asswrwb.

akhlak islami meminta kita bertabayyun ketika kita akan menilai seseorang,
teknis yg diajarkan ada 3 katanya:
1. Bermuamalah dengannya
2. Berpergian bersama dengannya
3. Bermalam di rumahnya...
bukannya ingin katakanlah membela orang yg memang dari sisi penampakan luar
terkesan lebih membela kepentingan asing. Tapi ada sedikit tulisan dari
Faisal Basri tentang Boediono yang menarik untuk disimak :
http://faisalbasri.kompasiana.com/2009/05/14/pak-boed-yang-saya-kenal/

Sisi lain Pak Boed yang saya kenal Oleh Faisal Basri

- 14  Mei   2009 -

Saya pertama kali mengenal Pak Boed pada akhir 1970-an  lewat  buku-bukunyan
yang enak dibaca, ringkas, dan padat. Pada akhir 1970-an.  Kalau tak salah,
  judul-judul bukunya selalu dialawali dengan kata  "sinopsis,"   ada  Sinopsis
 Makroekonomi, Sinopsis Mikroekonomi, Sinopsis Ekonomi
 Moneter,   dan Sinopsis   Ekonomi Internasional. Kita mendapatkan saripati
ilmu  ekonomi   dari buku-bukunya yang mudah dicerna.

 Pada suatu kesempatan,   Pak Boed mengutarakan pada saya niatnya   untuk
merevisi buku-bukunya itu. Mungkin ia berniat untuk   menulis lebih serius
sehingga bisa menghasilkan buku teks
 yang   lebih utuh. Kala itu saya menangkap keinginan kuat Pak Boed   untuk
kembali ke kampus dan
 menyisihkan   waktu lebih banyak menulis buku. Karena itu, ia tak
lagi  berminat
untuk kembali masuk ke pemerintahan setelah masa   tugasnya selesai sebagai
Menteri   Keuangan di bawah pemerintihan Ibu Megawati.   Pak Boed dan Pak
Djatun (Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Menko
Perekonomian) bekerja keras memulihkan stabilitas ekonomi  yang
"gonjang-ganjing" di bawah
pemerintahan Gus Dur. Hasilnya cukup mengesankan.  Pertumbuhan   ekonomi
mengalami peningkatan terus menerus. Di tengah  hingar   bingar masa
kampanye   seperti dewasa ini, Ibu Mega ditinggalkan oleh wapresnya,  dua
menko, dan seorang menteri (Agum Gumelar). Ternyata
perekonomian tak mengalami   gangguan   berarti. Kedua ekonom senior ini
bekerja keras mengawal
perekonomian. Hasilnya cukup menakjubkan, pertumbuhan  ekonomi   pada
triwulan keempat 2004
mencapai 6,65 persen, tertinggi sejak krisis hingga  sekarang.

