Assalamu'alaykum,

Memang betul, daripada meributkan orang ini pake konsep atau orang itu pakai 
konsep itu. Akan lebih baik untuk menjelaskan konsep yang terbaik?  Bukankah 
itu salah satu tujuan MES, membumikan ekonomi syariah.
Mengenai menteri yang dimarahi atau diomeli, ya mungkin karena saking sayang 
pak jadi sering di omeli...


Wassalam
Andri badrudin 
Sent from my mobile

-----Original Message-----
From: "Dr. Iwan P. Pontjowinoto" <[email protected]>

Date: Fri, 29 May 2009 11:31:25 
To: <[email protected]>
Subject: Re: [ekonomi-syariah] Daripada 'neolib2 terus' mending kita ajukan 
        konsep Ekonomi Islam


Ass.ww.

Rekan2 sekalian, sy sangat setuju dengan pendapat mas Rachmad Satriotomo.

Daripada membahas masalah NeoLib atau konsep2 lain yg tidak kita setujui,
kenapa kita nggak ajukan Konsep Ekonomi Islami lengkap dengan kebijakan dan
implementasi kebijakan yang sesuai dan relevan dgn situasi dan kondisi
Indonesia.

Saya yakin sekali bahwa ketiga pasangan Capres-Cawapres pasti mau mendengar
usulan kita.
Dan Tim Sukses mereka pasti akan mengkaji usulan kita.
Nggak usah jadi Menteri dekh, nanti bisa 'sial' spt Bu Ani >> "udah kerja
keras, diomelin melulu"
Kita khan yakin bhw Allah Maha Mengetahui, Maha Adil dan Maha Kuasa.
Jadi kalau yg kita usulkan sesuai dengan ajaran agama Islam dan bermanfaat
bagi ummat dan bagi Indonesia,
Pasti Allah SWT akan membukakan jalan . . . Insya Allah.

Wassalam,
2009/5/28 Rachmad Satriotomo <[email protected]>

>
>
>    Salam.
>
> Wah2, orang FEUI lagi laris ya jadi perbincangan sekarang. Pak Fiz, Pak
> Faisal dan sekarang bang dede (chatib basri).
>
> Bagi saya neolib atau kerakyatan itu sesuatu yang abstrak.
> Kenapa kita tidak mencoba berdiskusi di tataran kebijakan yang lebih riil?
> Yang harusnya dipermasalahkan bukan apakah seseorang neolib atau kerakyatan
> (itu memang masalah, tapi itu kan urusan masing2 orang), tapi kebijakan yang
> diambilnya apakah berdampak positif atau negatif? tentunya hal ini juga
> harus dinilai secara ilmiah dengan cost & benefit analysis (CBA) bukan
> argumentasi ideologis semata.
>
> Bahwa biaya sekolah murah, harga pangan terjangkau, pengelolaan SDA yang
> memberikan manfaat bagi rakyat, BBM  murah itu bagus semua juga tahu.
> Masalahnya apa iya dengan menggratiskan sekolah masalah selesai? harus
> dipikirkan juga kemampuan anggaran. apa iya dengan mensubsidi BBM tidak
> menimbulkan masalah baru? harus dipikirkan juga konsumsi BBM kita yang
> berlebihan selama ini dan tidak efisien. apa iya pengelolaan BUMN selama ini
> sudah efisien? malah BUMN masa lalu adalah sarang korupsi yang cuma
> memberatkan anggaran.
>
> Permasalahan terjadi secara simultan dan bertubi2. Paling enak memang jadi
> kritikus yang boleh2 saja memiliki perspektif sempit. Hanya tau bahwa harga
> BBM tidak boleh naik, tapi kalo ga naik terus pemerintah nambah utang marah2
> juga. Pemerintah harus memikirkan semua aspek. Permasalahan begitu kompleks,
> rumit. Sementara keputusan harus dibuat. Setidaknya tunjukkan respek kita
> pada pengambil kebijakan dengan memberikan kritik yang membangun. Memberikan
> solusi. Di FEUI ada anekdot, “lulusan FEUI paling sial jadi menteri”. Lalu
> Sri Mulyani bilang, ternyata memang betul2 sial. Sudah kerjanya berat,
> dimarahin orang mulu.
>
>
>
> Semakin membaca milis ini saya jadi semakin menyadari bahwa sebenarnya
> kita, ekonom muslim, pun tidak memiliki solusi atas permasalahan yang
> terjadi. perdebatan yang terjadi berputar2 di tataran ideologis yang tidak
> jelas juntrungannya.
> Memangnya apa sih neolib itu? apa sih ekonomi kerakyatan itu?
> apa ukuran2nya hingga sesuatu disebut neolib atau kerakyatan?
> apakah kerakyatan itu seperti chavez yang populer itu? atau seperti negara2
> arab yang membayar pengangguran? semuanya mesti gratis dengan dibiayai SDA?
> berapa lama mereka bisa bertahan? apa jadinya mereka kalau minyaknya habis?
> mati.
> pola2 pembangunan yang tidak sustainable tidak bisa dibenarkan.
>
> Lalu jadi harus apa? saya juga tidak tahu. kalau tahu sih sudah jadi
> menteri.
> cuma ingin mengusulkan agar diusahakan memberikan iklim ilmiah dalam
> diskusi di milis ini ke depannya.
>
>
> salam
>
>
> Kritik terbesar terhadap liberalisme adalah ketidakliberalan-nya itu
> sendiri. Mereka terkungkung dengan logika bahwa segala sesuatu itu harus
> liberal dan bebas nilai dan menafikan bahwa terdapat kemungkinan di luar
> itu.
>
> 
>



-- 
Iwan P. Pontjowinoto
(62-811) 92 1954

ZAP Finance
Menara Karya 28th Floor
Jl. H.R. Rasuna Said Blok X-5 Kav. 1-2, Jakarta 12950
Telp      : (62-21) 5789 5505, Fax       : (62-21) 5789 5888
Website: www.zapfin.com

Kirim email ke