Hmmm... saya ikutan sepakat... kita bikin gerakan nasional zakat, infaq dan 
shodaqoh juga belanja di pasar tradisional, biarpun becek2 karena lagi musim 
ujan gini yang penting kita masih bisa nawar... hehe....

FARIZAL ALBONCELLI  In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum
  Blog: alboncelli.multiply.com, FS: [EMAIL PROTECTED]
Mobile : 0856 9171 4916, 0812 1850 4728, 021 950 42948

--- On Sun, 11/16/08, Rangga Lesmana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: Rangga Lesmana <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Solusi Krisis: Mari belanja!
To: [email protected]
Date: Sunday, November 16, 2008, 11:31 PM










    
             
SANGAT MEMBANGUN SEKALI  STATEMENT ANDA PAK ...!!!!!! andai semua birokrat 
seperti bapak ...pasti indonesia tercinta akan selamat dan sejahtera ....... 
 
hal yang seperti bapak sebutkan sudah amat sangat layak dituangkan dalam bentuk 
GERAKAN NASIONAL ....!!!!!!.. .......
 
mungkin sebagai trigger di Kebon Sirih bisa dibikin pasar kaget or bazar ya pak 
.....hehehehe ........

--- On Sun, 11/16/08, ali sakti <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

From: ali sakti <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: [ekonomi-syariah] Solusi Krisis: Mari belanja!
To: ekonomi-syariah@ yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED] .com
Date: Sunday, November 16, 2008, 10:52 PM




Solusi Krisis: Mari Belanja!
 
Pertemuan G-20 yang disebut-sebut sebagai “The Bretton Woods II” sudah selesai, 
rekomendasi sudah dapat ditebak, yang disepakati adalah pengetatan regulasi dan 
penciptaan lingkungan yang lebih baik bagi kebijakan pengetatan. Yang pasti,  
industri keuangan menjadi industri yang semakin banyak regulasinya. Tetapi 
ibarat praktek judi yang meng-entertain kerakusan, dapatkah regulasi-regulasi 
itu menjinakkan prilaku rakus penjudi dan kemudian membawa pengaruh positif 
bagi ekonomi? Regulasi secanggih apa yang bisa mencegah kerakusan kecuali 
pelarangan?
 
Dari rekomendasi itu, terjawab sudah pertanyaan “apakah akan ada perubahan 
dramatis di dunia keuangan dunia?” Tidak ada yang berubah kecuali dunia 
keuangan semakin panjang list ketentuannya. Tidak ada yang berubah dengan wajah 
aplikasi, warna kebijakan, rezim nilai tukar dari dunia keuangan 
internasional.  Dengan kepentingan
 proteksi ekonomi domestik sebagai respon umum terhadap krisis keuangan, 
masing-masing negara peserta meeting tersebut (terlebih lagi bagi negara non 
G-20) tentu memiliki interpretasi dan implementasi berbeda atas rekomendasi 
yang dihasilkan. Jika tidak diikuti koordinasi lanjutan, dikhawatirkan G-20 
meeting akan menjadi sia-sia, dan bahkan tidak akan membendung krisis global 
ini untuk terus menuju dasarnya (bottom of the crisis) yang jauh lebih dalam 
dari perkiraan semula.
 
Dalam keadaan seperti ini, lumrah jika semua ekonom “menyanyikan lagu” 
rekomendasi yang sama, yaitu perkuat ekonomi domestik! Longgarkan fiskal untuk 
aktifitas ekonomi dalam negeri! Cegah capital outflow melalui kebijakan fiskal 
dan moneter yang satu nada! Lagu itu memang harus dinyanyikan bersama, oleh 
semua komponen ekonomi tanah air. Tetapi bagaimana dengan rekomendasi dari 
sudut pandang ekonomi Islam?
 