Selama dua tahun pertama pemerintahan SBY-JK,  perekonomian   Indonesia
mengalami  kemunduran. Tatkala muncul gelagat  Pak SBY   hendak merombak
kabinet, sejumlah kawan mengajak Pak Boed   bertemu. Niat para kolega ini
adalah membujuk Pak Boed  agar   mau kembali masuk ke pemerintahan
seandainya   Pak SBY memintanya. Agar lebih afdhol, kolega-kolega saya  ini
  juga mengajak   Ibu Boed. Mungkin di benak mereka, Ibu bisa turut
luluh  dengan
  pengharapan
mereka. Akhirnya, Pak Boed menduduki jabatan Menko   Perekonomian. Mungkin
sahabat-sahabat saya itu masih   terngiang-ngiang sinyal penolakan Pak Boed
 dengan selalu mengatakan bahwa ia sudah cukup tua dan sekarang   giliran
yang  muda-muda untuk tampil. Memang, Pak Boed selalu memilih ekonom  muda
untuk  mendampinginya: Mas Anggito, Bung Ikhsan, Bung Chatib  Basri,
Mas Bambang Susantono, dan banyak lagi. Semua mereka lebih  atau jauh lebih
muda dari saya.
 Interaksi langsung terjadi ketika Pak Boed menjadi salah  seorang anggota
Dewan Ekonomi Nasional (DEN). Saya ketika itu anggota Tim Asistensi Ekonomi
Presiden (anggota lainnya adalah Pak Widjojo Nitisastro, Pak Alim Markus,
dan Ibu Sri Mulyani Indrawati). Ibu Sri Mulyani memiliki jabatan rangkap
(jadi bukan sekarang saja), selain sebagai anggota Tim Asistensi juga
menjadi sekretaris DEN. Pak
 Boed tak pernah mau menonjolkan diri, walau ia sempat jadi menteri pada
masa transisi. Sikap rendah hati itulah yang paling membekas pada saya.  Lebih
banyak mendengar ketimbang bicara. Kalau ditanya yang "nyerempet-nyerempet
," jawabannya cuma dengan  tersenyum.   Saya tak pernah dengar Pak Boed
menjelek-jelekkan orang lain, bahkan sekedar mengkritik sekalipun. Tak
berarti bahwa Pak Boed tidak tegas. Seorang sahabat yang membantunya di
kantor Menko Perekonomian bercerita pada saya ketegasan Pak  Boed ketika
hendak memutuskan nasib proyek monorel di Jakarta yang sampai sekarang
terkatung-katung. Suatu waktu menjelang lebaran, Pak Boed dan sejumlah staf
serta, kalau tak salah, Menteri Keuangan dipanggil  Wapres. Sebelum meluncur
 bertemu Wapres, Pak Boed wanti-wanti kepada seluruh stafnya agar kukuh pada
  pendirian berdasarkan hasil kajian yang mereka telah buat. Pak Boed sempat
bertanya kepada jajarannya, kira-kira begini: "Tak ada yang konflik
kepentingan, kan ? Ayo kita jalan, Bismillah ...
Keesokan harinya, saya membaca di media massa  bahwa  sekeluarnya dari ruang
pertemuan dengan Wapres,  semua mereka berwajah "cemberut" tanpa komentar
satu kata pun kepada wartawan. Adalah Pak Boed pula yang memulai tradisi tak
memberikan "amplop" kalau berurusan dengan DPR. Tentang  ini, saya dengar
sendiri perintahnya kepada Mas Anggito.
 Ada dua lagi, setidaknya, pengalaman langsung saya berjumpa dengan Pak
Boed. Pertama, satu pesawat dari Jakarta ke  Yogyakarta tatkala Pak Boed
masih Menteri Keuangan. Berbeda dengan pejabat pada umumnya, Pak Boed
dijemput oleh Ibu. Dari kejauhan saya melihat Ibu menyetir sendiri mobil tua
mereka.
 Kedua, saya dan isteri sekali waktu bertemu Pak Boed dan Ibu di Supermarket
dekat kediaman kami. Dengan santai, Pak Boed mendorong keranjang belanja.
Rasanya, hampir semua orang di sana  tak sadar bahwa si pendorong keranjang
itu adalah seorang Menko.
 Banyak lagi cerita lain yang saya dapatkan dari berbagai kalangan. Kemarin
di bandara Soekarno Hatta setidaknya dua orang (pramugara dan staf ruang
tunggu) bercerita pada saya pengalaman
 mengesankan mereka ketika bertemu Pak Boed. Seperti kebanyakan yang lain,
kesan paling mendalam keduanya adalah ikap rendah hati dan kesederhanaannya.
Dua hari lalu saya dapat cerita lain dari pensiunan pejabat tinggi BI. Ia
mengalami sendiri bagaimana Pak Boed memangkas berbagai  fasilitas yang
memang terkesan serba "wah."  Dengan tak banyak  cingcong, ia mencoret
banyak  item di senarai fasilitas. Kalau tak salah, Pak Boed juga menolak
mobil dinas baru BI sesuai standar yang berlaku sebelumnya. Entah apa yang
terjadi, jangan-jangan mobil para deputi dan deputi senior lebh mewah dari
mobil dinas gubernur.  Kalau mau tahu rumah pribadi Pak Boed di Jakarta,
datang saja ke kawasan Mampang Prapatan, dekat Hotel Citra II.
Kebetulan  kantor
kami,
Pergerakan  Indonesia , persis berbelakangan dengan rumah Pak Boed. Rumah  itu
tergolong   sederhana. Bung Ikhsan pernah bercerita pada saya, ia
menyaksikan sendiri kursi di rumah itu sudah banyak yang bolong dan lusuh.
Bagaimana sosok seperti itu dituduh sebagai antek-antek IMF,   simbol
Neoliberalisme yang bakal merugikan bangsa, dan  segala   tuduhan
miring  lainnya.
Lain kesempatan kita bahas tentang sikap dan falsafah ekonomi Pak Boed. Kali
ini saya hanya sanggup bercerita sisi lain dari  sosok Pak Boed  yang kian
terasa langka di negeri ini.

 Maju terus Pak Boed.



Pada 19 Mei 2009 00:41, khusnul hidayah <[email protected]> menulis:

>
>
> Buat mas Nizami, terimakasih atas artikelnya,mohon izin juga untuk dishare
> di blog n fb.
>
> Saya setuju tulisannya, politik Indonesia masih berpaku pada "politik
> pencitraan".  Masyarakat (terutama Jawa) masih lebih terpesona pada citra
> dan tampilan luar yang kalem,santun,dan kesannya bersahaja tanpa mau membuka
> mata tentang apa yg sudah dilakukan dan apa ideologinya. Ini juga mungkin yg
> menjadi alasan kenapa soeharto bisa bertahan 32 tahun lamanya.
> Semoga menjalang hari pilpres, orang semakin sadar dan kritis pada politik
> pencitraan yang dibangun SBY selama masa pemerintahannya. Trimakasih
>
>

Kirim email ke