun tentu terlebih 
dahulu jangan lalaikan kewajiban ZAKAT anda. Jika tidak, investasikan uang anda 
pada usaha-usaha bisnis yang memang prospeknya baik. Jangan ragu, jangan tahan 
uang anda hanya karena tidak mau merugi. Yakinlah dengan cara-cara seperti ini, 
akhirnya uang anda akan aman karena masyarakat miskin dengan kesibukannya di 
ekonomi akan mengeliminasi potensi mereka menjadi pemain kriminal.
b.      Kepada semua saudara yang berkonsumsi, berkonsumsilah di pasar 
tradisional, karena jumlah pelaku pasar disana besar dan multiplier efek bagi 
transaksi ekonomi selanjutnya jauh lebih besar. Karena memang pasar tradisional 
pula yang aksesnya dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat baik kaya 
dan miskin, baik menjadi pembeli maupun penjual.
c.       Kepada pemerintah pusat, daerah, kabupaten atau bahkan lurah, kenali 
para warga kaya dan miskin, lancarkan dana-dana sosial antara mereka, yang pada 
akhirnya membesarnya daya beli masyarakat miskin. Tetapi ikuti pula dengan 
program pemberdayaan masyarakat miskin tersebut, seperti program pembangunan 
infrastruktur desa, kelurahan, atau diwilayah yang lebih tinggi.
d.      Kepada pemerintah pusat, daerah, kabupaten atau bahkan lurah, buka 
peluang pembentukan pasar seluas-luasnya di lapangan-lapangan, lorong desa, 
alun-alun kota, perumahan-perumahan dan tempat-tempat yang strategis. Dengan 
pengelolaan profesional tentu saja, pasar dapat berupa pasar-pasar malam, pasar 
kaget, pasar week-end morning selanjutnya bahkan ia bisa berkembang menjadi 
tempat-tempat wisata malam bagi penduduk lokal.
e.      Kepada semuanya, ingat, jantung ekonomi adalah pasar, maka upaya 
memperlancar dan merangsang aktifitas pasar adalah hal yang terbaik dalam 
situasi pasar yang semakin mengkerut akibat aliran kredit yang semakin 
mengering. Dan mari “belanja!” belanja untuk kebutuhan pokok atau belanja 
kebajikan dengan perbanyak infak dan tingkatkan sedekah.
 
wassalam
ali sakti
www.abiaqsa. blogspot. com

 














      

Kirim email ke