Mungkin nada dan iramanya sama tapi boleh jadi
 “liriknya” berbeda untuk solusi yang direkomendasikan oleh ekonomi Islam. 
Ekonomi domestik memang harus diperkuat, tetapi mungkin dapat dilakukan dengan 
menggeliatkan perekonomian mikro yang memang sampai saat ini jauh dari angka 
normal atau bahkan maksimalnya. Logikanya sederhana, populasi penduduk 
Indonesia begitu besar golongan penduduk miskinnya. Tentu mereka memiliki 
kontribusi konsumsi yang kecil bagi ekonomi. Sementara untuk meningkatkan 
volume ekonomi domestik dibutuhkan agregat konsumsi ekstra untuk menjaga 
kegiatan produksi dan merangsang kegiatan baru (yang pasar luar negerinya 
sedang tiarap).
 
Golongan masyarakat miskin yang begitu besar merupakan modal krusial untuk 
meningkatkan konsumsi agregat. Ingat uang ditangan orang miskin itu lebih 
efektif menjadi konsumsi daripada uang tersebut berada ditangan orang kaya. 
Sehingga, Upaya memberikan kemampuan beli kepada mereka dan program peningkatan 
status mereka menjadi pemain
 pasar yang aktif mutlak dilakukan. Nah, disinalah ekonomi Islam mampu 
melakukan tugasnya. Rekomendasinya mungkin menjadi seperti ini:
a.       Kepada saudara-saudara yang diberikan lebih rizki berupa harta, 
berkonsumsilah, keluarkan uang anda untuk pasar, dan bentuk mengeluarkan uang 
yang paling baik bagi ekonomi adalah INFAK dan SEDEKAH. Namun tentu terlebih 
dahulu jangan lalaikan kewajiban ZAKAT anda. Jika tidak, investasikan uang anda 
pada usaha-usaha bisnis yang memang prospeknya baik. Jangan ragu, jangan tahan 
uang anda hanya karena tidak mau merugi. Yakinlah dengan cara-cara seperti ini, 
akhirnya uang anda akan aman karena masyarakat miskin dengan kesibukannya di 
ekonomi akan mengeliminasi potensi mereka menjadi pemain kriminal.
b.      Kepada semua saudara yang berkonsumsi, berkonsumsilah di pasar 
tradisional, karena jumlah pelaku pasar disana besar dan multiplier efek bagi 
transaksi
 ekonomi selanjutnya jauh lebih besar. Karena memang pasar tradisional pula 
yang aksesnya dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat baik kaya dan 
miskin, baik menjadi pembeli maupun penjual.
c.       Kepada pemerintah pusat, daerah, kabupaten atau bahkan lurah, kenali 
para warga kaya dan miskin, lancarkan dana-dana sosial antara mereka, yang pada 
akhirnya membesarnya daya beli masyarakat miskin. Tetapi ikuti pula dengan 
program pemberdayaan masyarakat miskin tersebut, seperti program pembangunan 
infrastruktur desa, kelurahan, atau diwilayah yang lebih tinggi.
d.      Kepada pemerintah pusat, daerah, kabupaten atau bahkan lurah, buka 
peluang pembentukan pasar seluas-luasnya di lapangan-lapangan, lorong desa, 
alun-alun kota, perumahan-perumahan dan tempat-tempat yang strategis. Dengan 
pengelolaan profesional tentu saja, pasar dapat berupa pasar-pasar malam, pasar 
kaget, pasar week-end
 morning selanjutnya bahkan ia bisa berkembang menjadi tempat-tempat wisata 
malam bagi penduduk lokal.
e.      Kepada semuanya, ingat, jantung ekonomi adalah pasar, maka upaya 
memperlancar dan merangsang aktifitas pasar adalah hal yang terbaik dalam 
situasi pasar yang semakin mengkerut akibat aliran kredit yang semakin 
mengering. Dan mari “belanja!” belanja untuk kebutuhan pokok atau belanja 
kebajikan dengan perbanyak infak dan tingkatkan sedekah.
 
wassalam
ali sakti
www.abiaqsa. blogspot. com






      
      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke