Subhanallah..ini kisah nyata yang luar biasa..Semoga dapat menambah keyakinan para pelaku bisnis bahwa kita harus istiqomah dengan jalan yang lurus. Di tengah-tengah gemerlapnya dunia dan penghargaan kepada yang namanya uang, kita kesulitan mencari pelajaran dari kisah-kisah seperti ini.
Wassalam, Fajar Nindyo http://pojokasuransi.com/blog/ > > Harta Yang Berkah > > Oleh: > Dr. Amir Faishol Fath > Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda, "Sesungguhnya Allah > Maha baik, dan tidak menerima kecuali yang baikĀ " (HR. Bukhari > Muslim). > > Harta yang berkah adalah harta yang disenangi Allah. Ia tidak harus > banyak. Sedikit tapi berkah lebih baik dari pada yang banyak tetapi > tidak berkah. Untuk mendapatkan keberkahan harta harus halal. Karena > Allah tidak mungkin memberkahi harta yang haram. Dalam surat Al Maidah > : 100 Allah menjelaskan bahwa tidak sama kwalitas harta haram dengan > harta halal, sekalipun harta yang haram begitu menkajubkan banyaknya. > Benar, harta haram tidak akan pernah sama dengan harta halal. Harta > haram dalam ayat di atas, Allah sebut dengan istilah khabits. Kata > khabits menunjukkan sesuatu yang menjijikkan, seperti kotoran atau > bangkai yang busuk dan tidak pantas untuk dikonsumsi karena akan > merusak tubuh: secara fisik maupun mental. Sementara harta halal > disebut dengan istilah thayyib, artinya baik, menyenangkan dan sangat > membantu kesehatan fisik dan mental jika dikonsumsi. > > Harta haram apapun bentuknya: hasil mencuri, merampok, menipu, korupsi, > illegal loging dan lain sebaginya, hanya akan menuntun pemiliknya untuk > menjadi rakus dan kejam. Seorang yang terbiasa mengkonsumsi harta haram > jiwanya akan meronta-ronta. Merasa tidak tenang, tanpa diketahui > sebabnya. Kegelisahan demi kegelisahan akan terus menyeretnya ke lembah > yang semakin jauh dari Allah. Lama kelamaan ia tidak merasa lagi > berdosa dengan kemaksiatan. Berkata bohong menjadi akhlaknya. Ia merasa > tidak enak kalau tidak berbuat keji. Karenanya tidak mungkin harta > haram -sedikit apalagi banyak- mengandung keberkahan. Allah sangat > membenci harta haram dan pelakunya. Seorang yang terbiasa menikmati > harta haram doanya tidak akan Allah terima: Rasulullah SAW pernah > menceritakan bahwa ada seorang musafir, rambutnya kusut, pakaiannya > kumal, menadahkan tangannya ke langit, memohon: yaa rabbi yaa rabbi, > sementara pakaian dan makanannya haram, mana mungkin doanya diterima > (HR. Muslim) > > Bukan hanya doanya yang ditolak, sedekahnya pun Allah tolak. Ibn Hibban > meriwayatkan Rasulullah bersabda: "Orang yang mendapatkan hartanya > dengan cara haram, lalu ia bersedekah dengannya, ia tidak akan mendapat > pahala dan dosanya tetap harus ia tanggung". Imam Adz Dzahaby > menambahkan dalam riwayat lain: "Bahwa harta tersebut kelak akan > dikumpulkan lalu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam". Maka tidak ada > jalan lain untuk meraih keberkahan kecuali hanya dengan merebut harta > halal sekalipun sedikit dan nampak tidak berarti. > > Ciri utama harta yang berkah adalah jika ia selalu membuat pemiliknya > semakin dekat kepada Allah SWT: > > a. Menambah ketakwaan > > Katakanlah:"Tidak sama yang buruk (harta yang haram) dengan yang baik > (harta halal), meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka > bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat > keberuntungan" (QS.5:100). > > Perhatikan dalam ayat ini, setelah Allah menegaskan pentingnya kwalitas > harta halal, Ia lalu memrintahkan, untuuk bertakwa, suatu indikasi > bahwa tidak mungkin harta haram akan membantu mencapai ketakwaan. > > b. Memberikan rasa aman > > dalam surat Ibrahim: 24-26, Allah mengumpamakan setiap kebaikan > (kalimatun tayyibah) termasuk di dalamnya harta halal dengan sebuah > pohon yang kokoh, akarnya menghunjma ke bumi, cabangnya menjulang ke > langit, memberikan buahnya setiap saat. Sebaliknya setiap keburukan > (kalimatun khabitsah) termasuk harta haram, akan menjadi seperti pohon > yang goyah, akarnya hanya melingkar dipermukaan bumi, tidak berbuah > serta tidak memberikan rasa aman bagi siapa saja yang berteduh > dibawahnya. > > c. Mengantarkan kapada amal shaleh > > Hai para rasul, makanlah yang baik-baik (halal), dan kerjakanlah amal > yang saleh (QS, 23:51). Perhatikan hubungan harta halal dengan amal > saleh. > > d. Mendorong untuk bersyukur > > Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik > yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah. Di sini > tergambar bahwa hanya harta halal yang bisa membuat seorang hamba padai > bersyukur. Wallahu alam bishshawab. (sumber: www.alhikmah.ac.id) > > > ______________________________ Kasus Nyata: Aku Ingin > Bersedekah > Di Bontang, Kalimantan Timur ada sebuah perusahaan kaya raya dengan > fasilitas yang luar biasa bagi karyawannya. Penghasilan para pegawainya > berlipat-lipat dibanding dengan perusahaan swasta maupun nasional > lainnya. Tunjangan berupa rumah, mobil, pendidikan anak bahkan makan pun > diberikan. Beberapa kali saya berkunjung ke sana maka saya hanya > berkomentar, "Betapa beruntungnya mereka yang tinggal dan bekerja di > tempat ini!" Mereka hidup di sebuah komplek yang terisolir dari dunia > Bontang. Pagar-pagar mereka kokoh berdiri dan lengkap dengan petugas > keamanan yang membuat komplek perumahan itu terisolir dari dunia luar. > Penghasilan besar yang mereka dapat, -mungkin sebab sulit untuk > mendapatkan mustahik-, maka kewajiban zakat dan sedekah pun barangkali > tak tersalurkan. Namun meski demikian hal yang menjadi hak Allah adalah > tetap menjadi hak-Nya. Di mana suatu saat Dia pun akan menagihnya. > Kira-kira 17 tahun yang lalu Reni hamil untuk pertama kali. Allah Swt > menakdirkan bahwa Reni keguguran. Maka dari Bontang, ia pun diantar oleh > suaminya pergi ke Balikpapan dengan pesawat untuk berobat ke seorang > dokter terkenal di sana bernama Yusfa. Akhirnya Reni dikuret rahimnya. > > Sepulangnya dari Balikpapan, Reni mendapati dari qubulnya selalu keluar > darah dalam jumlah banyak. Bahkan lebih banyak dari menstruasi rutin. > Apalagi bila ia bangun tidur, ia dapati kasur dan sprei selalu > bersimbah darah. Ia panik dan kalut mengatasi hal ini. Maka ia pun > kembali lagi ke Balikpapan bersama suaminya untuk berobat ke dokter > Yusfa. > > Sayangnya sang dokter tidak mengerti sebab pendarahan hebat ini. Maka > yang terjadi adalah kali itu Reni dikuret lagi. Sakit dan perih, itulah > yang dirasakan Reni! > > Namun pendarahan itu masih tetap saja terjadi, padahal hampir setiap dua > hari sekali Reni dan suami terbang Bontang-Balikpapan untuk > mengkonsultasikan penyebab pendarahan ini. Namun tindakan yang diambil > oleh dokter Yusfa hanyalah mengkuret rahim Reni. Reni dan suami hanya > bisa pasrah dan berharap pertolongan Allah Swt atas musibah ini. > > Kejadian ini berlangsung cukup lama. Hingga tubuh Reni bertambah > ringkih, rumah tangga tak terurus, uang tabungan terkuras dan suami > tidak bisa bekerja tenang sebab harus sibuk mengurusi Reni. Sepertinya > ada sebuah cobaan besar yang sedang Allah Swt timpakan kepada Reni dan > suaminya. > > Reni & suami terus berdoa kepada Allah Swt agar diberi jalan keluar dari > masalah ini. > > Hingga akhirnya Allah Swt pun mendengar dan mengijabah doa mereka > > Hari itu Reni dan suami hendak terbang ke Balikpapan untuk berkonsultasi > dengan dokter Yusfa. Namun ada suara hati yang berbisik pada diri Reni. > Ia bawa sejumlah uang dalam jumlah besar. Uang itu bukan ia niatkan > untuk bayar biaya pengobatan, akan tetapi ada sebuah cita-cita mulia di > sana yang ingin ia wujudkan. Cita-cita itu adalah, "AKU INGIN > BERSEDEKAH!" Sejumlah uang itu pun ia masukkan ke dalam tas tangan yang > Reni bawa. > > Pesawat telah membawa Reni dan suaminya pergi menuju Balikpapan. > Setibanya di bandara Sepinggan, Balikpapan Reni berjalan tertatih > dipapah oleh sang suami. Dengan susah payah, Reni pun akhirnya tiba di > dalam ruang bandara. Di dalam hati Reni berdoa kepada Tuhannya, "Ya > Allah, datangkan untukku seorang pengemis yang bisa menerima sedekahku. > Izinkan aku untuk bersedekah di hari ini!" > > Keinginan untuk bersedekah itu membuncah lagi di hati Reni. Sungguh ia > amat berharap untuk bisa bersedekah kali itu. > > Pintu keluar bandara sudah dilalui oleh Reni dan suami. Subhanallah, > tiba-tiba ada seorang pria berpakaian lusuh menyapa Reni dan menjulurkan > tangan tanda minta sedekah. Reni bergembira dan yakin bahwa inilah > ijabah doa dari Allah Swt. Tanpa banyak berpikir, ia merogoh tas > tangannya. Sejumlah uang yang sudah disiapkan ia berikan ke tangan > pengemis itu. Maka pengemis dan suami Reni melongo melihat jumlah uang > yang Reni sedekahkan. Reni pun melanjutkan langkahnya bersama suami dan > kemudian mereka masuk ke dalam sebuah taksi untuk pergi ke rumah sakit > tempat dokter Yusfa berpraktek. > > "Untuk apa uang sebanyak itu kau sedekahkan?!" tanya sang suami. Reni > menjawab dengan yakin, "Boleh jadi dengan sedekah itu Allah Swt > menyembuhkan penyakitku, Pa!" Mendapati jawaban seperti itu suami Reni > tidak banyak mendebat. Memang di saat-saat seperti ini, hanya > pertolongan Allah saja yang dapat menyelamatkan mereka. > > Seperti kali sebelumnya, tidak ada jawaban positif dari dokter Yusfa > atas penyebab pendarahan yang keluar dari qubul Reni. "Hingga saat ini, > saya belum tahu pasti apa penyebabnya" jelas dokter Yusfa. > > Maka Reni dan suami pun kembali ke Bontang tanpa hasil memuaskan. > > Pendarahan hebat masih terus terjadi dari rahim Reni setiap hari. Reni > hanya bisa bersabar dan pasrah atas takdir yang telah Allah Swt > tetapkan pada dirinya. Pagi itu, Reni tengah berada di dapur untuk > membuat masakan ringan. Tiba-tiba terasa olehnya ada sesuatu yang tidak > beres di perutnya dan ia pun ingin pergi ke toilet. Rasa ingin buang > air itu seperti tak terkendali... Hingga Reni harus berlari sebab > khawatir ia tak kuasa menahannya. Atas izin Allah Swt ia kini sudah > berada di kamar mandi. Namun hanya pakaian luar saja yang sempat ia > buka, sedangkan pakaian dalam tak sempat ia tanggalkan. Rupanya ada > segumpal daging penuh darah yang keluar dari qubul Reni dan ternyata ia > tidak mau buang air. Segumpal daging penuh darah itulah rupanya yang > membuat Reni terdesak untuk buang air. > > Merasa aneh dengan segumpal daging itu, maka Reni mengambil sebuah > kantong plastik kecil dan memasukkannya ke dalam kantong tersebut. Reni > berpikir bahwa ia harus menanyakannya kepada dokter Yusfa tentang benda > aneh ini. > > Pagi itu adalah jadwal Reni berkonsultasi dengan dokter Yusfa. Ia > seperti biasa pergi ke Balikpapan didampingi oleh suaminya. Konsultasi > kali itu, seperti biasa tidak memberikan perkembangan ke arah positif > sama sekali. Hampir saja Reni putus asa dengan keadaan ini. Namun > tiba-tiba ia teringat akan kejadian aneh kemarin pagi. Lalu ia pun > merogohkan tangannya ke dalam tas dan mencari-cari plastik kecil berisi > segumpal daging penuh darah. Ia keluarkan plastik kecil itu dan ia > sodorkan kepada dokter Yusfa. Kejadian aneh kemarin pagi itu > diceritakan oleh Reni kepada dokter Yusfa. Dokter Yusfa menerima > plastik berisikan benda aneh itu. Dahinya berkerut tanda bahwa ia > berpikir keras tentang benda ini. Dan beliau pun berkata, "Ibu dan > bapak mohon tunggu sebentar di sini. Saya akan pergi ke laboratorium > untuk memeriksakan hal ini!" > > Saat dokter Yusfa pergi meninggalkan ruangannya, Reni dan suami hanya > berharap bahwa dokter Yusfa akan datang membawa sebuah berita gembira > untuk mereka. > > Kira-kira 20 menit kemudian dokter Yusfa datang sambil berlari. Ya > berlari, bukan berjalan! Begitu pintu terbuka dokter pun berteriak > dengan nada keras, "Alhamdulillah bu Reni.... Alhamdulillah....!!! Saya > baru mengerti rupanya pendarahan selama ini disebabkan kanker rahim > yang ibu alami... dan benda ini adalah kanker rahim tersebut. Cuma saya > hanya mau bertanya bagaimana cara kanker ini bisa gugur dengan > sendirinya...?!" > > Subhanalllah.... rupanya penyebab pendarahan hebat selama ini adalah > sebuah kanker yang tidak dapat terdeteksi. Pertanyaan terakhir dari > dokter Yusfa tak mampu dijawab langsung oleh Reni. Namun Reni hanya > mampu bersyukur kepada Allah bahwa akhirnya pertolongan itu datang juga > untuknya setelah penantian yang cukup lama. Akhirnya pendarahan pun > terhenti begitu saja, dan rupanya pertolongan Allah Swt tiba setelah > Reni bersedekah dengan sejumlah harta yang sudah ia cita-citakan. > > "Sembuhkan penyakit kalian dengan cara sedekah. Lindungi harta yang > kalian miliki dengan zakat." (HR. Baihaqi) > > Sedekah sungguh sebuah perkara yang mengagumkan. Apakah anda pernah > mengalaminya?! > > >
