BAB 1
Salam.
Wah2, orang FEUI lagi laris ya jadi perbincangan sekarang. Pak Fiz, Pak Faisal
dan sekarang bang dede (chatib basri).
Bagi saya neolib atau kerakyatan itu sesuatu yang abstrak.
Kenapa kita tidak mencoba berdiskusi di tataran kebijakan yang lebih riil?
Yang harusnya dipermasalahkan bukan apakah seseorang neolib atau kerakyatan
(itu memang masalah, tapi itu kan urusan masing2 orang), tapi kebijakan yang
diambilnya apakah berdampak positif atau negatif? tentunya hal ini juga harus
dinilai secara ilmiah dengan cost & benefit analysis (CBA) bukan
argumentasi ideologis semata.
Bahwa biaya sekolah murah, harga pangan terjangkau, pengelolaan SDA yang
memberikan manfaat bagi rakyat, BBM murah itu bagus semua juga tahu.
Masalahnya apa iya dengan menggratiskan sekolah masalah selesai? harus
dipikirkan juga kemampuan anggaran. apa iya dengan mensubsidi BBM tidak
menimbulkan masalah baru? harus dipikirkan juga konsumsi BBM kita yang
berlebihan selama ini dan tidak efisien. apa iya pengelolaan BUMN selama ini
sudah efisien? malah BUMN masa lalu adalah sarang korupsi yang cuma memberatkan
anggaran.
Permasalahan terjadi secara simultan dan bertubi2. Paling enak memang jadi
kritikus yang boleh2 saja memiliki perspektif sempit. Hanya tau bahwa harga BBM
tidak boleh naik, tapi kalo ga naik terus pemerintah nambah utang marah2 juga.
Pemerintah harus memikirkan semua aspek. Permasalahan begitu kompleks, rumit.
Sementara keputusan harus dibuat. Setidaknya tunjukkan respek kita pada
pengambil kebijakan dengan memberikan kritik yang membangun. Memberikan solusi.
Di FEUI ada anekdot, “lulusan FEUI paling sial jadi menteri”. Lalu Sri Mulyani
bilang, ternyata memang betul2 sial. Sudah kerjanya berat, dimarahin orang
mulu.
Semakin membaca milis ini saya jadi semakin menyadari bahwa
sebenarnya kita, ekonom muslim, pun tidak memiliki solusi atas permasalahan
yang terjadi. perdebatan yang terjadi berputar2 di tataran ideologis yang tidak
jelas juntrungannya.
Memangnya apa sih neolib itu? apa sih ekonomi kerakyatan itu?
apa ukuran2nya hingga sesuatu disebut neolib atau kerakyatan?
apakah kerakyatan itu seperti chavez yang populer itu? atau seperti negara2
arab yang membayar pengangguran? semuanya mesti gratis dengan dibiayai SDA?
berapa lama mereka bisa bertahan? apa jadinya mereka kalau minyaknya habis?
mati.
pola2 pembangunan yang tidak sustainable tidak bisa dibenarkan.
Lalu jadi harus apa? saya juga tidak tahu. kalau tahu sih sudah jadi menteri.
cuma ingin mengusulkan agar diusahakan memberikan iklim ilmiah dalam diskusi di
milis ini ke depannya.
salam
Kritik terbesar terhadap liberalisme adalah ketidakliberalan-nya itu sendiri.
Mereka terkungkung dengan logika bahwa segala sesuatu itu harus liberal dan
bebas nilai dan menafikan bahwa terdapat kemungkinan di luar itu.